GKY Sunter

Bekerja Adalah Ibadah

By. GI. Emanuel Cahyanto

Bulan ini adalah bulan Ibadah dan Musik di GKY Sunter. Melalui bulan Ibadah dan Musik ini, kita didorong untuk beribadah kepada Allah dengan semakin benar.

Dalam Alkitab, ada dua kata dalam bahasa Ibrani yang sering digunakan ketika membicarakan makna seputar ibadah kepada Allah, yaitu a�?abad dan shamar. Kata a�?abad misalnya digunakan di Keluaran 3:12, yaitu ketika Allah berkata kepada Musa, a�?Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah (a�?abad) kepada Allah di gunung ini.a�? Sedangkan kata shamar dipakai ketika Allah memberi perintah kepada Musa di Keluaran 12:17, a�?Jadi kamu harus tetap merayakan (shamar) hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir.a�? Kata a�?abad maupun shamar menyatakan makna a�?ibadaha�? kepada Allah.

Namun ketika kita telusuri lebih lanjut, kata a�?abad pertama kali muncul di Kejadian 2:5, a�?Belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan (a�?abad) tanah itu.a�? Frasa a�?mengusahakan tanah itua�? adalah pekerjaan yang diperuntukkan kepada manusia sejak penciptaan. Maka ayat ini menyiratkan makna bahwa pekerjaan yang manusia lakukan merupakan ibadah kepada Allah.

Pernyataan tersebut di atas ditegaskan oleh Kejadian 2:15, oleh karena kata a�?abad maupun shamar muncul bersamaan: a�?TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan (a�?abad) dan memelihara (shamar) taman itu. a�?Dengan demikian jelas bahwa ketika Allah menyatakan kehendak-Nya mengenai pekerjaan yang harus dilakukan manusia, aktivitas itu adalah sebuah ibadah kepada Allah. Dengan demikian, Alkitab mengungkapkan bahwa ibadah kepada Allah bukan hanya tindakan ibadah formal dalam suatu kebaktian umum atau ibadah gerejawi lainnya. Melainkan pekerjaan kita sehari-hari pun adalah ibadah kepada Allah.

working-in-an-office

Kebenaran itu hendaknya menjadi alasan dari pekerjaan yang kita lakukan, lalu semestinya menumbuhkan kesadaran pada diri kita mengenai beberapa hal. Pertama, tujuan dari bekerja. Apabila bekerja merupakan suatu ibadah kepada Allah, maka tujuan dari bekerja adalah untuk kemuliaan Allah. Artinya segala tujuan yang sifatnya untuk diri sendiri (self-centered purpose) hendaknya ditiadakan saat melakukan pekerjaan yang Allah percayakan kepada kita. Seharusnya, tujuan kita yaitu memuliakan Allah di dalam dan melalui pekerjaan.

Kedua, ketika bekerja setiap orang Kristen hendaknya mentaati firman Tuhan. Namun tidaklah aneh manakala kita melihat, mendengar, atau mengetahui sikap permisif banyak orang Kristen dalam berkarya di tengah dunia. Memang berbagai alasan rasional dapat diajukan seperti a�?Kan saya dituntut oleh sistem dalam perusahaan,a�? atau a�?Kalau tidak begitu, gak akan laku karena semua orang juga begitu.a�? Akan tetapi sesungguhnya penulis dan para pembaca menyadari bahwa ada kecenderungan pada diri manusia untuk rela membiarkan diri sendiri dicemari oleh ketidakberesan, demi mendapatkan kepuasan yang sesuai dengan keinginan zaman. Padahal yang dibutuhkan manusia di era pasca modern dan generasi penerus adalah orang-orang percaya yang sewaktu bekerja berani berjuang sambil berpeluh, menahan perasaan, bahkan meneteskan air mata supaya menjadi teladan dari integritas hidup Kristiani.

Setelah membaca uraian di atas, mungkin sebagian dari pembaca memikirkan tentang peningkatan karir, pengembangan bisnis, atau pengembangan diri dalam lingkup profesionalitas kita. Bolehkah seorang pengikut Kristus yang sejati mengupayakan hal-hal tersebut? Mengapa tidak boleh? Boleh saja asalkan tiga hal seperti contoh di atas adalah a�?by producta�? dari upaya untuk memuliakan Allah dalam pekerjaan. Jadi, fokus utamanya, lalu hasrat yang dengan sepenuh hati dilakukan adalah memuliakan Allah di dalam dan melalui pekerjaan. Oleh sebab itu, kita akan mengerjakan setiap tugas yang dipercayakan sebaik mungkin, memenuhi harapan, dilakukan dengan kreatif, berdedikasi dan berintegritas. Dalam rangka bekerja sebaik mungkin dengan bertanggungjawab, boleh jadi kita ingin menambah keterampilan maupun pengetahuan. Namun kita melakukannya di dalam kesadaran a�?untuk kemuliaan Allah, dan bukan untuk kebesaran diriku sendiri,a�? karena segala sesuatu ditujukan untuk memuliakan Allah. Manakala kita mengerjakan semua pekerjaan sebaik mungkin, berdedikasi, bersikap benar dan beretika, juga kreatif, maka secara alamiah karir menanjak, usaha bertambah maju, dan secara profesional semakin dicari orang. Akan tetapi, itu semua adalah a�?akibata�? dari kesungguhan hati untuk memuliakan Allah, bukan merupakan sasaran utama.

Pada akhirnya penulis menyadari, hanya mereka yang mau menanggapi panggilan Tuhan dengan seriuslah yang dapat bekerja untuk memuliakan Allah. Kiranya Dia memberikan anugerah-Nya dan memampukan setiap kita untuk memperjuangkannya, siapapun kita, apapun profesi kita, dan di manapun kita berada saat ini. Soli Deo Gloria! (ECW)