By Fillia Subrata

Sebuah perjalanan iman yang sangat berat ketika saya harus menghadapi kenyataan menjadi single parent alias ‘husbandless‘ dengan 2 anak balita. Tuhan memanggil pulang suami saya, Yuddy,  pada tanggal 7 Juni 2015 karena serangan jantung. Desember ini adalah Natal pertama yang saya rayakan tanpa kehadiran suami. Semua ini tidaklah mudah dijalani, namun anugrah Tuhan tetap menyertai kami.

20 Desember 2015, kami menghadiri reunian PERSPEKTIF, komisi pemuda dewasa yang telah lama dibubarkan. Saya dan suami dipertemukan di komisi pemuda ini hingga akhirnya kami menikah. Meski persekutuan ini telah tiada, kami masih berkumpul setahun sekali untuk merayakan Natal. Kebersamaan  ini tidaklah hilang meskipun persekutuan ini telah tiada dan banyak diantara kami yang telah menikah.

IMG-20151220-WA0026

Hati saya sedih ketika melihat teman kami, Hendra menyuapi anaknya, Naomi, saat makan siang dan Andres yang menggandeng Orline di reunian itu. Ya.. kini tiada suami yang mengasuh anak-anak. Usai pertemuan itu, anak saya berkata, “Mami, aku mau punya papi”. Rasanya sedih dan hancur hati ini mendengar ungkapan itu. Kemudian saya menghibur dia dengan mengatakan, “Kan masih ada Mami, Oma, Opa, Dede, Mba, Cici Marry Ann (keponakan saya), Ie ie, dan Om Robi”. Kemudian Claire kembali ceria. Puji Tuhan, Claire adalah anak yang ceria, sehingga dia cukup mudah melupakan kesedihannya. Dan saya percaya bahwa itupun adalah pekerjaan Tuhan.

Hampir saya terjebak dalam ratapan sepanjang hari. Ada banyak hal yang tidak dapat kita mengerti mengapakah harus terjadi dalam hidup ini. Mengapakah Tuhan mengambil suamiku sedangkan kedua anakku masih begitu kecil dan membutuhkan sosok ayah. Saya tidak menemukan jawaban apapun. Tetapi saya sadar bahwa saya dapat memilih untuk terus meratap ataukah memilih untuk tetap percaya dan bersyukur. Respon kita akan menentukan berat ringannya hari-hari yang akan  kita jalani.

Ketika saya berdoa, Tuhan mengingatkan bahwa 25 Desember adalah hari ulang tahun Sang Penebus. Itu sebabnya saya memilih untuk tetap bersukacita dan menghitung berkat-Nya yang tiada batas. Aku mengucap syukur karena Dia telah lahir dan mati untuk kita semua, orang berdosa. Hadiah Natal terbaik yang kita dapatkan adalah jaminan hidup yang kekal. Ya, Tuhan mengubah ratapanku menjadi tarian. Thank you, Prince of peace,

IMG-20151229-WA0010