Oleh GI Emanuel Cahyanto, M.M., M.Th.

 

Pada tahun 2017 silam, Biro Sensus Amerika Serikat mengadakan survei tentang kondisi keluarga di negeri Paman Sam. Hasil dari survei tersebut menyatakan sekitar satu dari empat anak di Amerika dibesarkan tanpa ayah. Riset itu juga menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan tanpa ayah memiliki resiko lebih besar untuk drop out dari sekolah, hamil di usia remaja, memiliki perilaku yang bermasalah seperti tindak kriminalitas, menggunakan alkohol dan obat-obatan, sehingga lebih besar probabilitasnya untuk dipenjarakan.

Survei yang dilakukan di Amerika di atas mencakup rumah tangga yang mana sang ayah secara fisik tidak ada di rumah. Namun, tidak sedikit jumlah pria yang mengabaikan peran dan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah walaupun secara jasmani ia ada di rumah. Melalui pengamatan, pelayanan konseling selama beberapa tahun terakhir, dan berbagai interaksi dengan keluarga-keluarga Kristen, saya menyadari bahwa masih banyak ayah-ayah yang tidak berusaha membangun relasi dengan anak. Heart to heart connection tidak terjalin, hubungan dengan anak ada di level yang dangkal saja. Ayah sekadar memenuhi kebutuhan dasar tanpa berupaya membangun hubungan yang dekat.

Belasan tahun yang lalu, dalam diskusi yang intens dengan beberapa keluarga Kristen, hampir seluruh pribadi yang terlibat berkata kepada saya bahwa tugas dari seorang ayah adalah memenuhi kebutuhan materiil dari keluarganya. Tugas ibu yaitu mengelola urusan rumah tangga dan mengasuh anak dengan segala macam kebutuhannya. Pada kesempatan yang berbeda, seorang ibu yang merupakan pengikut Kristus yang setia berkata bahwa anak laki-lakinya sangat sibuk. Oleh sebab itu, tugas untuk mengasuh cucunya menjadi tanggung jawab si menantu perempuan. Sebuah paham yang klasik dari budaya yang cenderung meletakkan beban untuk membesarkan dan mendidik anak kepada sosok ibu.

Sementara itu, beberapa istri yang saya jumpai mengutarakan rasa frustasi karena suami sungguh-sungguh absen dalam mengasuh anak-anak. Padahal melakukan pekerjaan rumah tangga, merawat anak, dan menunaikan tugas sebagai istri sangat melelahkan. Tenaga dan emosi terkuras nyaris setiap saat. Lalu, banyak juga anak yang ingin agar para ayah menyediakan dirinya untuk lebih dekat dengan setiap putra maupun putri mereka. Sayang bahwa masih banyak pria yang memilih untuk absen dari kehidupan berumah tangga.

Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk memperbesar kesadaran para ayah Kristen tentang peran dan tanggung jawabnya. Saya merindukan bertambahnya jumlah pria-pria Kristen yang tergerak untuk memupuk relasi dengan anak. Pada akhirnya, setiap anak yang yang dianugerahkan oleh Allah akan diasuh dan dididik menurut kehendak Allah.

Pemahaman yang mendasar tentang hubungan antara ayah dengan anaknya tersirat melalui narasi penciptaan, seperti tertulis di dalam Alkitab. Kejadian 1:26, 27 mengungkapkan bahwa Allah menciptakan Adam dan Hawa. Kedua manusia pertama tersebut diciptakan dari “debu tanah” (Kejadian 2:7). Alkitab juga memberitahukan kepada kita bahwa keberadaan setiap anak yang berada di dalam kandungan seorang ibu sesungguhnya dibentuk dan ditenun oleh Allah (Mazmur 139:13). Penelaahan terhadap ayat-ayat tersebut di atas menguak perbedaan antara penciptaan manusia pertama dengan penciptaan generasi berikutnya. Apabila Adam dan Hawa dibentuk secara langsung oleh tangan Allah, maka keturunan selanjutnya dari manusia dibentuk oleh Allah melalui proses alamiah yang melibatkan ayah maupun ibu. Artinya, Allah memberikan sebuah kepercayaan yang besar kepada orang tua. Keduanya menjadi rekan kerja Allah dalam karya penciptaan di tengah-tengah dunia.

