oleh G.I. Emanuel Cahyanto, M.M., M.Th.

Dalam interaksi dengan orang-orang percaya, tidak sedikit yang mengajukan pertanyaan mengenai realita bahwa kesulitan hidup, penderitaan jasmani maupun rohani menimpa kepada individu-individu yang baik. Maksudnya, mereka adalah pribadi-pribadi yang beribadah kepada Tuhan dengan tekun, terlibat dalam pelayanan gerejawi, dan merupakan ayah, ibu, maupun anak yang berperan cukup baik dalam keluarganya masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sesungguhnya menyiratkan keheranan, kebingungan, kegelisahan dan mungkin kemarahan. Mengapa orang, atau keluarga yang baik dapat menderita oleh berbagai macam masalah?

Alkitab yang merupakan firman dari Sang Khalik, mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan keluarga umat Allah. Sebagai contoh yang pertama adalah Abraham dan Sara, yang secara khusus dipanggil oleh Allah. Kepada Abraham, Allah menyatakan janji bahwa Dia akan menjadi Allah bagi Abraham dan keturunannya (Kejadian 17:7). Meskipun demikian, sampai pada masa tuanya Abraham dan Sara tidak juga memperoleh keturunan yang dijanjikan tersebut (Kejadian 15:2, 18:11). Sang bapa orang beriman itu sempat bimbang, bahkan Sara meragukan penggenapan janji-Nya sampai-sampai Allah menegur dirinya (Kejadian 18:13).

Ishak mengawali pernikahannya dengan baik, Kehadiran Ribka mendatangkan kebahagiaan yang besar dalam kehidupan Ishak (Kejadian 24:67). Namun, pengalaman yang menyenangkan di awal pernikahan tidak berlangsung seterusnya. Dalam tahun yang kesekian dari pernikahan mereka terjadilah kelaparan, suatu kondisi yang sangat sulit untuk dilalui (Kejadian 26:1). Ketika Ishak berkeinginan untuk pergi meninggalkan tanah orang Filistin, Allah menahannya agar tetap tinggal di sana. Ishak memutuskan untuk taat, sehingga ia pun bekerja dan berusaha di wilayah Gerar. Akan tetapi, penduduk setempat yang melihat keberhasilan Ishak menjadi iri, sehingga mereka menimbulkan masalah yang berkepanjangan bagi Ishak (Kejadian 26:12-22).

Perjanjian Baru mencatat kisah Yusuf dan Maria, keluarga yang memiliki ketaatan yang luar biasa. Walaupun begitu, keadaan telah memaksa mereka untuk menyingkir ke Mesir, yakni di kala Herodes bermaksud membunuh Yesus (Matius 2:13-15). Kerelaan untuk mematuhi rencana dan kehendak Allah tidak serta merta membebaskan keluarga Yusuf dari kesulitan di dalam dunia.

Berdasarkan survei singkat terhadap Alkitab seperti tertulis di atas, maka kita menyadari bahwa keluarga-keluarga umat Allah yang baik tidak terhindar dari penderitaan. Malah Yesus Kristus sendiri menjalani masa-masa yang penuh sengsara hingga Dia menuntaskan seluruh karya-Nya.

Penderitaan ialah sebuah keniscayaan selama hidup dalam darah dan daging. Kualitas baik tidak menyingkirkan kesulitan dari kehidupan riil keluarga-keluarga Kristen. Namun keluarga Kristen yang baik, akan mampu mengatasi masalah dan mengelola hidupnya secara konstruktif.

Terkait hal ini, ada beberapa hal yang saya yakini seharusnya dimiliki oleh setiap keluarga Kristen supaya mampu menghadapi pengalaman yang terkadang sangat sulit.

Pertama, keluarga Kristen yang baik akan menerima dan menyadari bahwa ia sedang menghadapi suatu masalah.

Kebalikan dari keluarga yang baik adalah mereka yang melakukan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) seperti menyangkal realita (denial). Individu yang menyangkal realita akan menolak suatu masalah–misalnya problem dalam tumbuh kembang anak—dan segera mengalihkan perhatiannya kepada aspek yang lain, contoh pekerjaan atau hobi. Dengan caranya tersebut, ia menghindarkan dirinya dari perasaan-perasaan negatif seperti sedih, kuatir, takut, dan sebagainya. Pada satu sisi dirinya terbebas dari suasana hati yang tidak nyaman, namun sesungguhnya inti masalah tidak dihadapi dan tidak diselesaikan. Akibatnya, masalah yang sama dapat muncul terus menerus, atau akan berkembang menjadi kendala yang kian kompleks dan sangat sulit untuk ditangani.
Ada beberapa upaya lain untuk mempertahankan diri ketika menghadapi masalah, seperti menekan pikiran atau perasaan dalam-dalam (repression), menyalahkan pihak lain yang bisa menjadi objek untuk memuaskan kemarahan, ketakutan atau kegelisahan (sublimation), mencari kompensasi lain untuk memuaskan diri walaupun hanya sesaat (compensation), dan sebagainya. Setiap jenis mekanisme pertahanan diri berpotensi menghambat seseorang untuk menerima dan menyadari kesulitan yang dihadapi. Padahal problem, masalah, dan penderitaan adalah realitas yang harus diterima serta disadari. Pada waktu seseorang berani menerima dan menyadari pengalaman yang buruk, maka ia semakin mampu untuk menempuh upaya-upaya menyelesaikan masalah. Contoh, seseorang yang akhirnya dapat menerima dan menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit kanker, akan lebih mampu untuk menghadapi rangkaian proses pengobatan yang sulit. Menerima dan menyadari masalah merupakan kondisi mendasar untuk mengatasi berbagai kendala.

