By. GI Fifi Wijaya

Filipi 3:1-10 (TB)  Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu. 

Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,

karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.

Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: 

disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, 

tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.  

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, 

dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

Kitab ini ditulis oleh Paulus seolah-olah dia sedang berkisah tentang dirinya, apakah yang terjadi pada seseorang yang mengaku percaya kepada Allah. Secara lahiriah dia memiliki hal-hal yang dapat dibanggakan, seperti: orang pilihan, suku Benyamin, Ibrani asli, golongan Farisi, melakukan hukum Taurat tak bercacat, dsb.

Dasar untuk bermegah dosanya bukan terletak pada perbuatannya melainkan pada keangkuhannya. Ketika dia bertemu Tuhan, keangkuhannya hancur.

Menganggapnya sampah berarti memilih untuk menyangkal diri dan merendahkan diri. Lihatlah, objeknya berubah. Dia menjadi bermegah hanya di dalam Kristus Yesus.

Paulus menyatakan perubahan yang radikal dalam kehidupannya, semuanya demi Kristus. Hal ini tidak mudah dilakukan. Pada zaman ini orang berlomba-lomba untuk makin dekat dengan petinggi, pejabat, dsb. Apa yang Paulus telah raih itu bukan dikerjakan dalam waktu singkat, tetapi dalam waktu yang panjang. Setelah dia meraihnya bukan menjadi puas melainkan menyerahkan semuanya pada Kriatus.

2 Korintus 12:7 (TB)  Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri

Duri dalam daging bisa berarti ada penyakit yang tak kunjung sembuh. Paulus takut sekali menjadi sombong. Itulah sebabnya Tuhan ijinkan ada duri dalam daging agar Paulus tidak menjadi sombong.

Tidak ada orang yang luput dari masalah, seberapapun salehnya hidup orang itu. Namun dalam setiap kesulitan itu membuat kita memegang erat Tuhan.

Proses pembentukan Paulus.

2 Korintus 12:9 (TB)  Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 

Kekuatan Allah adalah anugerah-Nya. Paulus banyak melakukan mujizat, tetapi tidak untuk dirinya sendiri. Proses ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat, tapi mungkin bertahun-tahun. Setelah sekian lama berdoa, akhirnya Paulus menyadari dan mau menerima kekurangan. Paulus tidak menjadi lemah dalam keterbatasannya, dia tidak mundur dari pelayanan.

Unsur kerendahan hati:

1. Kerendahan hati dimulai dari sebuah pandangan yang akurat tentang Allah. Kita makin rindu akan Tuhan, semakin tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Dia .

2. Kerendahan hati dimulai dengan pandangan yang akurat tentang diri sendiri.  Paulus menyadari bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa diantara orang yang paling berdosa. 

3. Kerendahan hati dimulai dengan sebuah keyakinan bahwa Allah yang memberi pertumbuhan

4. Kerendahatian dimulai dengan sebuah hati yang mau diajar. Kita menyadari bahwa Tuhan bisa memakai orang lain untuk mengajar kita. Dengan kerendahhatian akan membuka hikmat untuk belajar banyak dari orang lain.