PENGHARAPAN YANG SEJATI DAN KELUARGA KRISTEN

Oleh: GI Emanuel Cahyanto
 

Dalam artiket yang ia tulis di majalah Monitor on Psychology Vol. 44 No. 9 (2013), halaman 42, Kirsten Weir menerangkan bahwa harapan dapat dimiliki oleh semua orang, dan harapan memampukan seseorang untuk bertahan, bahkan mengatasi tantangan dalam masa-masa sulit di hidupnya. Tidak dapat disangkal, harapan yang dapat menjadi sebuah motivasi penggerak kehidupan untuk mencapai sasaran tertentu adalah elemen yang penting bagi setiap individu manusia. Meskipun demikian, apa yang menjadi harapan belum tentu tewujud. Misalnya, seorang pebisnis berharap, a�?Tahun depan kami akan meraih pangsa pasar tiga puluh persen.a�? Apakah yang ia harapkan pasti terwujud? Belum tentu. Tidak semua harapan akan menjadi sebuah kenyataan. Pertama, hal itu mungkin disebabkan oleh harapan yang tidak realistis. Harapan yang tidak realistis dapat digambarkan oleh peribahasa populer: a�?Bagai pungguk merindukan bulana�? (http://www.kamusperibahasa.com/).

Kedua, di dalam dunia ini ada banyak faktor yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi, dikelola, dan dipahami. Selalu ada elemen a�?kejutana�? yang dapat memorak-porandakan harapan, meskipun telah diiringi oleh perencanaan dan eksekusi yang matang terhadap strategi yang disusun sebelumnya.

Ketiga, harapan itu digantungkan pada aspek-aspek tertentu, misalnya harta, kuasa, keahlian pribadi, atau koneksi, yang sebenarnya tidak dapat diandalkan seutuhnya, karena sifat dari setiap aspek itu tidak ajek, tidak a�?serba bisaa�?, dan sementara saja. Segala harta dan kekayaan, pengaruh, kapabilitas individu, maupun jaringan dalam bentuk relasi antarpribadi dapat sirna begitu saja, tanpa dapat dicegah.

Jadi, seindah dan sematang apapun harapan dipupuk oleh manusia, lalu seapik apapun usaha orang untuk meraihnya, harapan yang manusiawi belum tentu tercapai. Sebagai akibatnya, kekecewaan, kegelisahan, atau perilaku yang tidak adaptif dapat dialami oleh seseorang yang gagal dalam mencapai harapannya.

Berbeda dengan harapan yang manusiawi, maka harapan Kristiani adalah harapan yang teguh. Seperti diuraikan oleh Pdt. Gunung Maston dalam Kebaktian Umum di GKY Sunter tanggal 22 Januari 2017, harapan Kristiani bagaikan sebuah sauh yang a�?tertambata�? pada karya Kristus (Ibrani 6:19). Sang Mesias yang lahir di Betlehem itu memberikan pengharapan yang pasti, oleh karena karya-Nya di kayu salib secara sempurna menebus manusia dari jerat dosa. Kepastian akan pengharapan di dalam Kristus dinyatakan dengan gamblang oleh Paulus, a�?Kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kitaa�? (Roma 8:37). Mengapa Paulus menuliskan kalimat itu? Sebab, Kristus, Sang Pemenang, pasti memberikan kemenangan kepada mereka yang percaya kepada nama-Nya (1 Korintus 15:57). Di dalam Kristus, keselamatan kekal adalah suatu kepastian, sebagaimana Dia sendiri berjanji, a�?Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanyaa�? (Yohanes 10:28).

Kemudian, Kristus juga berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan murid-murid-Nya sendirian dalam menempuh setiap fase kehidupan, sebab a�?Allah di pihak kitaa�? (Roma 8:31). Tidak pernah sejengkal pun kita berada di luar dari kasih Kristus (Roma 8:38-39), bahkan Dia sendiri akan mengerjakan hal-hal yang berakhir pada kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Penulis meyakini bahwa selama waktu untuk hidup di bumi ini masih berdetak, maka para murid Kristus dapat merasakan kebaikan Tuhan (Mazmur 27:13), dan mengalami sukacita yang melampaui realita (Filipi 4:4). Namun, ketika masa hidup di dunia berakhir, setiap pengikut Kristus akan menikmati sukacita dan kegirangan yang jauh lebih besar (Lukas 16:19-31, Filipi 1:23, Wahyu 19:6-9). Dengan demikian, di dalam Kristus sungguh-sungguh ada rancangan damai sejahtera, dan hari depan yang penuh dengan harapan (Yeremia 29:11). Bermodalkan kesadaran seperti tertulis di atas, semestinya kita dapat menguasai perasaan kecewa, gelisah, atau marah saat ada harapan yang tidak terwujud. Ingatlah, Kristus menjanjikan kekuatan agar kita dapat menanggung berbagai macam tantangan dan kesulitan hidup (1 Korintus 10:13). Di dalam Kristus tidak ada putus asa. Pengharapan di dalam nama Yesus Kristus adalah amin, dan berlaku untuk a�?kini dan disinia�?, maupun a�?nanti di surga yang muliaa�?.

