GKY Sunter

Mengapa disebut hari Jumat Agung? Dimanakah Ke Agungannya?

By. GI. Fifi Wijaya

    Kita merayakan hari Jumat Agung dan memperingati secara khusus, bahkan termasuk hari libur dalam kalender kita. Menyebutnya sebagai “Jumat Agung,” tetapi tak seorang pun yang hadir di sana dapat menyebut hari itu “agung.” Justru bukan keagungan yang tampak di salib itu. Ada seorang pria yang begitu sangat dicintai sebagian orang tapi juga dibenci sebagian yang lain.
Suara riuh rendah bercampur makian, tangisan, pujaan, kemarahan, kebencian dan lain-lain mengawal “prosesi” perjalanan-Nya ke kayu salib. Dimanakah keagungannya?
     Dalam Lukas 23:26-56 dikisahkan Yesus dibawa untuk disalibkan. Sudah semalamam melewati persidangan-persidangan yang melelahkan. Ketidakadilan dan ketidakbenaran sangat kental dalam persidangan tersebut karena Pontius Pilatus pun tidak berdaya memutuskan perkara ini. Raja Herodes dan pasukannya bahkan menista dan mengolok-olokkan Dia (Lukas 23:11). Yesus tidak berdaya atas persidangan manusia saat itu. Kemudian Ia dibawa dalam perjalanan memikul salib yang berat. Perjalanan yang melelahkan tubuh-Nya dan sangat menyakitkan hati-Nya. Namun, Yesus sudah siap menjalani seluruh “prosesi” perjalanan menuju ke bukit Golgota. “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ” (Lukas 23:33). Yesus tersalib di kayu yang sesungguhnya diperuntukkan bagi penjahat kelas kakap yang memang patut menerimanya. Sementara Yesus tidak didapati dengan kesalahan apapun pada diri-Nya yang pantas menerima hukuman di salib.
    Orang yang dikenal sebagai Guru Agung sehingga orang- orang takjub pada ajaran-Nya, kini banyak terdiam. Orang yang menengking setan-setan dengan kuasa-Nya, kini tampak lemah lunglai. Orang yang menyembuhkan orang buta, orang timpang, orang lumpuh, bahkan orang mati pun sanggup Ia bangkitkan, kini terkulai di kayu hina. Ia orang paling baik dalam sejarah, terpaku pada salib orang Romawi dan mati di sana.
    Bagi musuh-musuh-Nya hari itu merupakan hari kemenangan. Mereka bersorak karena tujuan mereka menghukum Yesus telah tercapai. Yesus bagaikan duri dalam kenyamanan diri mereka selama ini. Bagi para serdadu hari itu hanyalah sekadar satu lagi hari kerja biasa. Yang tidak biasa adalah Yesus yang mereka cambuk seorang yang sangat mendapat sorotan tajam.
    Namun, bagi pengikut-pengikut-Nya hari itu merupakan hari hancurnya hati mereka, pupusnya harapan yang paling besar dan impian yang paling indah. Dan memang, tidak seorang pun menyebut hari Jumat itu “agung.” Malah mungkin lebih tepat disebut hari “Jumat kelabu” bila kita memisahkannya dengan hari Minggu Kebangkitan. Pengikut-Nya menandai sebagai hari kesengsaraan yang sangat dashyat melihat Yesus yang mereka ikuti selama ini dan mereka kasihi tidak berdaya di kayu salib dan mati di sana. Hari Jumat Kelabu lebih
tepatnya. Hari yang terasa bagaikan lenyaplah harapan atas pribadi yang dapat membawa harapan baru, namun sekarang tanpa tujuan dan arti.
    Namun, kisah Allah tidak berakhir sampai di sana.
    Rencana-Nya atas Anak-Nya tidak selesai sampai di sana.
    Kematian-Nya di kayu salib bukanlah sebuah akhir sampai di sana.
    Perjalanan-Nya tidak berakhir sampai di sana.
    Semua “prosesi” dan langkah-langkah-Nya bukan sampai di sana.
Semua yang dilakukan dengan rela oleh Yesus sedang menggenapkan rencana Allah yang besar, yaitu keselamatan manusia berdosa. Jalan penderitaan memang merupakan jalan berat yang harus ditanggung-Nya. Harus terjadi supaya genaplah semua rencana Allah atas keselamatan manusia.
Dalam bukunya yang berjudul “Idols for Destruction”, Helbert Schlossberg menulis,
“Kita bukanlah penguasa sejarah dan juga bukan pengendali akhir dari kehidupan ini, tetapi
kita memiliki keyakinan bahwa ada Tuhan dalam sejarah kehidupan ini dan Dia
mengendalikan segala sesuatu.
Kita membutuhkan penjelasan secara teologis akan
adanya tragedi, sesuatu yang mengakui bahwa Allah bersedia menjadikan diri-Nya
tawanan, mengalami kekalahan, dan menjalani hukuman salib. Alkitab dapat diartikan
sebagai rangkaian kemenangan Allah yang tersamar dalam bentuk tragedi.” Yesus
telah menang menjalani kesengsaraan, penderitaan yang memberikan penebusan
manusia dari dosa.
Keagungan hari itu adalah dimana Pribadi Yesus, Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:16), telah menyerahkan diri-Nya sebagai ganti harga penebusan untuk murka Allah atas dosa bagi keselamatan manusia.
Pribadi yang Agung menyerahkan diri-Nya di hari Jumat itu, untuk mengerjakan dengan penuh ketaatan didalam penderitaan yang tidak mungkin ada seorang manusia pun sanggup mengerjakannya demi keselamatan manusia. Hari Jumat yang Agung itu adalah hari dimana sebagai manusia sejati, Ia menjalani seluruh “prosesi ke Salib hingga tuntas sampai di atasnya” dan melewati detik demi detik kesengsaraan yang harus ditanggung-Nya demi penebusan dosa manusia. Sehingga semua itu menjadi Agung karena ada PRIBADI yang AGUNG yang mengerjakan semua keselamatan itu.
    Keagungan Yesuslah yang memberikan arti pada hari Jumat yang kita peringati
sebagai hari Jumat Agung. Selamat memperingati hari Jumat Agung. Di dalam hari itu
ada Pribadi yang Agung yang telah memberikan nyawa-Nya demi keselamatan
manusia dari dosa. Percayalah kepada Yesus Kristus, pribadi yang Agung itu agar engkau diselamatkan dari hukuman kekal.
TETAPLAH TEGUH MENGAGUNGKAN DIRI-NYA 
SEMBAHLAH DIA DALAM KEAGUNGAN YANG LAYAK DITERIMA-NYA 

Add comment