Alkitab menyatakan bahwa setiap anak ciptaan Allah adalah “milik pusaka” (Mazmur 127:3). Artinya, ayah dan ibu mendapatkan kepercayaan untuk merawat dan mengasuh anak-anak yang sangat berharga di mata Allah. Suatu ketika saya dititipkan oleh seorang rekan dokumen-dokumen yang sangat berharga baginya dan keluarga. Ia menitipkan barang-barang yang amat penting itu karena kepercayaannya kepada saya. Dari pihak saya, ketika menyadari signifikansi dari seluruh dokumen tersebut, secara sadar saya memilih untuk menyimpannya dengan benar. Saya meluangkan waktu untuk ‘merawat’ dan ‘memperhatikan’ dokumen-dokumen orang itu dengan sebaik mungkin. Saya ingin dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepada saya dengan semestinya. Apabila terhadap suatu kepercayaan dari manusia kita berusaha untuk bertanggung jawab sebaik mungkin, apalagi terhadap kepercayaan yang Allah berikan.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa dalam kaitan dengan anak, ayah maupun ibu harus mempertanggungjawabkannya dengan sangat serius di hadapan Allah.

Alkitab menempatkan ayah sebagai kepala dalam keluarga (Efesus 5:23). Ayah seharusnya menjadi penanggung jawab utama untuk mengasuh dan mendidik generasi penerus. Pandangan yang Alkitabiah ini menolak paham dari budaya yang seolah-olah mengizinkan ayah untuk tidak aktif di dalam keluarganya. Akan tetapi, Alkitab secara tegas menempatkan seorang ayah sebagai pemimpin. Ayah semestinya menjadi penggerak utama dari tindakan yang secara sadar dan sengaja dilakukan untuk membesarkan anak di dalam kehendak Allah.

Kejadian 1:26-28 menyatakan rencana dari Allah yang berdaulat, yakni bahwa anak-anak yang dilahirkan seharusnya mampu untuk menaklukan dan menguasai alam ciptaan sehingga nama-Nya semakin dimuliakan (bandingkan dengan Roma 11:36).

Dengan demikian, setiap anak harus dibimbing untuk semakin mengasihi Allah (Ulangan 6:4-9), hidup dalam kebenaran (Amsal 22:6), menemukan bakat dan karunia yang Allah anugerahkan (Matius 25:14-30), serta diarahkan begitu rupa supaya memuliakan Allah secara nyata di dalam berbagai sendi kehidupan (Kejadian 2:15).

Untuk mencapai sasaran pertumbuhan seperti tertulis di atas, para ayah hendaknya berjuang untuk beberapa hal. Pertama, para ayah adalah imam di dalam keluarga (Efesus 5:25-27). Oleh karena itu para ayah hendaknya mendoakan anak-anak, baik dalam doa yang dipanjatkan secara pribadi, maupun mendoakan anak-anak secara langsung, seperti ketika mereka akan berangkat sekolah, sebelum tidur, saat ibadah keluarga, atau sewaktu anak-anak sedang bergumul untuk hal-hal tertentu.

http://wanita.sabda.org/tujuh_tip_untuk_mengajar_anak_anda_mencintai_dan_menggunakan_alkitab

Selain mendoakan anak, sebagai imam para ayah juga hendaknya mengajar anak-anak tentang Allah dan segala perintahnya dengan berulang-ulang, memanfaatkan berbagai kesempatan dan melalui beragam cara (Ulangan 6:7-9). Seorang ayah dapat menggunakan ibadah keluarga untuk mengajarkan kebenaran firman Tuhan, mendiskusikan kotbah atau pengajaran yang didengar oleh anak dari Sekolah Minggu dalam perjalanan pulang ke rumah, atau mengisi waktu ketika mengantar anak ke sekolah untuk menyampaikan suatu kebenaran yang penting. Mungkin ada di antara para pembaca yang merasa dirinya tidak sanggup untuk mendidik anak-anak agar semakin mengenal berbagai kebenaran firman Tuhan. Akan tetapi, saya mengajak agar para ayah tidak memandang tindakan yang baik itu sebagai sebuah beban ataupun hambatan. Janganlah pula dipandang sebagai tantangan, tetapi pandanglah sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Yang pertama, bertumbuh semakin akrab dengan firman Tuhan. Pandanglah ini sebagai kesempatan supaya kita semakin rutin membaca dan merenungkan Alkitab. Berikutnya, ini adalah kesempatan untuk memperkaya pemahaman akan kebenaran firman Tuhan. Sekarang ini sangat banyak alat bantu supaya kita dapat semakin mengerti firman Tuhan. Kita dapat menggunakan study bible untuk membantu kita mendalami firman Tuhan, dan study bible yang baik dapat dengan mudah didapatkan di toko-toko buku Kristen. Yang perlu seorang ayah lakukan adalah mengkhususkan waktu untuk membaca dan mempelajari firman Tuhan. Dengan demikian, setiap ayah Kristen akan mendapatkan manfaat yang besar bagi pertumbuhan rohaninya secara pribadi. Selanjutnya, ia akan semakin mampu untuk menjelaskan dan membicarakan berbagai kebenaran Alkitabiah  kepada anak-anaknya.