Oleh sebab itu, jelas bahwa pengharapan di dalam Kristus sangat penting untuk dimiliki oleh manusia. Lalu, hendaknya kita berupaya agar pengharapan itu diterima oleh diri sendiri, dan orang-orang lain di sekeliling kita. Dalam kaitan itulah, keluarga menjadi sebuah konteks yang ideal untuk memperkenalkan, mengembangkan, dan membagikan harapan di dalam Kristus.

Keluarga merupakan institusi pertama yang diprakarsai oleh Allah sendiri sejak penciptaan alam semesta berikut segala isinya (Kejadian 1:26-28, 2:22-24, Matius 19: 4-6). Allah yang maha tahu, dan bijaksana mengaitkan rencana kekal, termasuk rancangan keselamatan-Nya, kepada keluarga (Kejadian 1:26-28). Jadi, keberadaan keluarga sangat penting dalam rencana dan kehendak Allah, maka Sang Khalik pun memberikan berkat sebagai tanda perkenanan (Kejadian 1:28), dan Dia melimpahkan kasih karunia di tengah-tengah kehidupan rumah tangga (1 Petrus 3:7). Oleh sebab itu, yang perlu dilakukan oleh setiap keluarga Kristen adalah memberikan respons yang tepat terhadap segala berkat dan anugerah yang Dia curahkan. Respons yang semestinya diusahakan oleh masing-masing keluarga Kristen akan diuraikan dalam beberapa bagian di bawah ini.

Pertama, menghadirkan kasih yang bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga dalam tindakan (1 Yohanes 3:18). Secara alamiah, semua manusia dengan kondisi jiwa yang cukup sehat dapat menyatakan kasih, misalnya kasih sayang kepada ayah-ibu (Matius 10:37), dan kasih persaudaraan (Ibrani 13:1). Kasih yang mampu diekspresikan berdasarkan sifat manusiawi yang mendasar dalam diri setiap orang seperti tertulis di atas, perlu senantiasa dipupuk. Akan tetapi, para pengikut Kristus diharapkan untuk dapat mengungkapkan kasih yang lain, yakni kasih agape. Agape adalah kasih yang dinyatakan oleh Kristus kepada murid-murid-Nya (Yohanes 15:12). Agape mendorong pribadi yang memiliki jenis kasih itu untuk rela mengurbankan diri bagi individu yang dikasihi (Yohanes 15:13). Agape mencakup kesediaan untuk menerima, menghargai, dan memberikan dukungan kepada pihak yang dikasihi bagaimanapun keberadaannya, seperti tersirat ketika Kristus berkata, a�?Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Kua�? (Yohanes 15:15). Kasih agape juga mencakup beberapa karakteristik berikut: kesabaran, kemurahan hati, tidak iri hati, tidak menyombongkan diri, tidak melakukan hal yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri, tidak pemarah maupun pendendam, sebaliknya rela memaafkan, tidak senang terhadap ketidakadilan, cinta kebenaran, melindungi, melengkapi, penuh pengharapan, dan kesabaran (1 Koritus 13:4-7).

Apabila kasih agape dihadirkan dalam keluarga Kristen, misalnya dilakukan oleh seorang suami, maka istrinya dapat merasa bahwa ia dicintai dan dihargai. Akibatnya, sang istri akan lebih sanggup untuk menundukkan diri di bawah kepemimpinan suaminya (Efesus 5:22-33). Di lain pihak, agape mendorong seorang wanita untuk selalu merendahkan diri, dan bersikap sebagai penolong yang sepadan, terlepas dari kelemahan sang suami. Kesediaan istri seperti itu membuat suasana menjadi kondusif bagi seorang suami untuk mempraktikkan kasih seperti Kristus, dan mengasihi seperti ia mengasihi dirinya sendiri. Dampak selanjutnya, suami maupun istri akan mengalami proses di mana masing-masing pribadi semakin bertumbuh dalam pengenalan yang sejati akan Allah (Efesus 5:25-27, 32). Jadi, terindikasi bahwa kasih agape yang dihidupkan dalam rumah tangga dapat mendukung setiap anggotanya untuk mengenal Allah, dan itu berarti semakin mendapatkan pengharapan yang tersedia di dalam Kristus.

