by. GI.Markus Boone

Dulu, pengiklan masih seperti murid SD, semua belajar hal yang sama. Jadi, waktu kita nonton TV atau denger radio, semua mendapatkan iklan yang sama. Jadi pas jeda iklan papa lihat iklan sabun cuci piring, mama lihat iklan sabun cuci mobil, anak-anak lihat iklan cat rambut dan sebagainya.  Akibatnya seringkali iklan tidak efektif karena tidak menyasar kebutuhan dari masing-masing orang. Saat ini iklan atau advertising sudah seperti murid doktoral (S-3) yaitu belajar hal yang spesifik dari tiap pengguna, hal ini dapat terjadi oleh karena perkembangan algoritma alias logika komputer yang sudah semakin canggih. Maka saat ini lewat medsos (facebo** atau instag*** ) atau perambah internet (misalkan chrom* atau firefo*)  setiap orang disuguhkan iklan yang spesifik kebutuhan mereka. Tidak heran ketika saya melihat-lihat gadget di internet, tidak lama kemudian iklan-iklan yang muncul di medsos dan browser saya akan mulai menyuguhkan gambar-gambar dan situs-situs yang menjual barang yang saya lihat dan minati. Kehadiran dari iklan-iklan tersebut tidak terhindarkan karena aplikasi-aplikasi gadget dan situs-situs membutuhkan dana untuk operasional dan laba mereka. Yang jadi masalah adalah bagaimana manusia di zaman ini  mampu menanggapi perubahan pola konsumsi tanpa menjadi boros.

Iklan yang spesifik adalah hal yang hebat tapi belum luar biasa, hal kedua yang harus ada untuk merevolusi cara orang berbelanja adalah kemudahan berbelanja secara daring (online)! Dengan iklan yang spesifik, memicu insting kebutuhan manusia, lalu sarana untuk meresponi insting itu dengan kemudahan belanja online maka berubahlah cara konsumsi manusia, baik secara positif atau negatif.

Bagaimana merespon iklan yang membuat kita jadi super konsumtif ini?

1. Anggaran yang harus ditepati.

2. Kebiasaan menunda atau berhenti sejenak (pause)

3. Mengacak data internet atau membingungkan mesin pencari. Jangan lupa “clear cache dan cookies” dalam history browsing.

Point Pentingnya:

  1. Tidak ada masalah menggunakan kartu kredit atau kartu debit atau ATM, selama ada anggaran yang ditepati. Mungkin salah satu hal penting dalam keluarga yang harus dibantu oleh gereja adalah bagaimana pasangan suami-istri saling membantu untuk mengawasi jalannya anggaran dan bukannya bersama-sama melanggar anggaran.
  2. Oleh karena iklan dan belanja online mengincar insting manusia, maka kebiasaan pausing/ mengambil jeda perlu dilatih. Pausing memberikan waktu untuk insting mereda dan kesadaran rasional muncul. Salah satu cara pausing adalah dengan menunda satu atau dua hari sebelum mengambil keputusan untuk membeli atau tidak. Tapi itulah sebabnya sekarang juga banyak “flash sale”, teknik jualan yang mencegah orang pausing karena dibatasi waktu. Marilah kita mengingat lagi anjuran rohani dari Petrus, “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Pet. 4:7) Pausing menolong kita menjadi tenang, merasakan hadirat-Nya dan menerima hikmat-Nya.
  3. Berikan waktu untuk melihat situs atau follow medsos atau mengklik produk yang tidak kita minati atau bukan urusan kita. misalkan bapak mengklik susu bayi dan ibu mengklik perkakas mobil. Dengan hal ini search engine (mis.goog** atau bin*) akan sedikit kacau datanya sehingga akan memberikan tawaran iklan yang “kurang tepat.” Dengan teknik ini kita akan luput dari tawaran iklan yang langsung menggoda hati kita.

Bukan bermaksud menghina iklan dan bisnis, tapi kalau tidak hati-hati, iklan memang seperti singa yang mencari mangsa…hap, lalu ditangkap. Perjuangan melawan nafsu konsumsi jelas tidak mudah, kiranya Tuhan menolong kita untuk insaf terhadap godaan dan serangan konsumerisme zaman now .

 

1 Pet 5:8-10

Sadarlah dan berjaga-jagalah!

Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu,

bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.

Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal,

akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.