byA�Olivia
1 Samuel 17, Daud dan Goliat

Apakah yang ada dibenak kita ketika mendengar kisah Daud dan Goliat? Kisah ini sering kali diidentikkan dengan mujizat dan kehebatan Tuhan yang secara instant membuat si kecilA�yangA�lemahA�bisa mengalahkan diaA�yang besar dan tak terkalahkan. Memang benar bahwa bisa mujizat terjadi, tapi apakah benar pada saat itu Daud tidak memiliki kekuatan apapun?

Dari sebuah buku oleh Malcom Galdwell, David and Goliat, memaparkan pendangan yang berbeda dan cukup menarik. Ia mengatakan bahwa sebenarnya Daud maju berperang dengan beragam kelebihan, dan Goliat tanpa kita sadari menunjukkan berbagai kelemahan.

Beginilah penjelasan Galdwell,

Tahukah anda, pada zaman tersebut, para prajurit akan dibagi menjadi 3 bagian; Kavaleri-prajurit bersenjata di atas kuda atau kereta, Infanteri-prajurit pejalan kaki, yang berzirah membawa perisai, dan menyerang melalui pedang, dan terakhir, Proyektil atau sekarang dikenal sebagai Artileri, yang merupakan pemanah dan pelontar batu handal.

Goliat adalah petarung Infanteri yang bergerak mengandalkan tubuhnya sendiri dan menghunus pedang, tapi dari posturnya telah terlihat, ia raksasa bertubuh besar, dan disitulah kerugiannya. Dengan tubuhnya yang berat, ia tidak dapat bergerak dengan gesit, dan seluruh baju zirah membuatnya semakin sulit bergerak. Juga diperkirakan, dari kondisi badannya yang bertumbuh melebihi manusia normal, Goliat dideteksi mengidap Akromegali akibat tumor jinak. Hal ini dapat menyebabkan kelebihan hormon pertumbuhan dan masalah penglihatan pada Goliat.

Terkejut? Mari kita bedah kesimpulan ini.

Saat Goliat maju ke depan, Ia ditemani prajurit pembawa tameng, buat apa? Dia mampu membawa tameng itu sendiri. Banyak penggali Alkitab mencari tahu. Ternyata di masa perang, hanya pasukan Artileri yang ditemani pembawa tameng, untuk menangkis serangan musuh, di saat pasukan tersebut fokus melemparkan batu2 dan panahnya. Maka itu keganjilan pertama dari Goliat yang seorang Infanteri.

Keganjilan lainnya adalah, saat Goliat mengatakan, “Hadapilah aku…”. Ia tidak langsung bergerak pertama menghampiri lawan, tapi memancing lawan untuk mendekatinya, mengapa? Apakah untuk mencapai jarak pandangnya? Hingga ia pun harus maju mendekati Daud, lihatlah pada ayat 48. Satu lagi, saat Goliat menanggapi Daud dengan berkata, “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” dalam terjemahan bahasa Inggris, tertulis ‘Sticks’ dalam bentuk jamak, padahal Daud hanya membawa satu tongkat, bukan banyak.

Keganjilan-keganjilan tersebut, membuat kita melihat, bahwa penjelasan kelainan Akromegali lebih masuk akal, dan itulah titik lemah Goliat, dan Daud hanya memanfaatkannya. Lawannya yang terlihat sulit bergerak dan sulit melihat.

Goliat yang besar, dan Daud yang berperawakan kecil, bukan penghalang, tapi kelebihan.

Tak hanya dari sisi Goliat, Galdwell juga menjelaskan kelebihan Daud dalam cerita ini. Ketika Saul menawarkan baju zirah untuk Daud, tapi ia menolak tawaran baju zirah milik Saul, yang dapat memberatkannya di saat perang. Ia memilih menggunakan badannya yang kecilA�dan gesit.

Satu hal kelebihan Daud juga terlihat dari senjatanya. Daud adalah gembala yang sering membunuh singa dan beruang pemakan domba-dombanya, dengan hanya menggunakan pelontar batu atau ketapel. Bayangkan pemburuan melawan kegesitan lari singa. Jelas! Daud pelontar batu terlatih. Itu sebabnya ia menggunakan batu dan ketapel, salah satu keahliannya, untuk melawan Goliat.

ApakahA�semua ini hanya kebetulan? ataukah Tuhan telah mempersiapkan keadaan ini dariA�awal kehidupan Daud dan Goliat?

Teman-teman, kita lihat dari sudut yang berbeda ini. Galdwell percaya akan mujizat Tuhan, tapi ia pun tahu, Tuhan adalah Maha Kuasa dan rencana-Nya tak terselami. Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan sebagian dari itu bahkan tidak kita kehendaki. Memiliki tubuh kecil, hidup hanya sebagai penggembala domba, belum lagi, harus berurusan dengan singa dan beruang yang ingin memangsa domba-domba yang dia jaga.

Sesungguhnya tidak ada sejengkalpun di dalam hidup kita yang sia-sia. Apa yang kita anggap sebagai kekurangan dan kelemahan di dalam diri kita, bisa jadi sesungguhnya adalah sebuah kekuatan. Bahkan hal sepele yang sering kali diremehkan oleh orang lain, sering kali justru adalah bagian dari rancangan Tuhan yang indah. Sama seperti Daud yang dilatih bertahun-tahun sebagai gembala yang menjaga domba dan tidak dipandang oleh orang lain, demikianlah Tuhan mempersiapkan kita melalui hal-hal yang sederhana dalam keseharian kita. Yang Tuhan minta adalah, kita setia dalam perkara kecil maka kita akan siap ketika moment besar itu datang.

Ingat, dalam kekekalan Tuhan memiliki rancangan besar yang tidak kita ketahui apalagi mengerti. Tuhan tahu dan berkuasa untuk menyiapkan kita, untuk hal besar yang telah menanti kita. Mungkin kita tidak sampai melawan raksasa, namun kita adalah detail penting dari rancangan Tuhan yang besar, yang telah ditetapkan sejak kita di dalam kandungan. Mujizat tidak terjadi dalam sekejap mata. Sesungguhnya mujizat telah dimulai pada saat kita setia dalam perkara kecil yang Tuhan percayakan untuk kita kerjakan.

 

“We never see the beauty of the sky and the hill on top of the mountain,

if we never finish the journey ofA�climbing it”