Ketika kita melihat ibu ini, kita pasti tidak akan menyangka bahwa ibu ini mengidap penyakit kanker yang sangat ditakuti oleh manusia. Ia dikenal bernama Henny Ho lahir tanggal 20 April 1958 di Jakarta. Ia seorang periang, energik dan sering terlibat  pelayanan dengan penuh semangat, Ia tidak terlihat telah berusia 60 tahun karena selalu ceria dan energik. Ibu Henny seorang ibu rumah tangga seperti wanita pada umumnya, namun ia aktif sebagai pelatih senam pagi setiap hari Sabtu, yang diadakan oleh Gereja GKY Sunter. Sesuai dengan firman Tuhan yang selalu dipegangnya dari Roma 12:12 – “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

 

P: Bagaimana awalnya ibu tahu kena breast cancer?

 

Pada awalnya saya merasa ada benjolan yang cukup besar di bagian payudara kiri. Kemudian saya memeriksakan diri ke dokter dan setelah di cek Lab diketahui ada benjolan daging besarnya 2,5 cm. Setelah dibiopsi dinyatakan bahwa positif kanker di payudara. Saya ingat hari itu tanggal 18 Maret 2014.

 

P: Apa perasaan yang pertama muncul waktu ibu tahu akan sakit ini?

 

Perasaan saya saat itu down banget, yang terpikir adalah “Bagaimana kelanjutannya nanti biaya pengobatan sakit ini mahal.”  Saya pernah mendengar dari teman yang juga terkena penyakit ini mengatakan bahwa sekali melakukan kemoterapi bisa menghabiskan biaya hingga 25 juta dan belum dihitung pengeluaran untuk obat-obatan. Bagaimana mungkin saya mampu membayar biaya operasi, biaya kemoterapi dan lain-lainnya?  Sehingga pikiran saya penuh dengan berbagai pertanyaan seputar biaya yang besar itu. Namun saya hanya bisa berdoa dan datang pada Tuhan. Saya percaya Tuhan selalu akan menolong saya.

 

P: Bagaimana proses pengobatan yang ibu jalani?

 

Saya sangat merasakan pimpinan Tuhan bagi saya. Memikirkan biaya yang besar dan segala kebutuhan hidupnya, saya cuma berserah pada Tuhan. Hasil biopsi sudah positif dinyatakan kanker payudara, sehingga dokter menyarankan dioperasi.  Didorong oleh anak-anak, saya pun menyetujui langkah ini seperti pikiran saya yang berkata “masa ada bom dibiarin saja.” Saya merasa bahwa hidup mati di tangan Tuhan. Dalam hati saya sudah pasrah, “mau bagaimana lagi?” Saya sudah serahkan pada Tuhan.

Saya melakukan operasi payudara tanggal 3 April 2014. Proses Kemoterapi dan Radiasi dari bln April 2014 s/d Oktober 2014.

Proses Kemoterapi akan dilakukan 6 kali. Kemo dilakukan setelah 3 minggu operasi. Kemo dilakukan setiap 3 minggu sekali. Tetapi Tuhan membuka jalan, waktu itu sudah ada BPJS dari pemerintah. Sehingga dokter yang mengoperasi saya mengatakan bahwa ia akan membantu saya untuk melakukan kemoterapi dengan memakai BPJS pasca operasi ini. Jadi saya mendapatkan rujukan ke RS. Dharmais.

 

Puji Tuhan, saya dapat menggunakan kartu BPJS mandiri. Walaupun melalui proses administrasi yang tidak mudah untuk mendapatkan jadwal kemo. Karena sekalipun tidak mengeluarkan uang untuk biaya berobatnya tetapi sungguh lelah harus mengantri untuk mendapatkan nomor sehingga saya harus menginap di Rumah Sakit. Saya belajar tetap sabar walaupun sulit dan sangat melelahkan.

 

Hasil pathology disebut triple negative, yang berarti tidak perlu makan obat hormon. Karena kebanyakan yang bukan triple negative harus makan obat hormon sampai 5 tahun. Puji Tuhan! Sehingga kemoterapi yang akan dilakukan tidak memerlukan obat yang mahal, dan semua dilakukan dengan memakai fasilitas BPJS. Puji Tuhan!

