GKY Sunter

Christmas Reflection: What is your GREAT JOY?

By. GI. Alice

Sebelum membaca artikel ini, mari kita jawab terlebih dahulu pertanyaan ini di dalam hati. Ambil waktu 1-2 menit untuk merenungkannya,

Hal apakah yang membuat kita paling bersukacita saat ini?


Waktu berjalan cepat sekali, saat ini kita sudah memasuki bulan terakhir di tahun 2018. Mungkin bagi sebagian kita, sukacita kita saat ini adalah liburan panjang akhir tahun yang telah lama kita nantikan. Atau, bagi sebagian dari kita, sukacita kita yang kita nantikan saat ini adalah Christmas dinner beserta tukar kado bersama keluarga atau sahabat di restaurant atau café yang sedang populer. Atau, mungkin juga bagi sebagian dari kita, hal yang membuat kita bersukacita adalah kado atau THR yang kita terima di akhir tahun ini.

Di tengah semua kebahagiaan itu, adakah Kristus dan kedatangan-Nya menjadi sukacita kita yang tertinggi?

Menurut penulis Kristen bernama Eliot, emosi sukacita seseorang akan muncul pada saat orang tersebut melihat dan mengalami sesuatu atau seseorang yang indah, berharga, dan dicintai.

Berdasarkan penjelasan tersebut, mari kita merenungkan sejenak hal ini,

“Adakah Kristus telah menjadi Pribadi indah yang kita cintai dan menjadi yang paling berharga dalam hidup kita sehingga membuat kita penuh dengan sukacita?

Pada saat ini, secara singkat kita akan merenungkan tentang sukacita Natal ini melalui kisah perjumpaan para majus dengan Kristus.

Di dalam Matius 2:9-11, ketika para majus melihat bintang yang menandakan tempat dimana Sang Bayi Kudus itu berada, Firman Tuhan mengatakan, mereka sangat bersukacita.
9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. (Mat 2:9-11 ITB)

Dalam beberapa terjemahan Inggris, kata “sangat bersukacita” itu diterjemahkan dengan kata great joy (sukacita yang sangat besar), overwhelmed with joy (larut dalam sukacita), shouted joyfully (bersorak dengan sukacita).

Para majus digambarkan sangat kegirangan, karena akhirnya mereka dapat bertemu dengan Bayi Yesus, Sang Raja yang telah lama dinantikan. Kelelahan dalam perjalanan 800 mil (atau 40 hari perjalanan darat) yang harus dilewati oleh para majus sangat terbayar, karena hal tersebut tidak sebanding dengan sukacita yang dirasakan saat berjumpa dengan Sang Bayi Kudus, Raja yang begitu mulia. Bahkan, mereka pun mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur yang melambangkan penghormatan yang layak bagi Raja segala raja itu.

Melalui kisah tersebut, kita dapat melihat bahwa objek sukacita dari para majus adalah perjumpaan dengan Bayi Kristus yang sangat berharga bagi mereka.

Sebagai orang Kristen, apalagi sebagai orang-orang yang aktif beribadah, tentu kita sudah tahu bahwa Yesus sangat berharga di dalam hidup kita. Setiap hari Minggu, tidak jarang pujian bertema hal tersebut dikumandangkan. Bahkan, mungkin pernyataan-pernyataan tentang “Kristus adalah segalanya” sering kita nyatakan atau post di dalam akun media sosial kita. Namun, pertanyaannya, apakah kebenaran yang telah kita ketahui ini sungguh-sungguh telah menjadi bagian hidup kita?

Jika Yesus adalah yang paling berharga dan pusat hidup kita, adakah kita bersukacita di dalam Dia?

Hal liburan, kado, kebersamaan, bonus dan juga THR sebenarnya sangat wajar membuat kita bersukacita. Namun, di atas semuanya itu adakah kita bersukacita karena kedatangan-Nya? Jangan sampai Natal tahun ini lewat begitu saja tanpa kita memaknainya dengan sungguh, karena sukacita Natal yang terbesar adalah kedatangan Allah itu sendiri ke dunia.

Sebuah pujian yang sering dikumandangkan pada saat Natal adalah pujian Joy to the World hasil kolaborasi indah dari Isaac Watts dan G.F. Handel. Pujian riang yang teksnya diadaptasi oleh Isaac Watts dari Mazmur 98 ini menggambarkan sukacita dunia menyambut kedatangan Raja di atas segala raja. Ditambah lagi, melodi ciptaan Handel ini sangat mendukung gambaran keagungan Allah yang datang membawa sukacita besar (great joy) bagi dunia. Pdt. Stephen Tong di dalam ceramahnya tentang musik gerejawi pernah menyatakan bahwa melodi Joy to the World yang diciptakan Handel sangat alkitabiah, karena kedatangan Allah dari sorga digambarkan dari not tertinggi (do tinggi), kemudian turun satu nada demi satu nada hingga do rendah menggambarkan kedatangan Allah ke dunia. Bayangkan Allah yang tinggi itu datang kepada dunia yang rendah ini!

Ya, Natal seharusnya mengingatkan kepada kita suatu KESUKAAN BESAR, karena Natal mengingatkan kita akan kasih Allah yang luar biasa. Yesus Kristus yang adalah Pencipta menjadi sama dengan ciptaan-Nya. Ia yang adalah Allah itu sendiri rela membatasi diri-Nya, menjadi manusia sama seperti kita. Selain itu, Natal adalah KESUKAAN BESAR, karena kita tahu Allah agung itu menyatakan diri-Nya sebagai Allah Imanuel, Allah yang beserta dengan kita umat yang dikasihi-Nya.

Adakah kita bersukacita karena perbuatan ajaib yang telah dilakukan Allah itu?

Biarlah sama seperti para majus yang bersukacita karena berjumpa Kristus, kita juga sungguh bersukacita dan menyatakan sukacita kita dengan datang menyembah Dia dan mempersembahkan yang terbaik bagi Kristus yang telah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi setiap kita. Kiranya pujian Joy to the World ini juga terus bergema di dalam hati kita saat menyambut Natal tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang; bersukacita dan sambutlah Dia di hati kita!

Joy to the world, the Lord is come
Let earth receive her King
Let every heart prepare Him room
And Heaven and nature sing
And Heaven and nature sing
And Heaven, and Heaven, and nature sing