Kesaksian Amelia Kowinto : 1% TUHAN Yang MenentukanA�

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa setahun telah berlalu sejak operasi yang saya jalani tahun lalu. Saya sudah kembali menjalani rutinitas sehari-hari, bahkan tiga bulan terakhir cukup disibukkan dengan program pemerintah mengenai Tax Amnesty.  Sebagai konsultan pajak, saya pun turut mendukung program ini. Saya menjadi pembicara di seminar di beberapa tempat.  Ruang kerja saya pun berpindah ke ruang-ruang meeting dan cafA�-cafe di mall. Setiap harinya ada begitu banyak klien datang berkonsultasi, bahkan meeting dengan jadwal klien full sampai akhir September 2016.

Rasa capek dan lelah, itu sudah pasti. Akan tetapi, saya berpikir, apa yang dapat saya lakukan untuk bangsa dan Negara, sebagai warga negara yang baik. Saya bukan siapa-siapa. Minimal kali ini saya mendukung program pemerintah, dengan menjelaskan kepada banyak klien, saudara bahkan teman-teman dari luar kota dan di luar daerah mengenai Tax Amnesty. Saya terus beremangat sampai sakit flu, deman, batuk dan suara serak habis, sampai dokter THT meminta saya untuk tidak berbicara dalam beberapa hari. Tapi hati ini terasa senang karena bisa menolong banyak orang “Mengapa harus operasi? Baru setahun yang lalu operasi, tahun ini operasi lagi.” Akhirnya saya memutuskan setelah periode I Tax Amnesty selesai, saya jadwalkan operasi.
Di awal Oktober 2016 saya sudah booking kamar operasi, dokter, dan semuanya. Namun karena kondisi tubuh masih belum fit akibat kelelahan, maka diundur minggu depan. Waktu tidak bisa dicegah. Akhirnya tibalah saatnya saya harus masuk Rumah Sakit. Sehari sebelum operasi dilakukan pengamatan jantung, paru, darah, dll. Karena operasi kali ini bius total bukan bius lokal seperti tahun lalu.   Walaupun ini bukan pertama kali bagi saya, namun kali ini tetap berdebar-debar dan ada perasaan sedikit was-was, karena bius total , dan sebelum operasi ada dokter yang datang, menerangkan agar sebagai pasien harus bersiap hati. Walaupun hasil USG, Mamografi, Biopsi, pemeriksaan dokter menyatakan 99% adalah tidak buruk, namun team dokter akan melakukan persiapan operasi besar, di mana operasi awal 2 jam dilakukan, kemudian dilakukan patologi langsung di ruang oprasi, jika hasilnya bagus maka tumor akan dibuang dan dijahit kembali, akan tetapi hasil tidak bagus, maka operasi akan ditambah 6 jam untuk pengangkatan seluruhnya berikut jaringan-jaringannya. Mendengar itu saya jadi tambah galau, dalam hati hanya dapat berserah sepenuhnya pada TUHAN agar 1% nya lagi hasilnya bagus.

a�? Kadang sebagai manusiapun kita selalu mempersiapkan bahkan melakukan semaksimal mungkin, namun kita harus selalu ingat walaupun 99% manusia bisa lakukan, namun yang menentukan itu 1%, yaitu TUHAN. a�?

Selesai konsultasi, saya dipersiapkan memasuki ruang operasi, namun keluarga hanya boleh menunggu diluar ruang operasi, saya kemudian didorong masuk tanpa satu pun orang yang saya kenal, kecuali saya mengenal sahabat sejati saya yang tidak akan pernah meninggalkanku yaitu TUHAN YESUS,  tetap bersama menemani saya dan saya percaya TUHAN memimpin tangan dokter dan tangan suster yang dengan bijaksana dan tulus menjalankan tugasnya. Saya diinfus, lalu terdengar bunyi : “Tit…tit…tit…” yang merupakan suara detak jantung saya sendiri. Saya bersyukur kacamata saya dilepas sehingga dengan minus yang cukup tinggi membuat saya tidak bisa melihat jelas alat-alat di ruang operasi, membuat hati ini sedikit tenang, dan tidak lama ada alunan suara musik barat dengan irama pelan khas zaman dulu. Dalam hati, saya berdoa : “TUHAN, saya mohon kiranya Engkau sendiri yang menjadi pilot proyek dalam operasi kali ini, dan mohon belas kasihan dari TUHAN agar 1% lagi hasilnya bagus.” Saya bersyukur dengan adanya TUHAN Yesus yang menemaniku membuat saya tenang menghadapi operasi. Tidak lama saya sudah tidak sadarkan diri dan saya yakin operasi segera dijalankan.
a�? Bua�� Bua�� banguna�� operasi sudah selesaia��. a�? terdengar suara suster menepuk saya, namun saya tidak bisa membuka mata hanya bisa dengar percakapan dokter dan suster. Saya merasa mual dan sedikit pusing. Tak lama kemudian, saya mulai siuman dan sangat bersyukur hasil patologi di ruang operasi hasilnya bagus. Hati saya merasa sangat lega sekaligus bersyukur atas belas kasihan TUHAN. “Thanks God, for everything that I never think of, but YOU prepare it all. Now, day by day I can feel recovery in God’s hands.”
Banyak pelajaran penting yang saya dapat takkala TUHAN meminta saya untuk berhenti sejenak. 

1. TUHAN YESUS adalah sahabat sejatiku, tidak pernah meninggalkanku, walau di waktu saya harus sendiri menjalani, tapi dengan ditemani Sahabat Sejati, hati menjadi tenang. Sekali lagi merasakan Firman Tuhan dalam Mazmur 23 : 4 yang berbunyi a�? sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku a�?, yang saya sudah pernah baca sejak kecil begitu nyata hidup dalam hidupku
2. Sebagai manusia walaupun bisa melakukan 99% usaha, namun hasil akhir ditentukan oleh 1% yaitu belas kasihan dan anugerah dari TUHAN



3. Seperti lagu yang pernah saya nyanyikan di masa pemuda : 

“Ada waktunya bekerja, ada waktunya untuk berencana,  kehidupan sekarang akan lalu dan pergi, namun hidup melayani Yesus itu berarti…

Berhenti sejenak, untuk tenang, dan mendengarkan suara  dari TUHAN. Karena seperti dalam Firman Tuhan dikatakan bahwa jika Tuhan berkehendak memberkati umat-Nya, saat tidur pun Tuhan akan memberkati, namun jika tidak, maka percuma bekerja siang malam. Seperti DALAM Mazmur 127 : 2 berbunyi a�? Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur a�?

Soli Deo Gloria,
AiMei