Triple negative menurut dokter sebenarnya gampang menyebar karena tidak minum obat. Tetapi saya percayakan hidup saya di tangan Tuhan.

 

Untuk kemo yang pertama berjalan baik tetapi saya merasa mual dan tidak nafsu makan, karena perasaan hati masih stress dan bercampur aduk semua. Ketika melakukan kemo ke-2, rambut mulai rontok tapi saya tidak menyadarinya.  Ketika mau mandi dan saya keramas, saya menjerit dan menangis karena rambut yang jatuh di lantai kamar mandi banyak sekali. Semuanya ini tidak pernah terbayangkan oleh saya, bahwa rambut saya akan mengalami kerontokan demikian cepat. Sambil berseru dalam hati, saya menjerit “Kenapa hidupku demikian?.”

 

Kemo yang ke-3, 4 dan 5, saya mengalami sariawan yang parah dan tidak bisa buang air. Sangat sulit rasanya dan seluruh badan tidak nyaman. Tapi semua itu harus saya lewati, hanya dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Kemo yang ke-6 dilewati dengan biasa karena sudah dapat lebih mengatasi efek tidak nyaman ini.

 

Saya juga melakukan radiasi, yang dilakukan setelah kemo 3 minggu. Tetapi saya lakukan setelah 4 minggu karena Lekosit saya rendah harus normal dengan disuntik Lecogen. Radiasi 30 x setelah selesai kemo. Akibat radiasi lekosit turun dan ketiak menjadi lecet-lecet.

 

Proses pengobatan setelah selesai Kemo dan Radiasi :

Selama 2 tahun 3 bulan sekali, lewat 2 tahun 4 bulan sekali. Setelah lewat 3 tahun 6 bulan sekali.

Radiasi 30 kali yang saya jalani dibiayai sendiri, karena bila menunggu antrian dari fasilitas BPJS gilirannya lama yaitu sekitar 2 bulan. Sehingga saya memutuskan dengan biaya sendiri.

 

P: Bagaimana kisah suami ibu yang waktu itu juga mengalami sakit sampai akhirnya dipanggil Tuhan.

 

Suami saya dipanggil Tuhan tanggal 18 Agustus 2017 dalam usia 66 tahun. Kemudian Tuhan ijinkan hal yang sangat berat bagi saya untuk saya alami. Tangan yang patah sudah sembuh dan tersambung kembali, namun datang lagi penderitaan dimana saat saya sudah mulai sehat , kini giliran suami sakit liver. Didiagnosa oleh dokter bahwa  tumbuh daging di livernya. Pengobatan bisa berlangsung satu setengah tahun. Kini,  giliran saya yang merawat dan mengantar suami berobat.

 

Hingga akhirnya suami saya dipanggil Tuhan 18 Agustus 2017. Hidup saya mulai terasa sepi dan sedih. Sebagai suami istri, kami biasa saling curhat. Ada teman untuk bercakap-cakap, namun setelah berjalannya waktu kurang lebih 2 bulan kemudian, Tuhan yang tahu kesepian saya memberi penghiburan dengan mengajak saya sebagai pengurus MiSi ke Jogya. Berselang beberapa bulan kemudian Bidang Misi melakukan Visitasi ke Singkawang dan sayapun diajak ikut serta. Disitulah mulai berangsur kesepian dan kesedihan mulai hilang. Tuhan memberi sukacita untuk ikut terlibat dalam pelayanan.

 

P: Saya dengar ibu jatuh dan patah tulang belakang, bagaimana kisahnya?

 

Sukacita yang saya rasakan baru sebentar, ternyata musibah datang lagi yaitu saya jatuh di BSD pada tgl. 5/1-2018. Tahun 2015, saya pernah jatuh dari sepeda. Waktu jatuh itu kena tangan saya, sehingga pergelangan tangan patah. Saya bersyukur pada Tuhan setelah 40 hari tangan saya sembuh kembali.

