GKY Sunter

Memiliki Penyesalan akan Masa lalu Tidak Membuatnya Kehilangan Masa Depan. Inilah Caranya Menyikapi Masa Lalu yang Kelam untuk Masa Depan yang Cerah

FINISHING WELL

By. Jimmy Cahyadi

A�SEMUA ORANG PERNAH MEMILIKI PENYESALAN

http://3.bp.blogspot.com/-CZFtjIuYG8M/VcKjNcll5vI/AAAAAAAABL8/J0r_uTxiU4A/s1600/1359-85fe62679e3358138523bb6780906027.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-CZFtjIuYG8M/VcKjNcll5vI/AAAAAAAABL8/J0r_uTxiU4A/s1600/1359-85fe62679e3358138523bb6780906027.jpg

Setiap orang pasti punya penyesalan dalam hidupnya. Penyesalan itu bentuknya macam-macam. Ada yang menyesal karena salah membeli sesuatu misalnya baju, sepatu, HP ,dll yang mengakibatkannya merasa rugi secara keuangan.

Ada juga yang menyesal karena telah melakukan sesuatu yang salah yang mengakibatkannya menanggung konsekuensi, misalnya: mengkonsumsi obat terlarang, melukai seseorang bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Belakangan ini kita bisa melihat gembong narkoba yang dihukum mati misalnya, artis yang ditangkap karena mengkonsumsi narkoba dan kasus-kasus kriminal yang kemudian pelakunya tertangkap dan kemudian mereka menyesal.

Ada juga yang menyesal karena telah kehilangan suatu kesempatan misalnya kesempatan berbuat baik, kesempatan usaha, kesempatan untuk belajar, dll. Ya penyesalan itu banyak bentuknya mulai dari penyesalan karena sesuatu yang ringan seperti salah membeli sesuatu tadi sampai yang tarafnya berat. Taraf berat ini yang biasanya mengakibatkan kita mengalami konsekuensi jangka panjang yang sulit atau bahkan tidak bisa diubah kembali. Sayapun memiliki penyesalan itu. Salah satu penyesalan saya adalah kuliah terlalu lama sehingga terlambat untuk bekerja

 

MENYIKAPI PENYESALAN

http://2.bp.blogspot.com/-IrHDQyhjBNA/Vk23czl0GLI/AAAAAAAAFUo/ydjTkkk--z4/s1600/mengganti%2Bmasa-lalu.jpg

Apapun penyesalan kita, A�seseorang yang pernah berkata bahwa yang terpenting bukanlah bagaimana anda memulai tapi bagaimana anda mengakhirinya dengan baik. Segala sesuatu di belakang kita sudah tidak bisa kita ubah, yang bisa kita ubah adalah segala sesuatu yang masih ada di depan kita. Jangan sampai segala sesuatu di belakang kita yang kita sesali, yang tidak bisa kita ubah itu begitu membelenggu kita sehingga kita tidak bisa mengerjakan sesuatu yang di depan kita dengan sebaik-baiknya.

Firman Tuhan juga mengajarkan hal yang sama. Jangan sampai segala sesuatu yang di belakang kita begitu mengikat, membelenggu kita dan kemudian melumpuhkan kita untuk mengerjakan apa yang di depan kita, yang kemudian mencegah kita untuk mengakhiri dengan baik/ finishing well.

 

MARI BELAJAR DARI RASUL PAULUS

https://penjalabaja.files.wordpress.com/2013/06/film-rasul-paulus.jpg?w=295

Rasul Paulus bisa dibilang tidak memulai hidupnya dengan baik. Pengenalan yang salah akan Allah A�menyebabkan dia kemudian menjadi teroris agama yang kejam. Mengenai hidupnya dia sendiri mengakui bahwa dia adalah seorang yang ganas. Mari kita dengar pengakuannya:

a�� aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. (1 Timotius 1:13).

a�� Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. (Kisah Para Rasul 26:10).

a�� Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing.a�? (Kisah Para Rasul 26:11)

a��A�Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. (1 Korintus 15:9).

Tapi kemudian dia bisa berkata :

a��A�Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. (1 Korintus 15:10)

a�� Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (Filipi 3:13)A�dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:14).A�Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. (Filipi 3:15)

a��A�Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7).A�Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. (2 Timotius 4:8).

Wow! Luar biasa, bukan? Paulus yang awalnya kacau hidupnya kemudian bisa mengakhiri dengan gemilang. Dan itu semua karena kasih karunia Allah. Kasih yang sama yang juga dimiliki oleh kita orang percaya. Dan jika Paulus yang awalnya tidak baik tapi kemudian bisa mengakhiri dengan baik dan gemilang tentu kita yang juga memiliki kasih karunia Allah bisa melakukannya.

Mari kita merenungkan Ayat:

A�Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.A�Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

(Roma 8:28-29).

Semua yang terjadi dalam hidup kita orang percaya Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Sehingga tidak ada sesuatu yang sia-sia dalam hidup kita. Bahkan segala penyesalan kita sekalipun di masa lalu tidaklah sia-sia karena Allah memakainya untuk kebaikan kita untuk membentuk kita menjadi yang sekarang dan semakin baik yaitu menyerupai Kristus. Segala kelemahan kita di masa lalu justru menjadi suatu sarana di mana kemuliaan dan kuasa Tuhan makin dipancarkan dengan sempurna (2 Kor 12 : 9-10).

Jadi apapun penyesalan kita. Mari bangkit, terus maju dan berdamai dengan masa lalu dan diri kita. Jangan biarkan diri kita terbelenggu oleh masa lalu.
Mari kita seperti Paulus, kini kita serahkan masa depan dan mohon pertolongan-Nya agar kita bisa seperti Paulus mengakhiri dengan baik.

 

Biarlah di akhir hidup kita bisa berkata :A�Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7).

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. (2 Timotius 4:8).

Dan kita bisa mendengar Tuhan berkata di akhir hidup kita : Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21).A�

Ayo, mari kitaA�bangkitA�agar dapatA�finishing well
dengan pertolongan Tuhan.
http://www.goingbeyond.com/sites/default/files/content/157999498.jpg
http://www.goingbeyond.com/sites/default/files/content/157999498.jpg
A�A