by. GI. Alice

Lagu himne adalah nyanyian yang terus dikumandangkan dan sudah menjadi berkat selama berabad-abad di dalam sejarah gereja.  Lagu himne ini biasanya ditulis sebagai suatu refleksi pengalaman hidup sang penulis bersama dengan Tuhan.  Kadang pengalaman tersebut merupakan pengalaman sukacita, namun tidak sedikit juga lagu-lagu himne ditulis dengan latar belakang pengalaman hidup sang penulis dalam masa yang sukar dan penuh penderitaan.

Pada minggu pertama bulan ibadah dan musik GKY Sunter tahun ini, salah satu lagu himne yang akan kita bahas adalah sebuah himne yang berjudul “Tak Hentinya Kupuji Dia.”  Lagu himne yang kita nyanyikan dalam bahasa Indonesia ini merupakan terjemahan dari himne “He Keeps Me Singing” yang syair dan melodinya ditulis oleh seorang berkebangsaan Amerika bernama Luther Burggess Bridgers (1884-1948).

Pada saat kita mendengar himne ini dikumandangkan, sebagian besar kita tentu sepakat menyebut himne ini sebagai pujian yang riang dan penuh sukacita.  Selain daripada kata-kata yang sangat positif, melodi sederhana yang dipadukan dengan ritme yang lincah semakin mendukung keceriaan dari pujian ini.  Sebagian dari kita mungkin menduga sang penulis syair dan melodi dari pujian tersebut menulis pujian ini pada masa bahagia dalam hidupnya.  Namun, kenyataannya Bridgers justru membuat pujian ini di tengah lembah kekelaman yang sangat mengerikan di dalam kehidupannya.

Bridgers telah melayani sebagai pengkhotbah dan misionaris sejak umur 17 tahun.  Ia menikah dengan seorang wanita yang sangat ia cintai dan dikarunai 3 orang putera.  Suatu ketika, pada tahun 1910, ia harus pergi melayani pemberitaan Firman ke luar daerah.  Dikarenakan perjalanan pelayanan yang cukup panjang, ia pun akhirnya harus menitipkan isteri dan ketiga anaknya di rumah ayah mertuanya yang berada di Kentucky.  Saat itu Bridgers tidak menduga jika lambaian tangan dan flying kiss bye dari anak-anaknya merupakan lambaian terakhir yang tidak akan dapat ia nikmati lagi.

Setelah tiba di kota tempat ia memberitakan Injil, keesokan paginya ia mendapat sebuah panggilan telepon yang singkat, namun sangat menusuk hati, “Tuan Bridgers, rumah mertuamu terbakar habis! Termasuk isteri dan ketiga anakmu, tidak ada yang selamat.”  Saat memegang gagang telepon itu ia tidak dapat mengatakan sepatah kata pun, karena saat itu seolah-olah ia mendengar Iblis menertawakannya dan mengatakan, “Allah tidak mengasihi-Mu.  Apakah engkau akan tetap menyembah Allah yang seperti itu?”  Dengan lemas Bridgers menutup teleponnya, kemudian ia berlutut dan berdoa, “Tuhan, aku mengabarkan Injil kepada orang lain, dan mengatakan di mimbar bahwa Injil itu akan menghibur mereka di dalam keadaan duka.  Tolong curahkan Injil yang sama itu ya Tuhan, Injil yang dapat menghiburku di masa dukacita ini.

Puji Tuhan! Tuhan menjawab doanya.  Dan pujian ini menggambarkan kehidupan Bridgers sebagai pengikut Kristus yang tetap dapat mengumandangkan pujian sukacita di tengah dukacita.  Sungguh luar biasa! Dalam pujian riang inilah Bridgers menuliskan iman dan pengalamannya bersama dengan Tuhan.

Mengapa pengikut Kristus tetap dapat bersukacita di dalam masa yang sukar?

Dalam bait pertama Bridgers menuliskan bahwa di dalam pasang surut kehidupan, Yesus memberikan pengikut-Nya damai sejahtera. (Yoh. 14:26-27, Rm 5:1-5)

Ada kidung dalam hatiku, bisikan manis Tuhan,

“Jangan takut, ‘Ku besertamu, ‘Ku kan jaga hidupmu

 

Dalam bait yang kedua dikatakan bahwa Yesus memberikan kita berkat anugerah dan sebuah relasi indah dan dimana kita dapat terus bernyanyi bagi Dia

Berkat anug’rah-Nya melimpah, ‘ku bernaung dalam-Nya,

‘ku melihat senyum wajah-Nya, tak henti kupuji Dia.

 

Dan di bait yang terakhir, Yesus Kristus akan datang kembali dan membawa kita ke tempat kediaman Bapa di sorga.

Tak lama lagi Ia ‘kan datang, akan ‘ku menyambut-Nya,

dan ‘ku ‘kan dijemput ke sorga, bertakhta bersama-Nya.

 

Sungguh sangat indah! Dan di bagian reff nya Bridgers menyimpulkan semua berkat anugerah itu hanya didapat di dalam Yesus Kristus.

Yesus, Yesus, Yesus, nama terindah,

menghibur hatiku, tak henti kupuji Dia.

 

Ya! Yesus Kristus lah yang membuat kita dapat tetap bersukacita dan terus memuji Tuhan sekalipun di masa yang sukar.  Biarlah pujian ini juga menjadi pujian yang terus berkumandang di dalam kehidupan kita jemaat GKY Sunter; bukan hanya selama bulan ibadah dan musik tahun ini saja.  Kiranya bersama dengan Bridgers, setiap kita dapat berkata dengan sukacita,

Jika Tuhan telah melakukan begitu banyak hal buatku, maka di masa sulit pun aku tetap dapat bernyanyi.  Tak henti kupuji Dia!” Amin.

 

HE KEEPS ME SINGING

 

  1. There’s within my heart a melody
    Jesus whispers sweet and low,
    Fear not, I am with thee, peace, be still,
    In all of life’s ebb and flow.
  2. Feasting on the riches of His grace,
    Resting ’neath His shelt’ring wing,
    Always looking on His smiling face,
    That is why I shout and sing.
  3. Soon He’s coming back to welcome me,
    Far beyond the starry sky;
    I shall wing my flight to worlds unknown,
    I shall reign with Him on high.

Refrain:
Jesus, Jesus, Jesus,
Sweetest Name I know,
Fills my every longing,
Keeps me singing as I go.