Kasih agape yang diwujudkan oleh orang tua memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pertumbuhan spiritual anak-anak. Hal ini dapat dipahami melalui teladan dari Kristus yang menerima, bahkan memeluk anak-anak dengan penuh kasih dan memberkati mereka (Matius 19:13-15, Markus 10:13-16). Perlakuan Kristus yang mengakar pada kasih agape, mengakibatkan tumbuhnya perasaan berharga, dan perasaan diterima pada diri anak-anak. Bila orang tua meniru teladan dari Kristus tersebut, maka putra maupun putri yang Tuhan percayakan kepada mereka akan merasa dicintai, dimengerti, dan merasa aman. Perasaan-perasaan tersebut menjadi bekal yang berharga bagi anak-anak untuk bertumbuh semakin mengenal Allah, seperti diutarakan oleh Shaw dan Johnson, a�?A little child if he has known the security of parents who love and care for him, will not find the first steps in learning about God too difficult.a�? // a�?Seorang anak kecil, bila ia telah mendapatkan rasa aman dari orang tua yang mengasihi dan memperhatikan dirinya, tidak akan merasa bahwa langkah awal untuk belajar mengenal Allah terlalu sulit.a�? (Dari buku Your Children: A Book for Christian Parents, 1957, hal. 37).

Kedua, secara sengaja membangun langkah-langkah untuk semakin bertumbuh dalam pengharapan. Proses pembelajaran itu dapat terjadi melalui penuturan tentang kebenaran firman Tuhan, dan kisah pergumulan iman (Ulangan 6:4-9). Meskipun tidak tercatat secara harfiah, namun transfer pengenalan dan pengetahuan tentang Allah yang dilakukan secara verbal, hendaknya terjadi di antara anggota keluarga. Artinya tidak eksklusif hanya terjadi antara orang tua dengan anak, tetapi juga di antara suami dan istri.

Pengajaran lisan dan penyampaian cerita iman merupakan tahap pembelajaran yang penting. Pengetahuan yang bersumber pada kebenaran Alkitabiah menjadi modal untuk dapat semakin mengetahui dan menyelami pengharapan yang disediakan dalam nama Kristus. Sayang sekali, banyak orang Kristen yang belum menghadirkan pengajaran tentang kebenaran firman di dalam keluarga mereka. Penulis berpendapat bahwa keluarga Kristen sebaiknya memperhatikan kehendak Allah yang dinyatakan oleh Alkitab, agar pembelajaran terhadap firman Tuhan terwujud dalam keluarga. Mungkin banyak yang beranggapan atau merasa tidak mampu. Adalah wajar dan manusiawi bila ada persepsi bahwa diri kita tidak memiliki kapabilitas dan pengetahuan yang cukup untuk membagikan firman Tuhan kepada anggota keluarga. Akan tetapi sebenarnya Tuhan telah menganugerahkan kepada setiap keluarga Kristen banyak alat bantu berupa Alkitab dengan gambar yang menarik untuk anak-anak, Alkitab dengan uraian di dalamnya yang relatif mudah dipahami (Study Bible), bermacam-macam bahan renungan atau PA untuk dimanfaatkan, selain itu ada pula hamba-hamba Tuhan yang dapat menjadi rekan pertumbuhan. Alkitab mengatakan bahwa yang perlu dikerjakan oleh murid-murid Kristus ialah mengerjakan yang terbaik untuk melakukan kebenaran firman Tuhan, dan Allah sendiri bekerja di dalam setiap individu pengikut-Nya, supaya dimampukan untuk mentaati kehendak-Nya itu (Filipi 2:12-13). Atas dasar hal tersebut, marilah kita berjuang dengan tekun untuk membuat proses pengajaran hal-hal rohani terjadi di dalam rumah. Namun, jangan-jangan akar masalahnya terletak pada keengganan untuk memberikan respons terhadap firman Tuhan. Memang hanya orang-orang Kristen yang mau menanggapi kesaksian Alkitab secara personal dan serius sajalah yang dapat menjadi agen-agen yang turut membagikan berkat yang ada di dalam Kristus.

