By. Ev. Markus Boone

1 Samuel 18:1-9 (TB)  Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.

Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya. 

Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. 

Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.

Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya, sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul.

Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; 

dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”  

Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya.” 

Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. 
Menjadi seorang sahabat adalah proses yangbtidak mudah. Kita harus mendoakan agar memiliki prrsahabatan. Jika kita tidak mendoakan maka kita hanya memiliki teman saja. Sahabat adalah sebuah kualitas hubungan. Waktu seseorang bersahabat kualitas itu dalam. 

Yonathan mengasihi Daud seperti dirinya sensiri. Seorang sahabat selalu memandang sahabatnya seperti dirinya. Yang terbaik untuk diri kita untuk sahabat kita. 

Saya mengajak kita untuk memandang lebih luas dari sahabat adalah orang luar. Bagaimanapun juga sahabatvkita juga adalah pasangan hidup kita, saudara kita dan juga orang tua kita. 

Jika kita merasa kalau saudara, pasangan kita dan orang tua kita tidak sperti yang kita harapkan, itu mungkin karena kita tidak pernah mendoakan mereka. 

Daud juga mengalaminya. Ketika Daud menjadi raja tidak ada tanda-tanda bahwa kakak-kakaknya mendukungnya. Bahkan saat Samuel mencari anak Isai untuk diurapi menjadi calon raja, kakak-kakak Daud juga melupakan Daud. Bahlan saat Faud mengantarkan makanan kepada kakak-kakak Dauf di medan perang saat Holiat mengancam, tidak tampak kakak -kakak Daud senang dengan apa yang dilakukan Daud. 

Pada level teman, selama tidak merugikan semua akan baik-baik saja. Tetapi ketika ada masalah atau ancaman, itu adalah ujian. Jika mereka adalah sahabat maka mereka akan menolong kamu. Tetapi jika hanya teman, maka akan bubar bahkan bisa menjadi musuh. 

Persahabatan kita harus terus naik dari kerabat, menjadi teman dan naik menjadi sahabat. 

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian apapun agama dan sukunya, kita akan tetap dapat menemukan cerita persahabatan yang menyentuh hati sehingga kita berharap kita bisa memiliki satu dati kisah tersebut. 

Mari kita berdoa agar memiliki minimal 3 sahabat yang dapat mengubah hidup kita. Dalam sahabat akan ada pertumbuhan yang nyata semakin serupa denga  Kristus. 

Jika kita mau memiliki sahabat maka dari teman dan kerabat:

1. Carilah yang bersedia untuk buka topeng bersama-sama. 

2. Carilah teman yang mau berdikusi bersama bukan gosipin orang

3.  carilah teman yang mendorong kita maju, bukan menarik kita mundur. 

4. Carilah sahabat yang mau menegur kita dan mau berjalan bersama dengan kita. 

 Kiranya Tuhan memberikan kita tiga sahabat yang mengubah hidup kita.