GKY Sunter

Ayah Sebagai Penggembala dan Penggembira

Sejak Donny lahir sampai berusia 18 tahun, Pak Frans meluangkan waktu 20 menit setiap hari secara konsisten. Berapa banyak waktu yang sudah didedikasikan Pak Frans bagi Donny?

Jika dihitung secara matematis, akan diperoleh hitungan sebagai berikut: 20 menit x 365 (hari per tahun) x 18 tahun usia Donny, Pak Frans ‘hanya’ meluangkan waktu kira-kira 91 hari atau sekitar tiga bulan buat Donny, anaknya.

“Wah, tidak mungkin hanya segitu,” Pak Frans berargumentasi. Anda pun pasti tidak mau disamakan dengan Pak Frans yang hanya meluangkan tiga bulan bagi anaknya.

Lebih ekstrim lagi, ada suatu penelitian yang menemukan bahwa para ayah umumnya hanya meluangkan waktu sekitar 35 detik seharinya untuk berinteraksi secara langsung dengan anaknya. Tidak sampai satu menit! Ketika anak mereka berusia 18 tahun, waktu yang diluangkan hanya 3.832,5menit atau 2,7 hari saja. hanya kira-kira tiga hari dari 6.570 hari kehidupan anak untuk jangka waktu 18 tahun. Sungguh amat sangat memprihatinkan! Tetapi, mungkin ini gambaran yang dekat dengan kenyataan untuk banyak keluarga modern.

Tak Banyak Peluang

Para ayah seharusnya dapat menjadi penggembala sekaligus penggembira bagi anak-anaknua. Kedua peran ini justru menuntut kuantitas dan kualitas waktu yang prima yang didedikasikan oleh ayah bagi anaknya. Dengan temuan penelitian yang demikian memprihatinkan, baik tiga hari maupun tiga bulan sekalipun, sungguh tidak banyak peluang yang dapat dilakukan ayah untuk menjadi penggembala dan penggembira anak-anaknya.

Dampak kurangnya waktu ayah berelasi dengan anak ini dapat kita amati saat ini dengan munculnya sedemikian banyak masalah ketika anak-anak ini memasuki usia remaja atau pemuda. Karena ayah tidak mampu berperan sebagai penggembala dan penggembira yang memadai, anak mengalami kegagapan menapaki masa dewasanya. Anak produk ayah yang kekurangan waktu ini pada gilirannya juga menjadi ayah yang gagal menjadi penggembira dan penggembala jika mereka tidak memperoleh pemahaman tentang peran ayah yang patut.

Dalam kisah Yesus sebagai Gembala Yang baik (Yohanes 10:1-17), kita berkenalan dengan gembala yang mengenal domba-dombanya, baik ciri-ciri fisiknya, suaranya, gerak-geriknya dan kebutuhannya. Selaras dengan ini, ayah yang menjadi penggembala perlu mengenal dengan seksama anak-anaknya; baik sifatnya, karakternya, kebutuhannya, hal-hal yang menyenangkan bagi anaknya. Melali pengenalan yang baik, diharapkan pendekatan dan bimbingan yang dilakukan ayah terhadap setiap anaknya juga akan lebih tepat dan efektif. Untuk mencapai tahapan ini, tentunya dibutuhkan investasi waktu dan usaha yang tidak sedikit. Tiga bulan jelas masih jauh dari memadai.

Aman dan Menyenangkan

Selain sebagai gembala, ayah juga memiliki peran sebagai penggembira. Kehadiran ayah sangat dibutuhkan tidak hanya dalam konteks penggembalaan atau pembimbingan, tapi juga dalam memberikan suasana yang aman dan menyenangkan bagi anak-anaknya.

Untuk bertumbuh kembang dengan baik, anak membutuhkan suasana yang aman baik dari sisi fisik maupun emosi. Anak yang hidup dalam suasana yang kurang aman dan kurang menyenangkan cenderung berkembang menjadi anak yang cemas, dan hal ini tentunya berpengaruh pada konsentrasi, potensi, dan hidupnya secara keseluruhan.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana seorang ayah dapat melaksanakan fungsinya membimbing anak-anak (menuju kedewasaan) dalam suasana yang menyenangkan, sehingga meninggalkan kesan yang indah dan mendalam dalam hati dan ingatan anak-anak. Paling tidak ada dua hal yang dapat dilakukan ayah dalam konteks ini, yaitu dengan memberikan waktu dan berkreasi. Pertama, ayah dapat memberikan waktu dan dirinya untuk anaknya. Seorang ayah yang mengasihi anaknya tentu akan menyempatkan diri untuk bersama-sama dengan anaknya. Seorang anak membutuhkan bukti yang nyata dan konkrit bahwa ia dikasihi oleh ayahnya. Salah satu buktu nyata tersebut adalah bahwa ayah bersedia memberikan waktu dan dirinya untuk bermain, bergurau, berpetualang bersama, berbagi rasa bersama, dan mendidik anaknya. Kedua, ayah perlu berkreasi untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan sehat bagi proses tumbuh-kembang anak. Bukankah umumnya ayah mencoba berkreasi di kantor dalam upaya mencapai hasil kerja yang baik dan optimal? Kalau saja ayah juga mempunyai sikap demikian dalam kehidupan berkeluarga, ia tentu akan melihat hasil yang sangat positif dan mengharukan dalam diri anak-anaknya. Banyak hal yang dapat dipelajari dan membekas dalam hati anak saat ayah mencoba untuk berkreasi, baik ketika berada di rumah maupun ketika pergi bersama anak.

