by. GI. Markus Boone

Memang ada tertulis bahwa Tuhan memberikan hukuman kepada musuh dari umat-Nya, misalkan Firaun dan Mesir yang memperbudak Israel. Tidak heran saat ini ada tersebar foto yang menunjukkan gereja tetap berdiri di tengah daerah bencana, dan hal ini diklaim sebagai tanda bahwa Tuhan menjaga umat-Nya dan bencana yang sedang terjadi adalah tanda hukuman bagi musuh umat-Nya.

https://www.jawaban.com/read/article/id/2018/10/01/91/181001164444/hotel_sebelahnya_rata_dengan_tanahgereja_ini_tetap_kokoh_saat_diguncang_gempa_palu

Sayangnya, di Kitab Suci juga dituliskan bahwa Tuhan memberikan hukuman juga kepada umat-Nya ketika mereka bersalah dan tidak bertobat, misalkan bangsa Israel dibuang ke Babel. Nah, kalau begini maka bingunglah kita, jadi bencana itu hukuman bagi musuh umat atau justru hukuman bagi umat-Nya yang berdosa dan tidak bertobat? Semakin bingung lagi jika kita pikirkan bahwa Tuhan menjaga bangunan gereja yang berdiri di tengah bencana, bukankah gereja adalah orangnya dan bukan gedungnya,

Jika Tuhan ingin memperlihatkan kuasanya bahwa ini adalah hukuman bagi musuh umat-Nya kenapa bangunan gereja yang dijaga utuh, sedangkan orang-orang percaya menjadi korban?

Saya rasa patut kita merenungkan ayat Firman Tuhan, “Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh. 9:2). Mudah sekali murid-murid Yesus (dan kita sekalian) untuk mencoba mencari tahu sebab dari ketidak-beruntungan atau sebab dari penderitaan, sehingga keluarlah perkataan, “hal ini karena dosanya si itu”, “bencana itu karena dia melakukan ini” dan sebagainya. Tetapi jawaban Yesus melampaui pikiran dan pilihan dari para murid. Dia menyatakan bahwa dalam situasi yang buruk itu justru ada “pekerjaan-pekerjaan Allah” yang harus dinyatakan.

Kalau tidak ada bencana kita tidak akan bekerja sama dengan umat Islam, Katolik, Budha, Hindu, nasionalis, ateis, selebritis, pengemis dan lainnya. Bencana membuat umat manusia bersatu karena menyadari bahwa di hadapan tenaga alam, manusia tidak ada apa-apanya. Manusia menyadari bahwa musuh mereka bukanlah sesama, melainkan bencana yang muncul dari tengah alam. Bencana menyadarkan bahwa manusia kecil dan lemah dan tidak boleh pongah terhadap alam…apalagi pongah terhadap Tuhan.

Selain itu bencana juga menyatakan kegelapan diri manusia yang dinyatakan dalam penjarahan, kekerasan, korupsi oleh pihak penerima dana, penimbunan, penjualan barang yang super mahal untuk mengeruk keuntungan dari kondisi bencana dan penyebaran isu-isu terkait bencana demi kepentingan politis. Bencana menyadarkan bahwa manusia membutuhkan penebusan atas kejahatannya, bahwa manusia membutuhkan pembaharuan dari Allah.

Bencana menyatakan hal-hal yang penting bagi penceritaan Injil kasih karunia Tuhan Allah, yaitu bahwa manusia lemah, fana dan berdosa dan membutuhkan pertolongan dari luar.

Aib jika orang sedang menderita bencana kita tidak tolong, mari kita menolong korban bencana! Aib jika orang sedang menderita kita paksa menjadi Kristen dengan imbalan bantuan/donasi, jangan kita lakukan hal itu. Aib jika korban bencana terbuka mata rohaninya dan mencari jawaban namun kita tidak mampu untuk menceritakan bahwa Tuhan Yesus mengasihi mereka dan mau menyelamatkan mereka dari bencana dosa dan kematian rohani.

Kiranya bencana ini membuat kita insaf untuk tidak menghakimi dan mengutuki orang lain, melainkan “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” (Yoh.9:4-5)