Hambatan bagi setiap ayah untuk dapat mendoakan dan mengajarkan kebenaran kepada anak-anak adalah hubungan pribadinya dengan Tuhan. Kita perlu mengingat bahwa sebelum seorang ayah diminta untuk mengajar kepada anak-anak, ia harus terlebih dahulu memiliki relasi pribadi dengan Allah (Ulangan 6:5). Di samping itu ada satu kesulitan yang lebih ingin saya diskusikan pada kesempatan ini, yaitu perasaan canggung, bimbang, atau kecemasan dalam diri seorang ayah karena memang selama ini tidak pernah ada percakapan yang cukup baik, yang personal, dan dari hati ke hati dengan anak. Seorang ayah dari keluarga yang lain, selama ini sangat irit berbicara dengan anak-anaknya. Setiap kali pulang dari kerja, ia cenderung mengurung diri dalam ruang kerja atau melakukan berbagai hal kesukaannya sendiri. Pembicaraan sangat sedikit dengan anak. Interaksi dengan anak juga jarang sekali. Dapat dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas untuk berkomunikasi dengan anak tergolong buruk.

Bagaimana mungkin ayah ini dapat mengkhususkan waktu dan tenaga untuk mendoakan serta mengajarkan kebenaran, apabila ia tidak pernah mempercakapkan hal-hal yang sangat biasa dan sehari-hari dengan anak-anaknya?

Kedua, seorang ayah Kristen hendaknya mengenal keunikan dari masing-masing anak, supaya dapat menolong mereka menemukan bakat dan karunia rohani yang diberikan oleh Allah. Saya meyakini ada kemampuan dan keterampilan yang diberikan sejak lahir, yang saya sebut sebagai bakat alamiah. Contohnya, Daud yang memiliki keahlian di bidang musik (1 Samuel 16:14-23), sama dengan Yubal keturunan Kain—keturunan orang fasik—yang disebut sebagai bapa orang-orang yang memainkan kecapi (Kejadian 4:21). Bezaleel memiliki keahlian dan pengertian untuk membuat berbagai benda dari emas, perak dan tembaga (Keluaran 31:4). Kemampuan pada diri Bezaleel dimiliki pula oleh pribadi seperti Tubal-Kain yang juga termasuk ke dalam keturunan orang fasik (Kejadian 4:22). Artinya, Allah memberikan bakat sejak lahir kepada umat-Nya maupun kepada mereka yang tidak menjadi bagian dari umat Allah. Perbedaannya adalah, bakat alamiah yang ada pada diri seorang umat Allah dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang memuliakan Allah. Berbeda dengan bakat alamiah, karunia rohani adalah kemampuan dan keterampilan yang secara khusus diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang percaya kepada Kristus (1 Korintus 2:14). Contoh-contoh karunia rohani adalah karunia mengajar, kemurahan hati, memimpin, membimbing dan menasihati (Roma 12:6-8, Efesus 4:11). Secara fenomena, karunia rohani tampaknya sama dengan bakat alamiah. Akan tetapi, karunia rohani tidak Allah anugerahkan kepada kaum yang tidak percaya. Oleh karena, karunia rohani diberikan untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7), supaya orang percaya saling melayani (1 Petrus 4:10) sehingga terjadi pertumbuhan yang semakin menyerupai Kristus (Efesus 4:11-15).

Saya meyakini kepada setiap anak dari keluarga Kristen, Tuhan mengaruniakan bakat dan karunia rohani.

Tugas dari seorang ayah adalah mendukung anaknya untuk menemukan segala sesuatu yang Allah berikan kepadanya.

Akan tetapi, sayang sekali bahwa banyak ayah yang terjebak pada arus budaya yang memberikan perhatian besar kepada keahlian di bidang matematika, bisnis, bidang medis, maupun kemampuan lain yang lagi hits di zamannya, seperti musik, balet, bahasa mandarin, dan sebagainya. Padahal mungkin kepada sang anak Tuhan anugerahkan kelebihan yang lain seperti minat untuk mengamati dan melayani anak-anak kecil, maka mungkin anak ini berkembang menjadi seorang ahli dalam area early childhood development. Yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah dalam keluarga Kristen adalah mengenal kekuatan dan kelemahan setiap anak, juga berani untuk tidak mengikuti pengaruh dari budaya. Yang terpenting, anak mendapatkan bakat dan karunia yang Allah berikan, lalu mengembangkan serta memanfaatkannya, supaya anak menjadi rekan kerja Allah sesuai kehendak-Nya di dalam dunia. Berdasarkan penjelasan di atas, prasyarat bagi sang ayah untuk dapat membantu anak mendapatkan keunikan dirinya ialah kedekatan relasi dengan anak. Bagaimana mungkin seorang ayah dapat mengenali kelebihan atau kekurangan anaknya, bila hubungan dengan anak tidak dipupuk sebaik mungkin?

