Gempal berarti padat atau berisi. Demikian juga seharusnya iman dan pikiran kita menjadi semakin gempal menghadapi bencana alam (khususnya gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan sekitarnya) dan bukannya malah asyik dengan hoax. Beberapa orang bercakap dan mempertanyakan kenapa Indonesia gagal untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat tentang gempa dan tsunami kepada masyarakat. Untuk membuat kita semakin gempal dengan pengetahuan maka perlu kita tahu bersama bahwa hingga saat ini (tahun 2018) belum ada teknologi yang dapat menebak tahun berapa gempa akan terjadi di suatu tempat. Jadi jika menebak tahun saja tidak bisa, apalagi menentukan hari ketika gempa akan terjadi. Jadi, tidak mungkin memperingatkan masyarakat akan terjadinya gempa! Peringatan dini lebih tepat diterapkan kepada kemungkinan terjadinya tsunami yang tidak terjadi secara mendadak mengikuti gempa.

Bumi terdiri dari beberapa lempengan yang saling bertemu dan bergesekan. Gempa adalah kondisi di mana pertemuan antar lempengan bumi tersebut tidak dapat lagi menahan pergeseran tersebut sehingga melepaskan energi yang besar ke sekitarnya. Gampangnya seperti anda menempelkan tangan di balon, lalu anda menggerakkan tangan seperti mencubit balon, maka pada mulanya permukaan balon akan mengikuti jari anda, tapi kemudian tiba-tiba permukaan balon itu akan lepas dari permukaan jari anda, mengeluarkan suara dan sedikit panas. Suara dan panas tersebut adalah energi yang keluar dari gesekan antara balon, jari dan udara. Gempa (tektonik) adalah seperti balon dan jari yang jutaan bahkan milyaran kali lebih kuat.

Sebagian besar daerah Indonesia jelas adalah daerah yang rawan gempa, kecuali Kalimantan dan sebelah timur Sumatera (bagi pendukung pemindahan ibu kota Indonesia mungkin hal ini bisa menjadi salah satu alasan penting kenapa Kalimantan adalah alternatif terbaik, mungkin…).

Oleh sebab itu, seharusnya gempa dan tsunami ini bukan sekadar menjadi kejadian yang gempar dengan berbagai macam hastag atau pun kegiatan sosial-kemanusiaan, melainkan harus menjadikan bangsa Indonesia gempal dalam hal siaga dan penanganan bencana (preventif maupun kuratif).

Sebagai orang beriman, contoh gempal iman ditunjukkan dengan keberanian untuk menjadi kontraktor yang tidak bersedia membangun serampangan demi keuntungan finansial (jangan sampai ada kisah hotel atau mal yang rubuh seperti balok mainan, padahal sebenarnya dengan arsitektur, struktur dan kontur tanah yang benar walaupun lebih mahal, maka bangunan cenderung akan bertahan), menjadi jemaat yang memperhatikan tangga darurat, alat pemadam dan titik evakuasi. Gempal iman juga berarti tidak bermain-main dengan AMDAL (analisa dampak lingkungan) sebagai syarat proyek besar, baik untuk kebaikan kita sendiri, maupun orang lain di sekitar kita.

Ternyata iman konsekuensinya mahal.

Saya insaf dan berdoa, “kyrie eleison.”, “Tuhan kasihanilah aku.” Kasihanilah juga saudara-saudara kami yang sedang terkena bencana ya Tuhan.

 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh

berusaha untuk menambahkan kepada imanmu   kebajikan,

dan kepada kebajikan pengetahuan,

  dan kepada pengetahuan penguasaan diri,

   kepada penguasaan diri ketekunan,

  dan kepada ketekunan kesalehan,

  dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara,

dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih   akan semua orang.

2 Petrus 1:5-7