oleh GI Martin Kurniawan and Haris Prahara

Dunia kian lama kian digital. Tampaknya hampir sulit untuk membantah hal ini.

Tengok saja, bagaimana disrupsi telah membuat cara manusia berkomunikasi berubah.

Jika dahulu manusia masih menggunakan surat maupun pager untuk mengirim pesan, kini telah berganti dengan email dan aplikasi pesan instan.

Perkembangan teknologi turut mengubah gaya manusia berbelanja. Tak melulu mesti ke mal untuk membeli sesuatu. Sebab, situs belanja daring mulai menjamur dan membuat barang impian sebatas jempol tangan.

Sebagaimana diucapkan Pemimpin Eksekutif Forum Ekonomi Dunia (WEC) Klaus Schwab, dunia dewasa ini berubah begitu cepatnya seiring kemajuan teknologi digital.

Kondisi itu, imbuh Klaus, membuat akses manusia terhadap ilmu pengetahuan begitu terbuka dan tak lagi berbatas.

“Semua hal tersebut bukan lagi mimpi, melalui terobosan teknologi baru di bidang robotika, internet of things (IoT), kendaraan otonom, percetakan berbasis tiga dimensi, bioteknologi, penyimpanan energi, dan sebagainya,” papar Klaus.

Menurut riset Cisco Global Mobile Data Traffic Forecast, pada 2020, terdapat sedikitnya 5,5 miliar pengguna gawai di seluruh dunia. Angka tersebut mencapai 70 persen dari populasi global.

Di Indonesia, diperkirakan sedikitnya 130 juta gawai telah dipakai oleh masyarakat.

Menarik disimak, perkembangan teknologi digital itu lazimnya cepat diadopsi oleh generasi milenial.

Berganti-ganti ponsel bukan lagi hal janggal. Memiliki beragam akun media sosial juga tidak aneh pada masa sekarang.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan saat ini populasi generasi milenial mencapai 40 persen dari total penduduk.

Kekuatan energi kaum muda dipadu dengan digitalisasi seyogianya memberi peluang untuk kemajuan ekonomi. Sektor industri, contohnya, turut terdongkrak dengan bantuan teknologi digital.

Secara instan, digitalisasi telah mengubah gaya kehidupan masa kini. Siapa yang belum siap mengadopsinya, seolah bisa tergulung oleh disrupsi.

Tantangan gereja

Geliat teknologi digital di satu sisi memang bakal memudahkan kehidupan manusia. Namun, tentunya ada ekses dari perkembangan tersebut.

Sebut saja, tergerusnya komunikasi tatap muka antarmanusia. Perkembangan gawai membuat generasi milenial cenderung lebih senang berkomunikasi via pesan instan dibandingkan tatap muka langsung.

Kondisi tersebut tentunya dapat menumbuhkan sikap individualisme. Mereka mulai abai terhadap kondisi sekitarnya. Terbius dalam dunia digitalnya masing-masing.

Terkait hal itu, gereja sebagai institusi rohani perlu mengatasi tantangan geliat teknologi digital.

Bukan berarti gereja resisten terhadap perkembangan zaman, namun patut pula mewaspadai ekses negatifnya.

Alkitab secara umum memberi pandangan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan (termasuk teknologi digital) adalah suatu keniscayaan.

Sebagaimana dikatakan dalam Amsal 1 ayat 7a: “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”. Itu artinya titik fokus dari segala kemajuan teknologi ini semestinya berbalik kembali untuk kemuliaan nama Tuhan.

*Paulus jelas menegaskan hal ini dalam Roma 11:36 – “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”*
*Artinya segala kemajuan teknologi dalam kehidupan manusia dalam rancangan Allah. Karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia kepada Dia. Tujuannya hanya untuk kemuliaan bagi Tuhan. Seperti yang dikehendaki-Nya saat menciptakan manusia yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Jika ada yang menggunakan untuk kepentingan diri dan merusak relasi sesama, bukan seperti itu yang dikehendaki Tuhan*

Singkatnya, manusia diamanatkan untuk mengembangkan kreativitas dan ilmu pengetahuannya. Hanya saja, pergunakanlah semuanya itu untuk keagungan dan kemuliaan Tuhan, bukan justru menjauhkan diri daripada-Nya.

Gereja pun sesungguhnya terbantu pula dengan kemajuan teknologi digital tersebut. Sebut misalnya, penggunaan sistem informasi untuk pendataan jemaat.

Contoh konkretnya bagaimana hadirnya database jemaat akan memudahkan pendataan dan penginjilan. Pun demikian dengan diseminasi informasi kegiatan ibadah maupun ucapan selamat *ulang tahun, pencarian donor darah* dan semuanya dapat dieksekusi secara praktis melalui media sosial maupun WhatsApp.

Nah, berkaca dari kondisi di atas, kita perlu memandang kemajuan teknologi digital sebagai peluang untuk memperluas jangkauan pemberitaan Injil bagi mereka yang belum percaya.

Pada akhirnya, bukan perkembangan teknologinya yang keliru, tetapi bagaimana kita sebagai individu maupun gereja mampu adaptif dan memakai teknologi untuk menyemai kemuliaan Tuhan.