Ketiga, para ayah Kristen semestinya menerapkan disiplin bilamana dirasakan perlu (Amsal 13:24, 29:15, Ibrani 12:7-11). Namun pada saat yang sama setiap ayah harus juga mengingat akan perintah dari Alkitab supaya anak-anak tidak sampai memendam amarah (Efesus 6:4) dan tidak menjadi tawar hati (Kolose 3:21). Artinya, disiplin sebagai bentuk koreksi bagi anak harus diterapkan di dalam relasi yang mana kasih, perhatian, dan dukungan diberikan secukupnya. Dengan demikian teguran, hukuman, dan berbagai bentuk disiplin lainnya dapat dipahami sebagai ungkapan kasih dari orang tua.

Ada satu pasang orang tua yang saya kenal berusaha untuk mengasuh anak mereka di dalam jalan Tuhan. Ayah dan ibu saling bekerja sama untuk dapat mendukung anak-anak dengan sewajarnya. Suatu ketika saya menyaksikan sang ibu pergi bersama anaknya membeli suatu keperluan sekolah. Pada kesempatan yang berbeda, saya melihat sang ayah merelakan waktunya untuk mengupayakan adanya sebuah benda yang bermanfaat bagi anaknya. Akan tetapi, saya juga tahu ada waktu-waktu ketika sang ayah atau ibu memberikan teguran kepada anak-anak mereka. Pendisiplinan yang cukup keras pun pernah diterapkan oleh sang ayah. Yang menarik, anak-anak dalam keluarga itu mengetahui bahwa teguran dan pendisiplinan tersebut adalah bentuk dari kasih sayang orang tua. Anak-anak dapat memiliki kesadaran semacam itu karena mereka diasuh dalam lingkungan yang mana cinta dan dukungan secara konsisten dihadirkan di dalam keluarga. Tanpa kehangatan, kasih sayang, dan perhatian yang cukup, anak akan sulit untuk memahami Amsal 13:24 yang berkata, “Siapa mengasihi anaknya menghajar dia pada waktunya.”

Sampai tahap ini saya harap semakin jelas gagasan tentang perlunya ayah memupuk relasi dengan anak. Satu hal yang perlu ditekankan yaitu bahwa tulisan ini tidak menempatkan upaya dari seorang ayah untuk membangun hubungan dengan anak dalam kebajikan yang umum—sewajarnyalah bila seorang ayah dekat dengan anak—tetapi dalam kerangka berpikir rencana Allah bagi keluarga.

Setiap ayah Kristen harus membina hubungan dengan setiap anak, supaya anak-anak yang dianugerahkan Allah dapat diasuh dan dididik dalam kehendak-Nya, sehingga nama Allah semakin dimuliakan.

Untuk mengakhiri artikel ini, saya ingin mengajak para ayah untuk tetap optimis bahwa sejauh masih ada waktu, selalu terbuka kesempatan untuk memupuk relasi dengan anak. Berikutnya, saya menyarankan agar para ayah berdoa kepada Tuhan agar diberikan hikmat dan dibukakan strategi yang cocok untuk semakin erat dengan anak. Mintalah pula dalam doa agar Tuhan memampukan kita untuk melakukan strategi yang tepat itu. Libatkanlah istri sebagai rekan terdekat untuk berdiskusi dan menolong kita untuk memupuk relasi dengan anak. Mulailah dengan sebuah langkah yang sederhana. Misalnya, meluangkan waktu lima sampai sepuluh menit lebih lama sebelum anak berangkat ke sekolah untuk dapat membantu persiapan anak ke sekolah, dan untuk mendoakannya. Sediakan diri Anda untuk dapat mengantar atau menjemput anak ke sekolah, atau ke tempat kursus, dan sebagainya. Relakan waktu untuk membantu anak belajar, menjadi teman diskusi bagi anak menyelesaikan sebuah tugas sekolah, dan lainnya. Para ayah, mulailah dengan langkah sederhana yang dapat Anda lakukan. Bulatkanlah hati kita untuk merebut hati putra dan putri yang Allah percayakan. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati.

 

 

 

 

Topik Serupa:

Pengharapan yang sejati dan Keluarga Kristen

Kelemahan Karakter menimbulkan Konflik Keluarga

Daud Simbol Ayah yang Berdoa untuk Anak-anaknya