Pernahkah Anda berada dalam sebuah titik dimana anda merasa beban yang harus Anda tanggung terlalu berat? Anda merasa sendiri, tidak memiliki siapapun untuk berbagi, bahkan  Anda merasa mulut tidak dapat terbuka lagi untuk berdoa ataupun memuji Tuhan.

Itulah yang dialami oleh Laurie Klein (b. 1978).  Pada umur 24 tahun, Klein mengalami suatu titik yang sangat berat di dalam kehidupannya; kesulitan ekonomi, tidak ada sahabat berbagi, suami yang sangat sibuk di sekolah Alkitab, dan ia harus mengurus anaknya yang masih bayi.  Ia benar-benar merasa sendiri di dalam kesibukan dan kesusahannya.

Namun, di tengah kehidupannya yang demikian, Klein tetap memaksakan dirinya untuk memiliki waktu teduh bersama dengan Tuhan.  Ia bangun dini hari sebelum bayinya terbangun dan menyediakan waktu untuk bersekutu bersama dengan Tuhan.  Ia tahu di tengah waktu yang sulit itu, hanya waktu bersama Tuhan itulah yang dapat membuat ia tetap dapat hidup.

Suatu kali, di dalam waktu teduhnya dini hari itu, ia duduk dengan Alkitab dan gitar di sampingnya.  Karena beban yang sangat sesak, saat itu ia merasa ia tidak dapat berdoa kepada Tuhan, pujian pun tidak dapat keluar dari mulutnya.  Ia benar-benar merasa sangat kosong.  Di dalam masa itu, ia hanya dapat berkata, “Tuhan, jika Engkau ingin aku bernyanyi, maukah Engkau memberikanku sebuah pujian yang akan membuat-Mu senang mendengarnya?”

Klein pun memegang dan memainkan gitarnya.  Secara spontan dan mengalir begitu saja ia menyanyikan,

I love You Lord and I lift my voice to worship You.”

(Aku mengasihi Engkau Ya Tuhanku, dan kuangkat suaraku untuk menyembah-Mu).

Sungguh suatu hal yang indah! Karena memang seharusnya demikian; kita memuji dan menyembah Allah kita karena kita sungguh mengasihi Tuhan kekuatan kita (Maz 18:2).  Ia cepat menuliskan lirik dan melodi tersebut pada sebuah kertas, kemudian ia melanjutkan dua kalimat berikutnya.

Oh my soul, rejoice!  Take joy my King in what You hear, may it be a sweet, sweet sound in Your ear.

(Bersukacitalah, hai jiwaku!  Biarlah semuanya ini manis Kau dengar dan membuat Rajaku disenangkan).

Hal ini juga sama seperti kerinduan Daud, sang pemazmur yang pernah menyatakan  “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku (Maz 19:14)”

Adakah kita juga rindu pujian kita memperkenankan Tuhan?

Klein menyatakan pujian ini telah menjadi kekuatan bagi-Nya; ia tahu Tuhan menghadiahkan pujian ini baginya tatkala ia tidak dapat menyanyi bagi Tuhan.  Saya percaya lagu yang sederhana ini juga telah menjadi berkat bagi setiap kita, karena lagu ini mengajarkan kita kebenaran yang dalam tentang pujian yang sejati di hadapan Allah.

Biarlah setiap kita yang telah mengalami kasih dan kebaikan Tuhan sungguh-sungguh memuji Tuhan karena kita mengasihi Dia dan ingin membuat Tuhan kita disenangkan.  Dan biarlah setiap kita, sama seperti Klein, dapat belajar untuk tetap menyediakan waktu menyembah Tuhan; bukan hanya di gereja saja, tetapi juga di dalam keseharian kita yang sibuk itu.  Itulah ibadah kita yang sejati.

 

I Love You Lord

I love You Lord and I lift my voice to worship You.

Oh my soul, rejoice!

Take joy my King in what You hear.

May it be a sweet, sweet sound in Your ear.