Kebersamaan dan Kreasi

Berikut adalah cuplikan beberapa kisah kecil kebersamaan dan kegembiraan yang mungkin dapat memberi inspirasi bagi Anda untuk mencobanya.

Suatu hari, saya sedang bermain-main di ranjang dengan putri kedua kami yang berusia sekitar empat tahun. Permainannya adalah mencari kelereng. Kelereng saya sembunyikan di bagian badan saya.

Setelah saya hitung sampai sepulu, putriku mulai mencari. Dia mencari di saku, di belakang telinga, di leher, di ketiak, dan di kaki saya. Ketika dia mencari-cari, saya menggeliat geli karena serasa dikilik-kilik. Melihat hal ini, istri dan putri pertama kami ikut memberi semangat. Tak lama kemudian, mereka berdua pun ituk terlibat membantu Si Kecil mencari kelereng tersebut. Saya semakin menggeliat dan akhirnya kewalahan menghadapi serbuan tersebut. Kami pun terlarut dalam tawa ria. Kebersamaan yang sederhana, namun sangat menyenangkan.

Pada kesempatan lain, keluarga kami mempunyai kesempatan berlibur beberapa hari di pinggiran kota garut. Suasana di tempat itu adalah suasana pedesaan yang dikitari oleh lingkungan persawahan dan gunung-gunung. Pagi-pagi sekali, saya mengajak istri dan kedua putri saya menyusuri pematang sawah. Kami menemukan capung beraneka warna, bahkan ada yang warnanya merah-keunguan, indah sekali. Kami juga melihat ikan-ikan berenang kian ke mari di sawah yang sudah diubah menjadi kolam.

Keesokan paginya, kami melakukan panjat bukit. Bagi putri kami yang kecil kegiatan panjat bukit tentu bukan hal yang mudah, karena bukit itu tampak begitu tingginya baginya. Kami berempat mendaki tanah berbatuan dan adakalanya saling membantu dengan mendorong atau menarik. Akhirnya, sampai juga kami di puncak bukit dengan nafas tersengal-sengal. Kami pun duduk-duduk menikmati pemandangan pedesaan dengan gunung-gunung yang indah di sekeliling kami. Pemandangan demikian mengingatkan pada kami akan Pencipta segala keindahan ini.

Sorenya, kami bersantai di balkon kamar penginapan sambil melihat awan yang bergumpal-gumpal. Kami pun berusaha menebak bentuk-bentuk awan yang terus berubah itu. Dengan bersemangat, kami beradu cepat mengenali dan meneriakkan nama berbagai binatang, dari kuda, harimau, buaya, monyet, babi, naga, dan seterusnya, sambil menunjuk bagian awan mana yang kami maksud. Suatu peristiwa yang sangat biasa, tetapi cukup membuat kami semua menggebu-gebu. Sangat seru.

Di malam hari, kami menyaksikan kalap-kelip ratusan kunang-kunang di persawahan. Malam yang indah dan berkesan pula.

Kesempatan untuk bersama-sama dengan anak-anak menikmati bebatuan, tetumbuhan, capung, ikan, gunung, awan, angin, dan kunang-kunang membuat Tuhan sedemikian dekat. “Tuhan itu hebat sekali,” kata-kata yang mungkin terasa aneh jika diungkapkan tanpa konteks yang jelas justru terasa sedemikian hidup dan nyata di saat kami sedang menikmati keindahan alam ciptaan-Nya.

Kesempatan kita untuk mendampingi anak-anak kita memang tidak banyak. Pekerjaan yang menumpuk, kemacetan di jalan, acara televisi yang semakin beragam, koran dan majalah dengan berita-berita terbaru, semuanya berusaha merampas kesempatan yang seharusnya kita dedikasikan untuk anak-anak kita.

Tetapi keberanian untuk mendedikasikan waktu yang cukup dan menciptakan kebersamaan yang berkualitas dengan anak-anak kita merupakan tugas dan panggilan tiap ayah bagi anak-anaknya. Hanya dengan sungguh-sungguh menjalankan peran kita sebagai penggembala dan penggembira, anak-anak kita akan lebih mudah mengenal kemuliaan Tuhan melalui ayahnya.

Penulis:
Hendry Sonata
Sumber:
Eunike
http://telaga.org/artikel/ayah_sebagai_penggembala_dan_penggembira