Pdt. Agus G Satyaputra

Ulangan 28:13-14 (TB) TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.”

Dalam hidup ini selalu ada 2 pilihan.

1. Dipinpin.

Misal saat kita ke dokter, kita tidak bisa membatah. Most of the time kita dipinpin, sebagai warga negara, sebagai jemaat, dsb

2. Memimpin.

Saat kita sebagai kepala keluarga, atasan di tempat kerja, dsb. Bahkan artis yang punya banyak follower juga adalah seorang pemimpin.

Pemimpin yang baik tentu kita harapkan dapat membawa perubahan, dari ada menjadi tidak ada, yang ada bisa semakin baik.

Dalam konteks kehidupan hari ini kita menghadapi dramatic dan giantic changes dalam berbagai aspek kehidupan, baik pribadi, keluarga dan organisasi. Kita saat ini masuk dalam dunia smartphone, sebentar lagi kita akan masuk dalam dunia robotic. Di dunia kedokteran, teknology dan kebudayaan, sedang banyak berubah. Dalam kondisi seperti inilah kita melayani.

Perusahaan yang tidak siap dengan perubahan akan menjadi bangkrut. Itu juga berlaku untuk gereja. Itu sebabnya kita membutuhkan pemimpin yang berorientasi kepada perubahan. Pengikut bukan hanya sekedar melakuka rutinitas tetapi mengerti bahwa dia sedang melakukan bagian yang jauh lebih besar dari hal rutin yang dia lakukan.

Transformational Leadership adalah bentuk/style kepemimpinan yang paling relevan dan Alkitabiah hari ini (dalam konteks sekarang ini)

Untuk orang kristen & gereja: transformational leadership can provide help for church leader who are struggling with absence of change or transformation inside their organizational ministry. Banyak gereja Injili tidak banyak mengikuti perubahan jaman. Inilah absence of change.

  • Transformation leadership dianggap mampu untuk “arouse group of follower”
  • Relasi akan semakin baik ketika kita tidak lagi meributkan masalah otoritas, selama semua menuju pada visi yang sama
  • Mengajak pengikut untuk memikirkan frame lama dan mengevaluasinya. Beranikah kita tutup pelayanan lama yang tidak efektif dan menghabiskan banyak biaya? Ada banyak program gereja yang membuat lelah. Gereja yang sehat seharusnya pengurusnya sehat.
  • Mengarahkan kelompok pengikut ke araah

Trasformational Leadership Factor:

  1. Charisma. Menjadi role model
  2. Inspirational. Menjadi sumber inspirasi
  3. Individual consideration. Menyiapkan pengganti, special attention, personal respect to followers
  4. Intellectial stimulation. New approach to old problem, new idea articulation.

Orang yang berhasil menjadi pemimpin adalah orang yang berani mengambil resiko, seperti Nelson Mandela, Abraham Lyncon, dsb. Beranikah kita seperti mereka? Hidup ini memang penuh resiko. Menikah, menjadi ibu dan suami juga punya resiko. Jadi leader jangan takut resiko, leader adalah mereka yang melewati kesusahan.

Di Alkitab ada banyak tokoh yang berani ambil resiko, seperti Musa, Abraham, Paulus, dsb. Mereka menjadi role model.

Memperhatikan orang-orang disekelilingnya untuk menjadi penerus pelayanan. Leadership ada masa kadaluasanya. Paulus sendiri menyiapkan Timotius menjadi penerusnya.

Inspirational. Tokoh2 Alkitab memotivasi pengikutnya dengan baik

Tidak ada boss di dalam gereja. Boss hanya ada satu, yaitu Tuhan. Pemilik gereja adalah Tuhan. Bertanya kepada Tuhan apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi gereja-Nya.

Kita harus menjadi mentor bagi yang lain. Sediakanlah waktu untuk dipakai untuk membangun mereka. Kalau jadi satu-dua leader baru, itu adalah berkat tuhan.

Apakah gereja menstimulasi inspirasi? Perbedaan budaya adalah pembunuh gereja yang paling besar. Ketika gereja tidak bisa mengerti dan menjangkau anak muda, maka gereja akan kehilangan regenarsi penerus.

Tidak ada gading yang tak retak. Pemimpin manapun punya dark side. Dia harus rendah hati, karena perubahan adalah karya Tuhan. Dia tidak boleh mengangungkan diri sendiri. Dia harus ingat bahwa semua adalah karena Tuhan. Harus rendah hati untuk menerima kritikan.

Istilah Transformational banyak dipakai di perusahaan-perusahaan maju. Tetapi di alkitab banyak memberikan contoh pemimpin yang mengubahkan.