Kisah iman merupakan satu cara lain yang penting untuk pembelajaran rohani dalam rumah tangga. Terutama, cerita aplikasi iman Kristen dalam situasi nyata sehari-hari. Kisah-kisah itu menjadi sangat bermakna sebab seluruh anggota keluarga dapat menemukan korelasi antara keyakinan dan pengharapan Kristiani dengan realita kehidupan. Contoh, seorang ayah mengutarakan perjuangannya untuk tetap berpengharapan di dalam Kristus sekalipun ia terancam mengalami pemutusan hubungan kerja. Apa yang disampaikan oleh sang ayah dapat memotivasi istri dan anak-anaknya untuk juga memupuk harapan yang sama.

Kisah pergumulan iman sebagaimana tertuang di atas mengungkapkan faktor yang juga penting bagi pemupukan kerohanian dalam keluarga, yaitu keteladanan. Keteladanan, atau pemodelan, adalah salah satu aspek yang signifikan, yang akan memperkuat pengajaran verbal yang kita lakukan. Sebaliknya, tidak adanya contoh rill akan seseorang yang berpengharapan, cenderung melemahkan proses pembelajaran bagi masing-masing anggota keluarga. Katakanlah, seorang anak diajarkan oleh Guru Sekolah Minggu di gereja, tentang pengharapan di dalam Kristus. Akan tetapi, apa yang ia saksikan setiap harinya adalah kedua orang tua yang sama sekali tidak memiliki pengharapan. Bahkan, orang tua cenderung melemahkan pengharapan melalui ungkapan-ungkapan pesimis dan negatif, seolah-olah tidak ada Allah yang memelihara hidup mereka. Ketidak-selarasan antara apa yang diajarkan dan dialami seperti tertulis di atas dapat menghambat pertumbuhan rohani dalam diri anak-anak. Alih-alih semakin berpengharapan di dalam Kristus, pengharapan justru mereka kembangkan di atas dasar lain yang semu, seperti harta, tahta, dan kehebatan manusia.

Hal berikut yang akan dibicarakan, masih terkait dengan keteladanan hidup di dalam Kristus. Yaitu, hendaknya anggota keluarga Kristen memanifestasikan pengharapannya di dalam Kristus ketika menjalani kehidupan setiap hari, termasuk di luar konteks keluarga inti. Dalam hal ini, suami, istri, maupun anak-anak Kristen idealnya menjadi contoh teladan bagi keluarga besar, ketika berada di kantor, saat berinteraksi dengan para pelanggan, sewaktu berjumpa dengan teman-teman, dan sebagainya. Lee Strobel menuliskan kisah perjumpaannya dengan Kristus setelah ia menyaksikan perubahan perilaku, perkataan dan karakter istrinya (Dari buku karangan Lee Strobel, The Case for Christ, 2000). Ia menyatakan perubahan dari sang istri memicu ketertarikannya untuk mengenal lebih jauh siapa Kristus, hingg akhirnya jurnalis yang awalnya tidak bertuhan, justru menjadi salah seorang penulis dan pengajar Kristen yang ternama.

Sabtu 28 Januari adalah hari raya Imlek, dan malam ini adalah malam kebersamaan yang penting bagi banyak keluarga. Pada momen itulah, setiap anggota keluarga Kristen dapat berusaha menjadi saksi-saksi yang membagikan pengharapan di dalam Kristus kepada keluarga inti, maupun keluarga besar. Dewasa ini, banyak orang merasa kurang harapan, bahkan ada juga yang cenderung putus asa karena masalah yang pelik dalam hidup. Marilah kita  berusaha untuk merebut momen selama Imlek untuk menyaksikan harapan di dalam Kristus. Mungkin ada kesulitan tertentu untuk melakukannya. Namun, Paulus menyadari bahwa kuasa dari Tuhan bekerja dengan kuat di dalam dirinya ketika ia menjadi saksi yang setia dari satu tempat, ke tempat yang lain (Kolose 1:29). Kuasa yang sama akan bekerja di dalam diri murid-murid-Nya di zaman ini. Rebutlah momen Imlek dengan menyaksikan harapan yang sempurna di dalam Kristus. Kiranya Tuhan memberkati.