Pdt. Andreas Himawan

Habakuk 3:17-19 (TB) Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Kaki rusa tidak kelihatan cantiknya. Namun digambarkan bagi orang percaya untuk memiliki kaki seperti kaki rusa. Kaki rusa melambangkan hidup yang riang, lincah dan gesit melompat dari satu batu ke batu yang lain. Keriangan ini digambarkan dengan bersorak-sorak dan beria-ria. Itulah hidup yang tanpa beban dan gembira.

Tetapi hidup tidak pernah mudah. Gambaran seperti kitab Habakuk bukanlah hidup tanpa masalah, justru sebaliknya. Inilah yang digambarkan dengan “sekalipun”.

Budaya Thanksgiving di Amerika berawal dari migrasi orang-orang Inggris yang berhasil menemukan benua baru. Situasi awalnya tidak mudah, namun akhirnya mereka berhasil bercocok tanam dan menuai panen pertama. Itulah thanksgiving.

Habakuk mengalami kebalikannya. Tidak ada panen. Namun Habakuk tetap beria-ria di dalam Tuhan. Kebutuhan basic mereka gagal total. Panen itu dibutuhkan untuk menghadapi musim dingin. Panen saat itu gagal karena kondisi bangsa Israel sedang dalam perang, sehingga mereka tidak bisa bercocok tanam. Bagaimana mungkin mereka bisa thanksgiving dalam keadaan seperti itu.

Pada saat ini kita memang tidak hidup bercocok tanam. Tetapi kita butuh pekerjaan yang bagus, usaha yang lancar, makanan. Kita menjafikan dasar ucapan syukur kita adalah berkat jasmani dan materi. Jika itu yang terjadi, maka iman kita tidak ada bedanya dengan iman yang lainnya.

Seandainya apa yang kita miliki diambil dari kita, apakah kita masih bisa mengucap syukur kepada Allah? Apakah kita masih bisa merasakan keriangan? Habakuk tidak melandaskan kebahagiaanya dengan hal materi. Kita memang membutuhkan makanan dan pekerjaan, tetapi itu adalah penunjang kehidupan namun bukan tujuan hidup. Penunjang hidup suatu saat bisa tidak ada.

Tetapi tujuan hidup kita dalah untuk Allah, demi Allah. Tuhan Allahku, itulah kekuatanku.

Di dalam Allah itulah kita bisa menenemukan kekuatan untuk tetap bersukacita. Dia tahu bahwa Allah tidak meninggalkan dia. Dari Habakuk inilah muncul pekikiran dari Rasul Paulus dan Kekristenan.

Habakuk 2:4 (TB) Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

Sola Fide, hanya karena percaya. Orang benar hidup dari imannya. Orang benar hidup bukan karena memiliki penunjang hidup, tetapi mempercayakan diri pada Allah.

Semua mungkin terambil dari dia, tetapi ada satu yang tidak pernah bisa diambil dari dia, yaitu ALLAH

Siapa yang telah dipuaskan oleh Allah, maka ia akan lebih mudah dipuaskan oleh berkat sekecil apapun. Keluarga kita mungkin tidak sempurna, tetapi kita tetap dapat bersyukur kepada Allah. Kita juga akan lebih bisa murah hati untuk menolong orang lain, karena hati kita sudah melimpah dengan syukur. Dia tidak tamak.

Jika saat ini kita memiliki berkat rohani, bersyukurlah, namun tetaplah menjadikan Tuhan sebagai dasar kita untuk mengucap syukur.