GKY Sunter

Rangkuman Persekutuan Pasutri 17 Maret 2017: “Selamat Ribut Rukun”

SELAMAT RIBUT RUKUN

Oleh: Ev. Michael Christian, M.A., M.Psi, Psikolog

Disunting : G.I. Emanuel Cahyanto, M.M., M.Th. (Konseling)

Banyak masalah yang dapat kita temukan dalam kehidupan ini, misalnya berbagai problem keluarga yang menyulitkan setiap anggota keluarga, adiksi terhadap obat-obat terlarang, maupun berbagai adiksi lainnya, orientasi seksual yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, dan masalah yang terkait dengan jaringan on line ataupun komunikasi serta relasi of line. Selain itu, belakangan ini marak dijumpai kebiasaan Melukai Diri Sendiri (MDS / Self Injury), yang menjadi sarana untuk mendapatkan kelegaan di kala seseorang merasa gelisah. Mereka yang melakukan MDS tidak bermaksud untuk menarik perhatian dari orang lain, tetapi memperoleh kepuasan dan melepaskan ketegangan yang dirasakan karena berbagai persoalan yang dihadapi.

Apabila ditelusuri dengan mendalam, maka didapati bahwa akar dari banyak masalah dalam hidup, termasuk hal-hal yang tertulis di atas, adalah pada relasi yang tidak baik di dalam keluarga. Sebagai contohnya, seorang anak lelaki yang dibesarkan oleh ayah yang suka memukul dan seringkali absen dalam kehidupan anak tersebut, akan berkembang menjadi individu yang haus akan kasih sayang dari seorang pria yang mengasihi dan mampu melindunginya. Ketiadaan figur ayah sebagai pengasuh dalam masa pertumbuhan dapat menyebabkan sang anak mengembangkan orientasi seksual kepada sesama jenis. Contoh lainnya, pengalaman-pengalaman traumatis yang dialami oleh banyak orang sebenarnya mengakar pada pengalaman di dalam keluarga. Melihat, mendengar, bahkan merasakan kekerasan yang dilakukan oleh ayah kepada ibu dapat mengakibatkan seorang anak memiliki ketakutan tersendiri untuk menjalin kedekatan relasi dengan lawan jenis di kemudian hari.

Pentingnya peran keluarga terhadap masa perkembangan anak dapat diungkapkan melalui sebuah teori perkembangan psikososial yang diperkenalkan oleh Erik Erikson. Teori ini menjelaskan bahwa setiap anak bertumbuh melalui tahap-tahapan, yang mana perkembangan di tahap sebelumnya akan menentukan apa yang terjadi pada perkembangan di fase berikutnya. Erikson menyatakan setiap anak sejak masa kelahiran hingga usia 18 bulan, memiliki dua kemungkinan, yaitu mengembangkan trust atau mistrust. Perasaan trust akan ia alami apabila sang anak mendapatkan respons yang semestinya dari orang tua. Pola pengasuhan yang memberikan kehangatan dan dilakukan dengan sewajarnya menumbuhkan perasaan dalam diri anak bahwa orang lain dapat ia percaya, serta memberikan rasa aman. Akan tetapi, apabila orang tua memberikan tanggapan yang tidak tepat, contoh mengabaikan anak, memarahi, bersikap dingin, maka anak justru mengalami mistrust.

http://www.kontakperkasa-f.com/wp-content/uploads/2016/07/Jutaan-Manfaat-Pelukan-Orang-Tua-Untuk-Pisikologis-Anak.jpg

Seorang anak yang mempunyai trust, akan dapat menumbuhkan otonomi dari orang tua di tahap usia 18 bulan hingga tiga tahun. Tumbuhnya otonomi itu tidak terlepas dari pengasuhan orang tua yang tepat, yakni tidak mengacuhkan anak, tidak otoriter, tidak melakukan kekerasan, tetapi juga tidak memanjakan anak. Pola asuh yang terbaik adalah menghadirkan kehangatan, dan secara seimbang memberikan tuntutan, serta pendisiplinan yang sesuai dengan taraf perkembangan usia anak.A� Nah… ketika seorang anak berhasil memiliki sense of autonomy, maka dalam perkembangan selanjutnya, ia akan mengembangkan inisiatif A�di usia tiga hingga lima tahun, lalu kesadaran bahwa ia mampu untuk menghasilkan hal yang bermakna dalam hidupnya, atau sense of industry, di level usia lima hingga 12 tahun. Hal-hal baik yang telah dialami dalam fase pertumbuhan dari bayi hingga masa kanak-kanak, akan menjadi modal untuk dirinya menemukan jati diri di masa remaja, dan untuk memupuk kedekatan relasi yang sehat dengan lawan jenis di tahapan dewasa.

