GKY Sunter

Kacamata Allah Bukan Kacamata Kita

 

Rabu, 8 Maret 2016

Bacalah : Kejadian 50:15-21

15 A�A� Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”

16A� Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

17A� Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

18A� Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.”

19A� Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

20A� Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

21A� Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Renungkanlah:

  1. Apa yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf?
  2. Apakah Yusuf memiliki keinginan untuk balas dendam?
  3. Mengapa Yusuf mau mengampuni saudara-saudaranya?

Dalam menjalani hidup ini, tidaklah selalu hal-hal yang menyenangkan yang kita alami. Ada saatnya dimana kita mengalami sesuatu hal yang menyakitkan, menyedihkan bahkan membuat kita menderita. Mungkin kita mengeluh dan marah bukan hanya kepada diri kita atau orang lain bahkan kepada Tuhan. Tetapi pernahkah kita melihat kehidupan kita dengan kacamata Allah? Yusuf mengalami kehidupan yang sulit di masa mudanya. Tetapi ia tetap menjalaninya, ia tetap bersandar dan percaya kepada Allah bahkan ia mengampuni saudara-saudaranya. Mengapa? Karena ia melihat apa yang ia alami dengan kacamata Allah. Dimana pada akhirnya Allah menjadikan semuanya untuk kebaikan.

Lakukanlah : Mari kita berusaha melihat kehidupan kita dengan kacamata Allah, yaitu firman Tuhan. Marilah kita selalu percaya Allahlah yang memegang kendali dan rancangannya adalah rancangan damai sejahtera bukan kecelakaan,

Doa: Mohon Tuhan memberikan kekuatan dan hikmat kepada kita dalam menjalani kehidupan ini.