by. GI. Alice

Pernahkah Anda berada pada sebuah titik dimana Anda kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirimu dan merasa tidak dapat berbuat apa-apa?

Charlotte Elliot (1789-1871) seorang penulis himne dari Inggris pernah merasakan hal tersebut.  Pada umur 32 tahun wanita cerdas dan yang dikenal penuh semangat ini harus mengalami sebuah penyakit serius yang membuat dirinya menjadi lumpuh dan cacat hingga akhir hidupnya.

Di dalam titik mengerikan dalam hidupnya itu, ia merasa hidupnya hancur dan tidak ada hal apa lagi yang dapat ia berikan bagi siapapun.  Di masa stress tersebut, seorang hamba Tuhan dari Swiss bernama César Malan datang kepadanya dan berbicara banyak hal tentang Yesus.

https://www.christianity.com/church/church-history/timeline/1801-1900/charlotte-elliott-faced-god-with-one-plea-11630559.html

Sekalipun Elliot lahir dari keluarga Kristen yang saleh, namun pertemuan Elliot dengan Malan merupakan titik balik perjumpaan Elliot dengan Kristus.  Dalam perbincangannya dengan Malan, Elliot bertanya, “Dalam keadaan (cacat) seperti ini, bagaimana saya dapat datang berjumpa dengan Kristus Penyelamat saya?”  Malan menjawab, “Kamu tidak perlu punya sesuatu yang memukau untuk berjumpa dengan-Nya.  Datanglah pada Tuhan dengan dirimu yang apa adanya (just as you are).”

Frasa ‘just as you are’ itulah yang terus terngiang di dalam kepala Elliot.  Dan ia melakukannya; di tengah keterbatasannya, ia datang pada Tuhan yang anugerah-Nya besar.  Sekalipun Elliot secara fisik tidak berdaya, namun ia tahu ia dapat datang kepada Tuhan yang tidak akan pernah menolak-Nya.

Elliot menuliskan pengalaman hidupnya di dalam himne ini.  Di dalam bait yang pertama, Elliot menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak layak untuk datang kepada Allah dengan segala keberadaannya, namun Eliot tahu ia dapat tetap datang kepada Allah, karena ia telah diampuni oleh Kristus melalui darah-Nya yang telah dicurahkan di Kalvari.

Sebenarnya ‘ku tak layak, namun ‘ku dib’ri darah-Mu.  Dan engkau memanggil daku, ya, Domba Allah, ‘ku datang.

Kata-kata dari pujian ini sudah menjadi berkat bagi banyak orang.  Berbagai kesaksian dinyatakan; Dora Wordsworth ingin terus dibacakan kata-kata dari pujian ini hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.  Sir Henry Norman juga menyaksikan bahwa ia mengalami pertobatan melalui pujian ini.  Bahkan, Billy Graham menggunakan judul pujian ini sebagai judul buku otobiografi pelayanannya.

Kiranya pujian ini juga dapat menjadi berkat bagi setiap kita jemaat GKY Sunter yang datang memenuhi undangan Allah untuk beribadah kepada-Nya setiap minggu.

Sesungguhnya di dalam keberdosaan kita, kita memang tidak layak untuk berjumpa dengan Allah yang agung dan kudus itu.  Namun, pengampunan dosa melalui darah Anak Domba Allah yang telah dicurahkan itulah yang melayakkan kita untuk datang kepada-Nya.

Mari, datanglah kepada Tuhan dengan merendahkan diri kita dan dengan hati penuh ucapan syukur kepada-Nya.  Puji Tuhan!

Just as I am – without one plea,
But that Thy blood was shed for me,
And that Thou bidst me come to Thee,
– O Lamb of God, I come!

Sebenarnya ‘ku tak layak, namun ‘ku dib’ri darah-Mu.
Dan engkau memanggil daku, ya, Domba Allah, ‘ku datang.

Just as I am – and waiting not
To rid my soul of one dark blot,
To Thee, whose blood can cleanse each spot,
– O Lamb of God, I come!

Kini kudatang pada-Mu, sungguh aku tak berdaya.
Hanya darah-Mu basuhku, ya, Domba Allah, ‘ku datang.

Just as I am – of that free love
The breadth, length, depth, and height to prove,
Here for a season, then above,
– O Lamb of God, I come!

Dengan kasih kau t’rimaku, sucikanku, s’lamatkanku.
Janji-Mu pasti jadilah, ya, Domba Allah, ‘ku datang.