Kedua, setiap keluarga Kristen hendaknya memupuk dan mempertahankan kesatuan tubuh Kristus.

Setiap anggota keluarga memang memiliki peran yang berbeda-beda. Meskipun demikian, keluarga Kristen harus menyadari akan kesatuan yang hakiki di dalam Yesus Kristus, yang juga menjadi kepala dari gereja-Nya (Efesus 4:1-16). Oleh karena itu, semestinya berbagai masalah diatasi dengan semangat kebersamaan dan kesalingan (Efesus 5:21-6:4). Jadi, tidak boleh ada anggota keluarga yang merasa kesepian dalam menghadapi masalah.

Seorang pria yang saya kenal pernah mengakui dengan jujur kesalahannya dalam bertindak sebagai kepala keluarga. Ia adalah individu yang sangat bertanggung jawab dalam profesionalitasnya, maka kesibukan menjadi rutinitas yang lazim baginya. Akan tetapi, semua orang hanya dipercayakan waktu 24 jam dalam sehari. Artinya, keseimbangan waktu menuntaskan pekerjaan, menjadi suami dan ayah di rumah, menyediakan waktu untuk Tuhan, maupun bagi diri sendiri menjadi sebuah tantangan yang besar untuk orang itu. Bisa diduga bahwa pada akhirnya ia gagal mengkhususkan waktu bagi istri dan anak-anaknya. Urusan rumah tangga dengan seribu satu macam kesulitannya secara utuh diemban oleh sang istri. Lambat laun, kedekatan relasi (intimacy) suami dengan istri merenggang. Semakin banyak komunikasi yang macet di antara mereka. Konflik cenderung meninggi dan anak-anak mendapatkan teladan akan seorang pria yang absen dalam keluarganya.

Tindakan yang baik adalah mengatasi kesulitan dengan kesadaran akan kesatuan tubuh Kristus.

Dalam hal ini, semua anggota keluarga berusaha menghayati dan mengekspresikan kasih yang sama dengan yang dihadirkan oleh Kristus. Oleh karenanya, tumbuhlah sikap-sikap yang baik dalam menghadapi masalah, seperti penundukkan diri, mengungkapkan kasih, melakukan pengasuhan, dan memberikan penghormatan yang unconditional (Efesus 5:21-6:4). Selain itu, hendaknya dikembangkan kemauan untuk saling mendukung, mendengarkan, dan saling memaafkan di antara anggota keluarga.

Sebuah keluarga lainnya yang saya kenal, suatu saat mengalami kesulitan yang amat besar ketika krisis moneter terjadi dalam intensitas yang masif dan berskala global. Tekanan pikiran dan perasaan yang sangat tinggi mengakibatkan si suami bereaksi negatif sekali. Kegelisahan dan kemarahan sulit dikontrol. Teriakan, tindakan yang kasar, dan kalimat-kalimat yang menusuk berulang kali ditujukan kepada istri serta anak-anak. Perilakunya semakin impulsif dan menimbulkan tekanan emosi yang juga besar bagi seisi rumah itu. Sampai suatu saat si suami tidak kembali ke rumah. Ia bak hilang ditelan oleh bumi. Setelah mencari ke berbagai tempat dan menghubungi semua pihak yang dapat dijangkau, akhirnya sang istri dapat bertemu dengan suaminya. Alih-alih melampiaskan amarah, sang istri justru mengekspresikan imannya kepada Kristus. Pengampunan dinyatakan, penerimaan, dan empati yang tulus dihadirkan. Mereka sepakat kembali ke titik nol dan bersama-sama merajut kembali hal-hal yang telah tersobek. Dalam perjalanan hidup berikutnya mereka menjadi keluarga yang memberkati banyak pihak, oleh karena mereka bertumbuh semakin dewasa rohani yang ditandai dengan kesetiaannya dalam pelayanan gerejawi.

