Pdt. Rahmiati

Mengapa Tuhan Yesus merasakan seperti ini, kesedihan yang mendalam. “Seperti mau mati rasanya”

Matius 10:28 (TB) Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Yang pasti bukan masalah mahkota duri ataupun siksaan, persoalannya adalah cawan murka Allah.

Apa gunanya kamu cantik secara fisik tetapi jiwamu binasa. Kita diciptakan dari Allah dan untuk Allah. Seluruh keberadaan kita adalah untuk Tuhan.

Yang harus saya pikirkan adalah bagaimana hidup kita menyenangkan Allah. Manusia itu kudus, dikhususkan bagi Allah.

Namun dosa membuat kita hidup untuk diri sendiri. Hidup ini tentang saya, bukan Tuhan. Sekalipun hidup religius dan beragama, tujuan mereka adalah untuk diri sendiri. Orang yang begitu aktif dan melakukan berbagai aktifitas agama, berada dalam murka Allah.

Inilah yang membuat Tuhan Yesus berduka. Betapa mengerikannya murka Allah itu. Apapun malapetaka dan bencana alam semua itu disatukan tidak dapat dibandingkan denga murka Allah.

Firman Tuhan mengatakan Tuhan Yesus betapa seriusnya murka Allah itu.

2 Korintus 5:15-17 (TB) Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Sebagai ciptaan baru, mengenal

1. Anak. Dalam anugrah Allah, kita dapat memanggil Tuhan sebagai Bapa. Kitavtidak dapat hidup lepas dari Bapa. Kita seperti ranting yang tidak hidup jika tidak menempel pada pokok anggur. Yang namanya anak Tuhan, kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Kita boleh bisa hidup tanpa orang lain, tetapi kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan.

2. Murid. Siap diajar. Hidup ini adalah untuk Tuhan. Tidak mungkin kita bisa menyenangkan Tuhan jika tidak belajar Firman Tuhan. Kita sehati sepikir dengan Tuhan, dalam situasi yang kita hadapi. Seorang murid akan melangkah persis gurunya melangkah.

3. Hamba. Sadar dia punya tuan. Segala yang dia lakukan adalah untuk tuan. Sadar bahwa apa yang dimilikinya adalah punya tuannya. Kita hanya mengelola apa yang dimilikinya. Maka dia tidak akan hitung-hitungan. Jika seorang hamba melakukan sesuatu maka itu adalah sesuatu yang wajar, tidak mengharapkan pujian.

Lukas 7:36-50

Wanita yang terkenal berdosa itu mengenal siapa Tuhan Yesus. Tetapi orang Farisi tidak mengenal Yesus, dia tidak menyediakan air untuk basuh kaki, sediain minyak untuk urapi kepala, juga tidak menyambut Yesus dengan cium pipi. Padahal itu adalah tata krama di jaman otu.

Simon orang farisi berpikir, bahwa seharusnya Yesus sudah beruntung diundang ke rumahnya. Seperti itulah pikiran kebanyakan orang Kristen. Tuhan harusnya yang bersyukur kalau saya datang ke greja dan pelayanan. Orang seperti itu sebenarnya adalah orang yang tidak tahu diri.

Orang yang kenal Allah, kenal diri dan tahu diri. Orang yang kenal Tuhan akan abis-abisan buat Tuhan. Setelah itu masih mengatakan apa yang saya lakukan adalah seharusnya, karena itulah yang seorang hamba lakukan.

Tidak ada satupun manusia yang berkorban bagi Tuhan. Berkorban artinya melakukan apa yang dia tidak harus lakukan. Hanya Tuhan Yesus yang berkorban bagi manusia, karena Allah tidak wajib untuk menyelamatkan manusia.

1 Tesalonika 5:9-10 (TB) Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.

Adakah kita, ketika bangun tidur hati kita tertuju kepada Tuhan? Apakah kita berdoa agar semua studi dan pekerjaan kita memuaskan hati Tuhan? Apakah kita berdoa agar suami, istri dan anak-anak kita hatinya melekat pada Tuhan?

Jangan sampai pengorbanan Tuhan yang telah mengubah arah hidup kita menjadi sia-sia.