Ev  Emanuel Cahyanto
Ada saatnya di dalam hidup kita Tuhan terkesan tidak mendengarkan doa kita.

Seorang anak muda berusia 12 tahun bernama Agnes sudah mencintai Yesus.  Usia 18 tahun dia sudah menyerahkan dirinya menjadi misionaris. Setelah bertahun-tahun di ladang misi, dia menulis kepada pembimbingnya berkata ,” Aku merasa Allah tidak peduli padaku”. Agnes ini bukan orang biasa. Dia kemudian kita kenal dengan nama Mother Theresa.

098403100_1472895306-teresa2

Mazmur 13:1-6 (TB)  Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (13-2) Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? 

(13-3) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? 

(13-4) Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, 

(13-5) supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah. 

(13-6a) Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. 

(13-6b) Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku. 

Seorang yg besar seperti Daud sekalipun pernah merasa Tuhan jauh dari dirinya. Jika kita hanya satu kali mengalami masalah, mungkin bagi kita tidak mengapa. Namun jika kita mengalami kejadian buruk bertubi-tubi, barulah kita bisa mempertanyakan kebaikan Tuhan. Kita berpikir bahwa bukannya seharusnya Tuhan Mahabaik seharusnya akan menolong. Tetapi kenyataannya tidak. Tuhan tidak menyembuhkan dan tidak memulihkan.

Habakuk 1:2 (TB)  Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong

Jika dalam pikiran kita kalau Tuhan itu acuh, tidak menolong, apakah benar bahwa realitanya bahwa Allah itu jauh dan jahat?

Kita bisa punya persepsi tertentu pada seseorang. Mungkin kita bilang dia terlihat jahat. Tetapi setelah kita mengenal lebih jauh ternyata dia baik.  Jika kita saja bisa salah tebak terhadap manusia apalagi dalam hubungan kita dengan Tuhan. Ingatlah, perasaan itu bersifat subjektif, bukan objektif. Kita harus mulai dari Theology yang benar. Dengan Theologia yang benar itu kita membentuk pola pikir kita untuk mengenal Tuhan dengan benar.

Apa yang Allah janjikan pada Abraham. Tuhan kita adalah Allah yang selalu menyertai kita sampai selama-lamanya. Tuhan adalah Tuhan yang setia. Jika Kristus saja ketika berdoa di taman Getsemani, tidak dikabulkan, apalagi kita yang adalah manusia.

Mazmur 116:10 (TB)  Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.”

Kita seharusnya memiliki iman seperti anak kecil yang naif dan polos yang tetap percaya penuh sekalipun tidak mengerti.

wpid-fb_img_1471396471514.jpg