http://www.tipsanakbayi.com/wp-content/uploads/2014/01/anak-pemalu2.jpg

Namun, seorang anak yang mengalami mistrust, tidak dapat mencapai otonomi, melainkan tumbuhlah perasaan malu dan ragu-ragu (shame / doubt) dalam dirinya. Berikutnya, dari rasa malu dan ragu-ragu, alih-alih memiliki inisiatif, anak itu justru memikul perasaan bersalah, sebab inisiatif yang ia tunjukkan diresponi dengan kritikan atau hardikan dari orang tua. Berdasarkan apa yang terjadi dalam masa perkembangan sebelumnya seperti tertulis di atas, seorang anak yang mengawali masa hidupnya dengan perasaanA� mistrust, pada tahap usia sekolah dasar akan menjadi pribadi yang merasa inferior dibandingkan rekan-rekan sebayanyanya. Sense of inferiority tersebut menghambat proses menemukan jati diri, maka ia akan kebingungan terhadap peran yang semestinya di fase remaja, dan kemudian, menimbulkan berbagai kendala untuk memupuk keintiman relasi dengan lawan jenis di masa pemuda. Bukanlah kedekatan relasi yang ia nikmati di masa mendatang, melainkan perasaan terisolasi yang lebih memenuhi sanubarinya.

Dengan memperhatikan uraian di atas, maka relasi di antara suami dan istri dalam keluarga dapat memberikan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan anak. Oleh sebab itu, pernyataan berikut ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua: a�?Allah mungkin mempercayakan orang-orang tertentu untuk kita layani dalam hidup, seperti anggota gereja, rekan-rekan seiman di sekeliling kita. Akan tetapi Allah pasti mempercayakan suami / istri dan anak-anak untuk kita layani.a�? Tidak lagi dapat disangkal bahwa relasi di antara suami dan istri haruslah dipupuk dengan baik.

fruit of spirit

Modal yang terutama untuk memupuk relasi adalah kasih, dalam hal ini adalah kasih agape, yang merupakan bagian dari buah Roh, dan hanya mungkin dimiliki oleh manusia yang ada di dalam Kristus. Kehadiran kasih agape memberikan kepastian dalam relasi suami istri, dan menjadi landasan penting untuk memupuk trust. Mengapa? Sebab setiap orang yang memiliki kasih agape, semestinya dapat memanifestasikan karakteristik seperti dituliskan di 1 Korintus 13:4-7. Apabila suami dan istri dapat melatih ekspresi dari kasih agape yang ada di 1 Korintus 13:4-7 itu, maka relasi yang sehat juga membangun dalam keluarga adalah sebuah keniscayaan. Penjabaran yang diungkapkan oleh Paulus tersebut menjadi modal bagi suami dengan istri untuk mengelola konflik dengan keyakinan bahwa segala sesuatu akan berakhir pada kebaikan untuk seluruh keluarga. Artinya, konflik tidak akan menjadi sarana mencari kepuasan pribadi, ataupun dikelola dengan sembrono, melainkan diupayakan untuk menghasilkan pertumbuhan bagi seluruh anggota keluarga.

Oleh sebab itu, maka dibutuhkan kemauan untuk menjadi bijaksana dalam berkata-kata, berpikir, mengekspresikan perasaan, dan dalam bertingkah laku di dalam keluarga. Kemauan ini dapat terwujud bila bertolak dari kesadaran bahwa semua yang terjadi dalam relasi di antara suami dan istri menentukan banyak hal dalam diri suami / istri itu sendiri, dan juga anak-anak dalam keluarga.