Ketiga, keluarga Kristen yang baik dapat mengendalikan emosi dengan menggunakan akal sehat.

Perasaan negatif secara wajar akan muncul manakala diri kita terhimpit oleh kesulitan hidup. Bermacam-macam perasaan negatif itu harus dapat dikendalikan oleh pikiran yang jernih. Apabila hal ini dapat direalisasikan, maka peran dan tanggung jawab di rumah dapat dilakukan dengan baik. Relasi dan kehangatan pun dapat tetap dipelihara.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang menguraikan riset yang dilakukan terhadap keluarga-keluarga di wilayah Amerika Latin, yang ketika itu sedang mengalami kesulitan ekonomi. Penelitan tersebut memperlihatkan bahwa anak-anak yang tidak menjadi anak yang menimbulkan masalah (tidak troublemaker) dibesarkan oleh orang tua yang masih mampu membentuk lingkungan yang kondusif di dalam rumah. Walaupun ayah-ayah mereka berjuang keras sepanjang hari untuk dapat mencukupkan kebutuhan rumah tangga, namun sesampainya di rumah para ayah tersebut bercengkerama dan membuat anak-anak tertawa. Kondisi hidup memang sangat sulit, tetapi ayah dan ibu berupaya semaksimalnya memberikan perhatian, serta dukungan kepada anak-anak. Mengapa ada individu-individu yang sanggup bertindak demikian? Mereka dapat mengendalikan emosi dengan menggunakan akal sehat. Mereka tidak mengizinkan dirinya dikuasi oleh emosi-emosi negatif. Mereka berhasil mengendalikan diri dengan baik dan memainkan peran yang cocok dengan konteksnya.

Keempat, keluarga Kristen yang baik akan mengekspresikan iman di dalam Kristus.

Dalam salah satu contoh di atas saya menceritakan tentang seorang istri yang menyatakan imannya di tengah-tengah masalah. Dalam poin ini saya ingin menguraikan hal yang berbeda. Untuk itu, kita perlu mencermati bahwa Kristus mengonfirmasikan akan penderitaan yang dialami oleh murid-murid-Nya selama tinggal di dunia, namun Kristus memberikan pengharapan karena Dia telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33). Bagaimanakah Kristus mengalah dunia? Yaitu dengan menjadi manusia seperti kita (Yohanes 1:14), kemudian mati serta bangkit dari antara orang mati. Hidup-Nya selama di bumi, maupun kematian serta kebangkitan-Nya memberikan dua pengharapan yang sangat penting bagi keluarga-keluarga Kristen.

Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus meletakkan dasar yang kokoh bagi kita untuk percaya kepada hidup yang kekal, serta kebangkitan tubuh (1 Korintus 15). Dalam nama Yesus Kristus, semua orang yang percaya memperoleh pengharapan akan masa mendatang yang sangat indah. Sebuah kondisi di mana tidak ada ratap dan kertak gigi (Matius 8:11-12). Suatu keadaan yang jauh lebih baik daripada kehidupan di dalam dunia (Filipi 1:23). Dengan demikian, kita menyadari sekarang bahwa penderitaan di dunia tidaklah untuk selamanya. Suka cita yang besar menanti saat kita berada bersama-sama dengan Kristus. Bagaikan seorang ibu yang bertahan dalam proses persalinan karena ia mengalihkan pandangannya kepada perasaan bahagia saat anaknya lahir, demikianlah yang semestinya kita kerjakan.
Pengharapan yang kedua berdasar pada masa-masa hidup Kristus yang penuh dengan sengsara saat Dia berada di dalam dunia. Walaupun Dia tidak mengalami penderitaan yang sama persis dengan yang kita alami, tetapi Dia sangat memahami seluruh kesulitan kita. Sekarang ini, Kristus adalah Pengantara untuk kita kepada Allah Bapa (1 Yohanes 2:1). Jadi, semua orang yang percaya memiliki Sang Pengatara kepada Bapa yang sangat memahami permasalahan hidup sehari-hari. Artinya, pada waktu kita berdoa dalam nama Kristus di tengah masa-masa yang sukar, maka Allah tidak mungkin tidak memberikan kekuatan yang cocok untuk kita. Tidak mungkin Allah tidak menghibur secara tepat.

Pastilah Sang Pencipta menganugerahkan hikmat yang berfaedah bagi kita di kala kesulitan menghadang.

Pengharapan di dalam Kristus berlaku untuk nanti, maupun kini dan di sini. Kedua pengharapan itu perlu diekspresikan ke dalam bentuk daya tahan dan daya juang untuk mengatasi masalah dengan konstruktif. Apalagi, Tuhan senantiasa menyertai kita bahkan sampai kepada akhir zaman (Mazmur 139: 7-12, Matius 28:20).