By. G.I. Eirene Soegijanto

Penulis lagu pujian ini sangat menyukai pemandangan di area utara kota New York, dimana terdapat pemandangan alam yang indah seperti lembah, danau, dan banyak perkebunan. Mungkin sama seperti orang Jakarta yang suka menikmati alam di area Puncak.
Setiap kali Babcock hendak pergi menikmati pemandangan tersebut, ia selalu berpamitan kepada istrinya dengan mengatakan, “Aku mau pergi menikmati dunia Bapaku.”

Dan kalimat inilah yang menjadi inspirasi puisi di bawah ini (beserta terjemahan KPPK):

This is my Father’s world,
And to my listening ears
All nature sings, and round me rings
The music of the spheres.
This is my Father’s world:
I rest me in the thought
Of rocks and trees, of skies and seas–
His hand the wonders wrought.

This is my Father’s world:
The birds their carols raise,
The morning light, the lily white,
Declare their Maker’s praise.
This is my Father’s world:
He shines in all that’s fair;
In the rustling grass, I hear Him pass,
He speaks to me everywhere.

This is my Father’s world:
O let me ne’er forget
That though the wrong seems oft so strong,
God is the Ruler yet.
This is my Father’s world:
Why should my heart be sad?
The Lord is King: let the heavens ring!
God reigns; let earth be glad!

Ini dunia Bapa,
anak dengarkanlah!
Langit, bumi memuji Dia,
bintangpun menggema.
Ini dunia Bapa,
hatiku tenanglah,
pohon, bunga, langit dan laut,
nyatakan kuasa-Nya.

Ini dunia Bapa,
burung menyanyilah!
Terang, fajar, mekar bunga,
nyatakan cipta-Nya.
Ini dunia Bapa,
kasih-Nya besarlah,
dan semua yang bernapas,
nyatakan hadir-Nya.

Ini dunia Bapa,
s’lalu ‘ku ingatlah!
Kuasa dosa tak berjaya,
hanya Ia berkuasa.
Ini dunia Bapa,
hatiku tak susahlah,
umat semua memuji Dia,
nyatalah takhta-Nya.

Puisi ini diawali dengan menceritakan begitu indahnya dunia yang diciptakan Allah Bapa. Pepohonan, bebatuan, langit, lautan, semua diciptakan Allah dengan begitu indahnya. Nyanyian burung-burung, cahaya matahari, bunga, bahkan rumput pun menciptakan “musik” bagi mereka yang mendengarkan. Indah sekali, bukan?
Tapi tunggu dulu, itu mungkin “dunia” di abad 19, masih indah dan pencemaran alam tidak seperti saat ini. Lihat saja dunia kita saat ini, sampah plastik mencemari tanah dan lautan kita, ikan dan burung mati dengan sampah plastik di tubuh mereka. Pestisida digunakan di hampir semua perkebunan, sehingga buah dan sayuran tanpa pestisida (organik) cuma terbeli oleh kaum berkantong tebal. Belum lagi bahan kimia antah-berantah yang dimasukkan ke dalam pakan ternak ayam, sapi, ikan, untuk membuat mereka bertumbuh secara cepat, gemuk, dan menggiurkan di mata konsumen.
Tak mungkin dunia yang seperti ini dikatakan INDAH, bukan?

Saudaraku, dunia yang diciptakan Allah jatuh ke dalam dosa sejak manusia pertama melanggar perintah Allah. Dunia ini, dalam keberdosaannya, sedang menuju kehancuran. Namun kehancuran tersebut sudah dimulai sejak dosa muncul, bukan hanya beberapa dekade atau beberapa abad terakhir. Setiap generasi manusia pasti mengalami kehancuran dunia, melalui perang, bencana alam, polusi, dan lain-lain. Memang banyak kehancuran dunia disebabkan ulah manusia sendiri, namun ada pula yang tidak terelakkan, seperti gempa bumi baru-baru ini yang dialami masyarakat di Lombok dan sekitarnya. Manusia tidak dapat berbuat apapun untuk mencegah terjadinya gempa bumi, yang tidak hanya menyebabkan kehancuran alam, namun juga korban jiwa.

Salah seorang teman dekat saya di Brunei adalah seorang non-kristen. Karena anak-anak kami seumuran, kami sering bertamu ke rumahnya, atau sebaliknya mereka ke rumah kami untuk “playdate.” Ia seringkali menceritakan kepada saya tentang kekuatirannya terhadap bahan makanan yang ada di Brunei. Ia tidak berani membeli ikan laut karena ia melihat video di youtube tentang paus yang mati dengan plastik di perutnya, juga karena posisi Brunei cukup dekat dengan Jepang (radiasi nuklir Fukushima). Ia tidak berani membeli daging karena kuatir akan pakan yang diberikan kepada sapi atau babi, yang menurutnya pasti mengandung bahan-bahan kimia. Ia hanya berani membeli ayam kampung dan telur ayam kampung, yang itupun masih dia pertanyakan darimana asalnya ayam kampung yang dijual tersebut. Ia hanya membeli sayur-sayuran dan buah-buahan organik dari negara tertentu yang dia yakin bukan produk GMO. Saya sungguh tercengang ketika ia menceritakan semua kekuatirannya ini. Dan kemudian saya berpikir, apakah saya memiliki kekuatiran seperti dirinya?

Sebagai ibu rumah tangga, saya juga memperhatikan asal bahan makanan yang saya masak untuk keluarga saya. Bahkan saya sempat terpikir untuk menanam sendiri sayur-sayuran di sepetak tanah di kebun saya, agar makanan kami tidak terpapar pestisida. Namun apakah kekuatiran saya sampai pada ketakutan yang membuat saya takut akan semua hal yang masuk ke dalam tubuh saya dan keluarga saya?
Ah, tidak juga.
Bukankah saya selalu berdoa untuk makanan yang akan kami santap?
Saya yakin di dalam “berkat Tuhan” yang saya pinta atas makanan kami, di sana juga ada berkat kesehatan dan kedamaian pikiran.

Pembicaraan dengan teman saya ini mengingatkan saya akan lagu pujian ini, khususnya baitnya yang ketiga, yang terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini:
“Jangan lupa, meskipun kejahatan (atau hal-hal yang buruk) terlihat sangat kuat dan merajalela di dunia ini, Allah tetap Sang Penguasa.
Jangan bersedih hati, Allah adalah Raja.
Tuhan bertahta, bersukacitalah!”

Dunia saat ini mungkin tampak hancur, seperti tidak ada harapan, namun ingatlah Allah berdaulat.
Allah yang mempedulikan burung pipit dan bunga liar di padang, Allah yang sama tidak membiarkan sehelai rambutmu jatuh tanpa sepengetahuanNya, betapa berharganya engkau di mataNya!
Mungkin duniamu saat ini tampak hancur, ekonomi keluargamu terpuruk, masa depan tidak jelas, dan segala sesuatunya tampak suram. Angkatlah wajahmu, lihatlah dunia Allah Bapa kita dari kacamata Sang Raja di atas segala raja.

Lihatlah dunia Allah melampaui segala kehancuran duniamu,

lihatlah kedaulatan Allah atas dirimu dan atas seluruh bumi,

dengarkanlah keindahan musik semesta,

dan bersukacitalah!

Eirene Soegijanto
25.08.2018