Menjelang Tahun baru Imlek, kita akan dibanjiri informasi tentang ramalan peruntungan di tahun baru, Tahun Ayam. Para pakar Hong Sui akan memaparkan peruntungan dan siapa saja yang hoki ataupun ciong di tahun ayam. Bagaimanakah seharusnya orang Tionghua Kristen bersikap? Sekalipun orang kristen sudah tahu bahwa dia tidak boleh percaya ramalan, tetapi dimana penjelasan logisnya? Mengapa tidak boleh?

  1. Ramalan membuat orang cenderung menjadi malas.

Kalau sudah tahu bahwa dia akan hoki di tahun itu, maka di akan santai saja karena dia berpikir rejeki akan datang dengan mudah. Jika ciong atau kurang beruntung, ya untuk untuk apa berusaha? Nanti hasilnya juga buruk. Jadi mau apapun hasil ramalan, intinya semua sudah ditakdirkan, jadi untuk apa usaha keras?

  1. Ramalan membuat orang menjadi paranoid.

Kalau dikatakan akan ciong atau tidak hoki, lalu orang akan malas untuk keluar rumah, berpergian, ataupun memulai sesuatu yang baru. Lebih jauh lagi, karena percaya bahwa shio tertentu itu berbahaya, misal Shio Macan yang katanya bisa makan orang, maka kita akan cenderung menjauhi orang tersebut. Saya kenal seseorang yang baik sekali, tetapi tidak menikah karena banyak keluarga pria yang takut mengambil menantu Shio Macan, katanya takut dimakan. Padahal wanita ini sama sekali tidak galak, bahkan hatinya baik. Sesungguhnya itu tidak adil bagi dia. Siapa yang dapat memilih lahir ditahun tertentu? Lalu mengapa dia ditakuti untuk sesuatu yang dia tidak bisa memilih?

  1. Ramalan membuat kita tidak bergantung kepada Tuhan.

Jika hoki ya karena sudah dari sananya, kalau sial, bisa tolak bala. Lalu dimanakah posisi Tuhan?  Orang yang percaya pada ramalan akan sibuk berusaha mengatahui nasibnya dari ramalan. Sibuk melakukan ini itu agar dapat menjadi hoki.  Orang menjadi lupa kepada siapa seharusnya dia menggantungkan hidupnya. Bukan memikirkan bagaimana kita berkarya dan menyenangkan hati Tuhan, tetapi malahan sibuk untuk mencari keberuntungan lewat ramalan.

Apa kata Alkitab tentang ramalan?

Imamat 19:31. Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau rah-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.

Imamat 20:6. Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri yang menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya.

 

Ternyata bagi Allah, jika kita bertanya pada peramal itu sama saja dengan berzinah atau menyembah berhala. Mengapa demikian? Karena kita berhenti mengandalkan Tuhan, dan beralih mengandalkan peramal. Kita tidak lagi menggantungkan hidup kita kepada Tuhan, tetapi pada semua nasehat peramal. Kita membiarkan pikiran dan hati kita dikuasai oleh ramalan. Itu mendukakan hati Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri akan menentang orang yang demikian.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/7b/d8/dd/7bd8dd69f2126601c8d1956de93588a1.jpg

Kita tidak perlu mengetahui masa depan, karena kita percaya bahwa masa depan kita ada di tangan Tuhan.  Demikianlah kita belajar mempercayai pinpinan Tuhan dari hari ke hari. Jika ada hal yang baik yang terjadi, puji Tuhan atas anugerah-Nya. Jika Tuhan ijinkan hal yang buruk terjadi, itu pasti tidak melebihi batas kekuatan kita. Ingatlah, bahwa hal yang buruk sekalipun pasti akan mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Ambilah contoh kisah Yusuf. Jika dia menolak bala, tidak mau dijual ke Mesir sebagai budak, tidak mau bekerja di rumah Potifar, dan masuk penjara, bagaimana mungkin dia bisa menjadi tangan kanan Firaun? Bukankah hal-hal buruk itulah yang mengantarkan dia ke puncak kejayaan?

Jika demikian, mengapa kita harus takut? Mengapa kita perlu mengetahui tentang masa depan? Percayalah  bahwa masa depan kita dipegang oleh tangan yang kekal yang mengasihi kita. Daripada kita kepo ingin tahu tentang masa depan, bujankah lebih penting kita meminta hikmat kepada Tuhan bagaimana harus bersikap pada setiap kejadian yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita. 

