By. Dede Atmadja
Menjelang akhir tahun 2012, saya diberi kesempatan untuk mengalami penyertaan Tuhan melalui misi kunjungan ke Papua.A�Agak sedikit ragu ketika saya diajak untuk melakukan kunjungan misi ke wilayah yang tidak ada signal HP, televisi, listrik, air bersih dan jauh dari suasana kehidupan perkotaan.

Berangkat dari Jakarta menuju Timika suasana terlihat normal. Ketika masuk wilayah airport yang menuju Pogappa, area tunggu sangat berbeda dengan suasana ruang tunggu airport lazimnya. Lantai dari tanah merah, ruang terbuka dengan cuaca panas, penumpang yang naik pesawat harus di timbang, penduduk asli dengan baju seadanya tanpa alas kaki, itulah pemandangan yang terlihat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pesawat Terbang dengan satu baling-baling

Penerbangan dengan pesawat kecil 1 baling-baling yang hanya berdaya angkut 1000 kg, jumlah penumpang termasuk barang dihitung dari kapasitas daya angkut pesawat.A�Kami terbang menuju Pogappa dan mendarat di area pegunungan terjal yang berlandaskan tanah merah datar dan dikelilingi bukit.A�Penduduk asli langsung berkerumun begitu pesawat mendarat. Tidak banyak yang bisa berbahasa Indonesia. Kami diterima dengan hangat oleh John Cutt, missionaris asal Amerika yang mengabdikan seluruh dihidupnya di tanah Papua.
Cukup terharu dengan sambutan penginjil lokal yang tidak terpikir kami bisa bertemu di tempat terpencil seperti itu.
OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA
Selama di Pogappa, tim kami mengadakan kegiatan KKR, pengobatan gratis, dan kunjungan ke tempat ibadah desa tetangga (Janogo).A�Saya sempat menjadi petugas pengobatan gratis dibagian penerimaan pasien. Kondisi mereka sungguh menyedihkan. Untuk dapat pergi ke puskesmas terdekat, mereka harus berjalan sehari semalam itupun belum tentu ada dokter. Ada yang luka kena panah, disentri, dan lain sebagainya. Semua pasien yang datang tidak memakai alas kaki dengan kondisi kulit yang penuh luka dan dikerumuni lalat. Kami didampingi oleh seorang penerjemah karena hampir semua pasien tidak bisa bahasa Indonesia.
Penduduk yang sedang ditimbang berat badannya

Penduduk yang sedang ditimbang berat badannya

Saat berkunjung ke desa tetangga, ada penduduk yang tangannya luka parah kena parang beberapa hari sebelumnya dan perlu dijahit, saat itu langsung diputuskan untuk dibawa ke dokter yang ikut bersama tim rombongan kami. Kami sempat bertanya kira-kira apa solusinya bila tidak dibawa ke dokter? Jawabannya cukup mengejutkan yaitu mereka akan potong tangannya sendiri dan bagi penduduk hal itu sudah biasa. Sungguh menyedihkan.

Hanya beberapa malam di Pogappa dan kami terbang ke Timika. Kami A�menginap 1 malam dan langsung balik ke Jakarta.A�Banyak hal yang kami alami dan terlalu banyak yang harus di ceritakan. Melalui pengalaman perjalanan maupun orang-orang yang kami temui langsung di lapangan dan kesaksian penduduk lokal, semua itu membuka mata hati dan rohani kita bahwa ada sesuatu di luar zona nyaman kita sehari-hari yang membutuhkan perhatian kita semua. Bukan hanya materi, mereka juga kekeringan rohani. A�Sering kali kita merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Padahal jauh disana ada begitu banyak tangan yang terulur menantikan pertolongan dan kasih. A�Mereka membutuhkan kita. Bersediakah kita menjadi saluran berkat bagi mereka?
Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
A�Matius 25:40