GKY Sunter

Modern Hymn Song: In Christ Alone

Apakah yang ada di benak kita, ketika kita mendengar istilah lagu Himne? Mungkin kita akan berpikir bahwa lagu himne adalah lagu pujian yang telah ditulis berabad-abad yang lalu yang tercantum dalam buku KPPK. Well, ternyata itu adalah pandangan yang sempit. Karena ternyata lagu pujian “In Christ Alone”, gubahan Keith Getty dan Stuart Townend ini telah dinobatkan sebagai sebuah pujian himne yang modern di generasi kita.

Apakah yang melatarbelakangi pujian ini? Mari kita simak kisahnya.

Pada Tahun 2000, saya duduk dengan Stuart Townend untuk sebuah sesi penulisan lagu kami yang pertama. Kami akhir-akhir ini diperkenalkan dan didorong untuk berkolaborasi sebagai seniman musik. Kekuatan Stuart adalah dalam kemampuan yang luar biasa dalam menulis lirik, Sementara saya dalam mengubah melodi. Meskipun demikian kami menikmati kebebasan untuk mengemukakan pendapat dalam masing-masing karya. Dalam diskusi kami, saya berpendapat bahwa pujian ini akan diberi judul “In Christ Alone”. Stuart telah menuliskan lirik yang luar biasa yang merupakan garis besar dari pesan Injil. Ini adalah lagu pertama yang kami tulis bersama.

Saya percaya bahwa lirik lagu “In Christ Alone”menggambarkan kebenaran Theologi tentang kehidupan, kematian dan kekuatan Kristus yang menyelamatkan melalui pengorbanan kematiannya di kayu salib. Meskipun demikian lagu ini lebih dari pelajaran Theologi.A�Sebagaimana kita menyanyikan himne di gereja, kita telah menyaksikan gairah dan emosi itu membangkitkan. Saya pikir itulah yang membuat lagu itu sangat diingat.

In more than a decade now of writing modern hymns together, Stuart and I continue to receive feedback about the effect of a�?In Christ Alone.a�? We’re amazed and humbled by the way this hymn seems to have connected with so many people on their Christian journey. Hearing how the song has helped others hold fast to Christ, often in times of great crisis and pain, is deeply meaningful and encourages us to continue writing. Believers are hungry to celebrate truth put to music, and Stuart and I are grateful to have played a small part in helping facilitate such opportunities for the church.

Dalam perjalanan lebih dari sepuluh tahun menulis lagu himne yang modern bersama, Stuart dan saya terus menerima tanggapan dari efek “In Christ Alone”. Kami terkagum-kagum dengan bagaimana lagu ini menghubungkan dengan begitu banyak orang dalam perjalanan iman mereka. Mendengar bahwa pujian ini telah menolong A�umat untuk berpegang teguh pada Kristus, terutama ketika dalam krisis dan sakit yang berat, sungguh telah begitu mendorong kami untuk terus menulis lagu. Umat percaya begitu lapar untuk merayakan kebenaran didalam musik. Saya dan Stuart sangat bersyukur dapat memainkan peranan kecil dalam menjadi fasilitas untuk gereja Tuhan dalam hal tersebut.

 

In Christ alone my hope is found; (Hanya di dalam Kristus harapan saya ditemukan)
He is my light, my strength, my song; (Dia adalah terang saya, kekuatan saya, dan pujian saya)
This cornerstone, this solid ground, (batu penjuru ini, tanah yang padat ini)
Firm through the fiercest drought and storm. (teguh melewati kekeringan dan badai)
What heights of love, what depths of peace, (Betapa tingginya kasih, betapa dalamnya kedamaian)
When fears are stilled, when strivings cease! (Ketika ketakutan ditenangkan, ketika pergumulan berhenti)
My comforter, my all in alla�� (Penghiburku, Segalanya bagi saya)
Here in the love of Christ I stand. (Disini dalam kasih Kristus saya berdiri)

In Christ alone, Who took on flesh, (Hanya di dalam Kristus, Yang mengambil rupa manusia)
Fullness of God in helpless babe! (Sepenuhnya Allah namun dalam ketidakberdayaan)
This gift of love and righteousness, (Hadiah akan kasih dan kebenaran ini)
Scorned by the ones He came to save.(direndahkan orang-orang. Dia datang A�untuk menyelamatkan)
Till on that cross as Jesus died, (Sampai pada salib itu Yesus mati)
The wrath of God was satisfied; (murka Allah telah dipuaskan)
For ev’ry sin on Him was laida�� (Setiap dosa ditimpakan kepada-Nya)
Here in the death of Christ I live. (Disini dalam kematian Kristus aku hidup)

There in the ground His body lay, (Pada tanah tubuh-Nya terbaring)
Light of the world by darkness slain; (Terang dunia terbunuh oleh kegelapan)
Then bursting forth in glorious day, (kemudian bangkit di hari penuh kemuliaan)
Up from the grave He rose again! (Bangkit dari kubur)
And as He stands in victory, (dan Dia berdiri dalam kemenangan)
Sin’s curse has lost its grip on me; (Kuasa dosa telah dipatahkan dari saya)
For I am His and He is minea�� (karena saya adalah milik-Nya dan Dia milik saya)
Bought with the precious blood of Christ. (dibeli oleh darah Kristus yang mahal)

No guilt in life, no fear in deatha�� (tidak ada perasaan bersalah dalam hidup, tidak ada ketakutan dalam kematian)
This is the pow’r of Christ in me; (inilah kuasa Kristus dalam saya)
From life’s first cry to final breath, (dari tangisan hidup pertama sampai nafas terakhir)
Jesus commands my destiny. (Yesus memimpin takdir saya)
No pow’r of hell, no scheme of man,(tidak ada kuasa maut, tidak ada rencana manusia)
Can ever pluck me from His hand; (yang dapat memisahkan saya dari tangan-Nya)
Till He returns or calls me homea�� (sampai Dia kembali memanggil saya pulang)
Here in the pow’r of Christ I’ll stand.(dalam kuasa Kristus inilah saya akan berdiri)

Keith Getty on What Makes ‘In Christ Alone’ Accepted and Contested