Dalam kisah Ayub, keputusan Tuhan untuk mengijinkan iblis mengambil harta, keluarga dan harta Ayub adalah sesuatu yang tidak dapat dibatalkan. Tujuan Tuhan adalah agar Ayub semakin mengenal Allah. Kapankan penderitaan itu berakhir? Bukan pada saat Ayub mandi kembang untuk mengusir sial, tetapi pada saat Ayub semakin mengalami Allah, menyesal pada semua perkataannya. Pada saat itulah Tuhan mengembalikan kekayaan Ayub berlipat ganda. 

Berbeda kisah dengan Raja Uzia yang mengawali pemerintahannya dengan benar namun mengakhirnya dengan salah. Ketika dia mencari Tuhan dan malkukan yang benar, Tuhan membuat dia kerajaannya kuat dan termasyur sampai ke Mesir. Namun setelah dia berada di puncak kejayaannya dia melakukan kesalahan yang fatal.

  2 Tawarikh 26:16, 19 (TB)  Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. 

Tetapi Uzia, dengan bokor ukupan di tangannya untuk dibakar menjadi marah. Sementara amarahnya meluap terhadap para imam, timbullah penyakit kusta pada dahinya di hadapan para imam di rumah TUHAN, dekat mezbah pembakaran ukupan. 

Demikianpula denga  kehidupan kita, baik penderitaan maupun kejayaan adalah ujian bagi kita. Jika kita berespon dengan benar, maka kita akan ‘hoki’, namun jika kita berespon dengan salah itu bisa ‘sial/ciong’. Jadi, inilah yang  terpenting, yaitu setiap hari kita dekat dengan Tuhan agar kita tahu bagaimanakan kita harus menyikapi hal baik maupun hal buruk yang Tuhan ijinkan terjadi. 

Alkitab tidak pernah mengajarkan kita bahwa tujuan hidup kita adalah untuk makmur. Tujuan hidup kita adalah untuk  menyenangkan hati Tuhan dan menikmati-Nya selama-lamanya. Itulah yang harus kita ingat. Bahwa lebih penting kita hidup semakin dibentuk serupa Kristus daripada sekedar menjadi sukses di mata dunia.Mengapa? karena karakter itu lebih kekal adanya daripada kekayaan yang dapat datang dan pergi. Tunggu, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya. Tentu saja boleh. Tetapi itu bukan tujuan utama kita. Kekayaan adalah titipan Tuhan untuk kita kelola bagi kemuliaan-Nya. Kita harus memakai uang dengan bijak dan mengembangkannya untuk dapat menjadi berkat bagi sesama. Ingatlah, bahwa kekayaan bukan menjadi tujuan utama dalam hidup ini.

 

Jika Tuhan berkenan. Tuhan pasti akan memberkati segala usaha kita dan menitipkan kekayaan kepada kita untuk kita kelola. Sumber kekayaan adalah dari Tuhan, bukan dari apa kata ramalan, dan bukan juga dari berbagai ritual agamawis. Ketika kita bersedia dibentuk Tuhan untuk semakin menjadi penatalayan keuangan yang baik, percayalah bahwa Tuhan akan mempercayakan kekayaan itu kepada kita dengan tujuan-Nya yang mulia. Sama seperti Yusuf yang dipercayakan jabatan tangan kanan Firaun pada saat dia sudah mampu dipercayakan jabatan itu.

 

Ketika kita percaya bahwa Tuhan adalah sumber rejeki,tidaklah berarti kita menjadi pasif dan tidak berusaha. Berdoa sepanjang hari tidak akan membuat kita menjadi kenyang. Kita tetap harus bekerja dan berusaha. Ingatlah semoyan a�?Ora et Laboraa�? yang berarti berdoa dan bekerja. Kita tidak dapat memilih salah satu. Bekerja tanpa hati yang berpaut pada Tuhan akan membuahkan hasil yang minim, karena kta memakai hikmat kita sendiri. Paulus berkata yang tidak bekerja tidak boleh makan. Jangan berharap menjadi kaya hanya dengan berdoa.

 

Memasuki Tahun Baru Imlek, apapun kata peramal atau peruntungan, sebagai anak-anak Allah, janganlah dijadikan pedoman. Seharusnya hati dan mata kita teruju pada Tuhan semata, bukan ramalan. Dengan demikian hati kita tidak bercabang. Ingatlah, lebih baik kita hidup menyenangkan hati Sang pemberi kehidupan daripada mendukakan-Nya. Mengapa? Sebab segala sesuatu ditentukan oleh-Nya bukan oleh peramal. Jangan takut mengenai masa depan. Karena masa depan kita di pegang oleh Tuhan. Berjalanlah dengan iman, dengan hati yang damai karena kita tahu bahwa apapun yang terjadi, kita tidak pernah berjalan sendirian.

Selamat Menyambut Tahun Baru Imlek.
By. Vonny Thay