 

Ketika saya jatuh di BSD ini mengakibatkan tulang belakang saya retak dan iga saya patah. Waktu itu saya mengalami sakit bukan main, saya sempat berkata pada Tuhan: “Tuhan, saya ngga sanggup hidup, panggil saya ke pangkuan-Mu Tuhan…!!!” Karena sakit yang luar biasa, saya sampai tidak bisa bergerak. Karena bergerak sedikit saja sangat susah dan sakit sekali. Penderitaan ini seperti komplit terjadi pada diri saya, tulang belakang menjadi merosot, sehingga syaraf menjadi terjepit dan ada iga yang patah. Sehingga saya sangat merasakan penderitaan yang besar sekali pada waktu itu.

 

Dokter Ongkologi menganjurkan radiasi 10 kali untuk antisipasi tidak terjadi kanker tulang. Biaya Radiasi cukup mahal namun puji Tuhan, semua biaya Tuhan cukupkan meskipun dengan biaya pribadi. Pengobatan juga dilakukan dengan diberikan suntikan obat penguat tulang dilakukan setiap bulan selama 12 kali. Dan hal ini sudah dijalankan dari Pebruari 2018 sampai dengan sekarang dan akan berakhir suntikan itu pada Januari 2019. Sekarang, keadaan tulang saya sudah mulai membaik tetapi saya diharuskan menggunakan korset untuk menopang tulang belakang. Dalam hal ini memang kurang nyaman menggunakan korset terasa gerah dan panas. Tapi itu semua demi kesehatan saya, mau tidak mau harus dipakai. Puji Tuhan!

 

P: Siapa yang mendukung ibu dalam menghadapi penyakit ini?

 

Yang terutama mendukung saya tentunya suami dan anak-anak. Saya sungguh bersyukur atas kekuatan dan dukungan yang mereka berikan. Sewaktu suami saya masih hidup, dialah yang perhatian banget  dan setiap saat mengantar pergi berobat dan memasak makanan buat saya. Tentu juga, saya dikuatkan dan dihibur dengan dukungan dari Hamba Tuhan  serta teman-teman dari GKY Sunter. Mereka banyak berdoa untuk saya. Saya percaya bahwa hidup dan mati kita di tangan Tuhan. Rencana Tuhan bukan rencanaku, sehingga saya percayakan hidup saya sepenuhnya pada Tuhan.

 

P: Bagaimana kondisi ibu sekarang?

 

Puji Tuhan, saya sekarang sudah 4 tahun 5 bulan tidak minum obat kanker sama sekali. Kecuali saya makan obat pengencer darah dan Kalsium untuk menguatkan tulang-tulang saya. Untuk saat ini saya masih disuntik obat tulang dari bulan Februari sampai dengan sekarang. Saya selalu mengandalkan Tuhan yang akan menolong dan memberi kekuatan kepada saya. Selama 2 tahun yang lalu, saya cek 3 bulan sekali. Setelah lewat 3 tahun, cek 4 bulan sekali dan setelah lewat 3 tahun ini, sekarang saya cek 6 bulan sekali.

Saya dulu mengajar senam dan dengan sukacita melakukannya. Namun karena kondisi sejak tahun 2018 ini, saya tidak lagi bisa mengajar senam namun saya tetap usahakan ikut senam dan berolahraga. Harapan saya tetap mau melayani Tuhan selagi masih ada kesempatan dan menjadi berkat buat orang lain. Saya bersyukur atas kasih karunia Tuhan, sehingga iman saya dikuatkan dan karena kasih karunia ada pengharapan dan kesesakan membuat saya semakin tahan uji.

Seperti Roma 12:12 – “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”  saya percaya Tuhan bersama dengan saya senantiasa dan menguatkan saya menjalani hari-hari ke depan.

 

(Percakapan GI. Fifi dengan Ibu Henny Ho)

Baca juga :

Kesaksian Lie Tjen: Sekalipun saya menderita kanker, saya adalah wanita yang diberkati

Kesaksian Filia : First Christmas without husband

Kesaksian Liefian : Ketika Tuhan mengijinkan Papa dan cici menderita sakit kanker