GKY Sunter

Mengira Diri-Nya pelayan Tuhan yang baik, ternyata menolak Kristus. Bagaimana Mungkin?

By. Vonny Thay

3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang , sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”
Yohanes 3:19

Kamera handphone sekarang sudah sangat canggih. Betapa tidak, mereka yang memiliki ketidaksempurnaan kulit tidak perlu pergi ke perawatan kulit, cukup pakai kamera yang bisa membuat wajah tambah cantik. Yang kulitnya kusam, bisa jadi putih kinclong. Yang jerawatan bisa, mulus tanpa bekas. Keriputpun bisa hilang seketika. Tak heran, saat ini makin banyak orang yang narsis, suka foto-foto sendiri dan mengagumi fotonya sendiri yang terlihat cantik…. di versi handphone. Jadi ga perlu juga jauh-jauh ke Korea Selatan untuk operasi plastik, cukup operasi foto pakai aplikasi tertentu. Pasti jadi cantik! Apalagi setelah di-upload ke medsos, yang nge-like banyak banget! Xixixixi…. Berasa jadi selebriti! Banyak yang like dan follow. Itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. karena merasa dirinya banyak yang suka dan menuai popularitas.

Jangan kaget juga, banyak orang yang berkenalan dari aplikasi datang online juga menjadi sangat kecewa. Betapa tidak! Apa yang terlihat di foto kok beda banget ya sama aslinya? Trus, yang punya foto juga ga berasa bersalah, karena di pikirannya, dia emang secantik di foto. (Please dech, ah!) Ironis memang! Pada akhirnya orang lebih menyukai sosok dirinya di foto, sampai-sampai dia merasa tidak perlu merawat diri, karena sudah cantik (versi foto). Trus, saat orang lain kecewa dengan kenyataan dirinya, dia berdalih, “Ya itu dia aja yang bermasalah!”, buktinya aku ini uda jadi Selebgram (selebrity instagram) kok!

Kamu boleh tertawa, tetapi mari kita introspeksi diri. Sebenarnya banyak orang Kristen juga begitu loh! Apa buktinya?

Di bulan Desember menjelang Natal ini, banyak panti asuhan yang biasanya sepi pengunjung, tiba-tiba jadi ramai sampai jadwalnya penuh tiap weekend. Lalu begitu banyak orang yang sibuk pelayanan Natal, kalau perlu nginap dech di gereja. Lalu kita mulai membeli barang-barang bukan hanya untuk keluarga tetapi juga untuk orang miskin. Aku merasa.. diriku adalah orang Kristen yang baik, karena aku sudah pelayanan, baik sama fakir miskin, dan keluarga. Kurang apa lagi coba?

Balik soal foto di handphone, jujurnya saya juga adalah orang yang senang selfie karena.. saya foto genik plus juga dalam seketika, scar di wajah saya menjadi mulus di foto. Padahal saya tahu, untuk menghilangkan scar itu sangat sulit even ke klinik. Saya pernah mendengar ada orang yang ke klinik untuk menghilangkan scar di wajah, malah ada yang menjadi bertambah parah sampai berniat untuk operasi plastik. Saya memilih untuk memakai perawatan kulit biasa yang mungkin bekerja lambat, tetapi setidaknya lebih aman. Saya pribadi terkadang menjadi tidak percaya diri jika harus berpergian di siang hari di udara terbuka. Kenapa? Karena scar saya akan terlihat sangat jelas. Cahaya matahari akan menampilkan kondisi wajah saya yang sebenarnya. Saya sering kali menghibur diri saya dengan melihat sosok saya yang ada di hanphone, karena mulussss banget! “Wah, ternyata kalau kulit saya mulus, saya cantik sekali ya!” Begitulah cara saya menghibur diri.

Banyak orang Kristen sebenarnya juga begitu, membohongi diri sendiri dengan image baik dibalik semua pelayanan dan donasi di hari Natal. Namun sayangnya mereka enggan untuk merenungkan Firman Tuhan lebih dalam. Mengapa? Karena Firman Tuhan itu akan membongkar semua sisi buruk hatinya. Mereka cenderung untuk memilih merenungkan Firman Tuhan yang manis-manis saja; tentang pemeliharaan Tuhan, atau tentang hidup sukses dan berkelimpahan. Mereka secara sadar menutup mata tentang teguran-teguran keras yang ada di kitab suci. Mereka enggan untuk datang kepada TERANG yang sesungguhnya. Karena terang itu akan membuat diri mereka merasa buruk dan tidak dapat bebas melakukan segala sesuatu yang mereka suka.

Tidak heran, jika ada orang yang menipu bisnis rekannya ternyata adalah majelis gereja yang selalu terlihat manis dan ramah. Atau orang-orang yang memperlakukan karyawannya dengan buruk ternyata adalah seorang donatur besar dari sebuah yayasan. Atau sosok yang sering menyontek, menggosipkan dan membuli teman kelasnya ternyata adalah pengurus gereja. Ternyata sosok yang terlihat di gereja sama sekali berbeda dengan sosok yang ada di dunia kerja atau sekolah. Jika kita ada diantara mereka, maka kita adalah orang yang menipu diri sendiri dengan topeng pelayanan dan persembahan.

Terang yang sejati ada datang ke dunia, agar hati kita yang gelap itu dapat diterangi. Kristus lahir untuk kita bukan untuk membuat kita mendapatkan semua yang terbaik di dunia ini. Kristus lahir untuk kita untuk menyelamatkan kita dari hidup yang sia-sia.

Lebih jauh lagi, tujuan Kristus menyelamatkan kita adalah supaya kita menjadi serupa dengan diri-Nya, serupa dalam kekudusan, keadilan dan kasih.

Sudah berapa tahun kita merayakan Natal? Pertanyaan yang harus kita renungkan, sudah sejauh mana kita terus bertumbuh dalam karakter yang menyerupai Kristus?

Jangan-jangan kita menolak terang itu, agar kita tetap hidup nyaman dalam kegelapan, atau dalam terang semu dibalik semua aktivitas gerejawi. Jangan-jangan, segudang pelayanan adalah kedok kita untuk mendapatkan popularitas dan pengakuan dari orang lain bahwa kita adalah orang baik. Kita ingin terlihat baik di mata manusia tanpa harus membuang dosa dan memperbaiki karakter. Kita membungkam hati nurani yang berteriak akan kesalahan kita dengan melakukan begitu banyak hal baik di mata jemaat. Kita puas ketika jemaat dan hamba Tuhan memuji kita baik.

Tetapi untuk apakah pujian dari manusia itu, jika sang Khalik menghardik kita? Kita mungkin dapat menipu orang lain bahkan diri sendiri, tetapi tidak dengan Tuhan dan hati nurani kita.

Ingatlah, bayi yang mungil di palungan yang kita rayakan pada malam Natal, juga adalah sosok pria yang membawa cambuk dan menunggang balikan meja di pelataran Bait Allah. Dia yang mengampuni dosa wanita berdosa yang hampir dirajam itu juga adalah pria yang mengacungkan jarinya pada orang Farisi yang terpandang dan berteriak “Hai, kamu keturunan ular beludak!” Jika saat ini kita ada di hadapan Allah, kira-kira perkataan apakah yang terucap dari mulut-Nya?

Menjelang hari Natal ini, maukah kita membuka hati ada terang yang sejati itu? Biarkan terang itu membongkar sisi-sisi gelap dalam hati kita. Semakin kita dekat dengan Kristus, semakin kita sadar kita adalah orang berdosa yang menerima anugerah Allah. Dan maukah kita semakin hari, semakin mau dibentuk, semakin taat dan mengasihi-Nya?