Renungan Menjelang Menutup Tahun 2018

By. Jimmy Cahyadi

 “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya…”

2 Tim 4 : 7-8 :

 

Tidak terasa kita sudah berada kembali di penghujung akhir tahun 2018. Dan akhir tahun adalah suatu waktu yang baik, di mana kita bisa kembali mengingat dan merenungkan apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun 2018.

Kita akan belajar dari Rasul Paulus dalam 2 Tim 4 : 7-8. Surat Paulus yang kedua kepada Timotius ini ditulis ketika Paulus di penjara yang kedua kalinya di Roma. Berbeda dengan pemenjaraan-nya yang pertama, di mana Paulus berada dalam suatu penjara rumah (Kis 28:16). Kali ini Paulus di usia yang ke-62 tahun berada dalam suatu penjara bawah tanah yang dingin, di bawah pemerintahan kaisar Nero. Surat ini ditulis Paulus di sekitar tahun 67/68M dan merupakan saat-saat akhir hidup Paulus setelah dia mengikut Yesus selama sekitar 32-33 tahun.

 

Menarik mencermati kata-kata Paulus di saat-saat akhir hidupnya ini. Paulus bisa berkata dengan yakin bahwa Dia telah mengakhiri pertandingan yang baik dan telah mencapai garis akhir dan telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia mahkota kebenaran baginya dari Tuhan. Hal ini berarti dia memiliki keyakinan bahwa dia telah melakukan tugas yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya dengan baik dan kini ia telah siap bertemu dengan Tuhan, sang Tuan pemberi tugas itu. Bagaimana Paulus bisa memiliki keyakinan seperti ini di saat-saat akhir hidupnya?
Paulus bisa memiliki keyakinan seperti ini karena dia telah bertanggung jawab dalam menggunakan setiap waktu, kesempatan, talenta yang telah Tuhan percayakan kepada-nya dengan sebaik-baiknya, sejak dia percaya kepada Yesus. Hal ini dibuktikan dengan:

  1. Paulus telah menguasai diri-nya dalam segala hal dan telah melayani Tuhan dengan tidak sembarangan dan dengan perencanaan yang baik (1 Kor 9:26-27).
  2. Paulus telah bekerja keras di dalam kasih karunia Allah untuk melayani Tuhan (1 Kor 15:10).
  3. Paulus telah memperhatikan dengan seksama bagaimana dia hidup. Dia telah mempergunakan setiap waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk mempertanggungjawabkan setiap tugas, talenta, karunia yang dipercayakan Tuhan kepadanya (Kis 26:19; Ef 5:15-18).
SiapKAH JIKA Tuhan Panggil?

Hal ini yang menyebabkan Paulus siap kembali kepada Tuhan di akhir hidupnya kapanpun dia dipanggil Tuhan. Dalam surat-nya kepada Jemaat di Filipi, dia pernah menyatakan bahwa dia saat itu sebenarnya sudah ingin pergi dan diam bersama dengan Kristus, tetapi dia tetap ingin tinggal di dunia demi orang-orang yang dilayani-nya. (Fil 1:23-24).

Bagaimana dengan kita? Apakah kita siap ketika Tuhan memanggil kita saat ini? Jangan pernah berpikir bahwa karena kita masih muda, maka kita masih punya banyak waktu. Tidak ada yang benar-benar tahu kapan Tuhan memanggil kita. Kita sudah sering mendengar akhir-akhir ini ada begitu banyak bencana alam yang datang secara tiba-tiba, seperti tsunami di Pantai Carita, Anyer. Tuhan bisa saja memanggil kita pulang kapan saja, tidak memandang usia.

Ketika kita sudah percaya Yesus sungguh-sungguh, tentu kita telah diselamatkan. Tetapi ketika kita sudah diselamatkan namun kita lalai dalam melakukan dan mempertanggungjawabkan setiap tugas, talenta, karunia yang Dia percayakan kepada kita untuk dilakukan, kita tentu akan bertemu Tuhan dengan rasa malu. Malu karena kita telah begitu malas, lalai dalam menggunakan setiap waktu dan kesempatan yang telah Dia berikan. Malu untuk mempertanggungjawabkan setiap tugas, talenta, karunia yang telah Dia percayakan kepada kita untuk dilakukan. Padahal kasih-Nya sudah begitu besar bagi kita dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal mati di atas kayu salib bagi kita, untuk memberikan hidup yang kekal kepada kita.

Maukah kita bertemu Tuhan tanpa rasa malu? Maukah kita menghargai kasih-Nya yang telah begitu besar bagi kita dengan cara menggunakan setiap waktu dan kesempatan yang ada dan tidak menunda-nunda untuk melakukan setiap talenta, tugas, karunia yang Dia percayakan kepada kita untuk dilakukan?

Ambil Tindakan Nyata

Kita dapat melakukan hal ini dengan :

  1. Berdoa dan bertanya kepada Tuhan, apa kehendakNya atas hidup kita? Apakah yang Dia kehendaki untuk kita lakukan dengan hidup kita? Kita hendaknya bertanya hal ini bukan sekedar basa-basi, tetapi dengan tulus dan sungguh menanyakan hal ini, maka Tuhan akan menyatakan kehendakNya atas hidup kita. Kita dapat melakukan hal ini dalam Saat Teduh kita setiap hari dengan Tuhan.
  2. Berdoa minta kekuatan kepada Dia untuk dapat melaksanakan kehendakNya tersebut tanpa menunda-nunda atau membuat alasan-alasan untuk tidak melakukan kehendakNya.
  3. Mulai mengatur prioritas dan waktu kita dengan hikmat yang dari Tuhan. Kita lakukan hal-hal yang menjadi prioritas lebih dahulu, yaitu hal-hal penting yang kita tahu Tuhan ingin kita lakukan. Setelah itu baru kita lakukan hal-hal yang lain. Sebagai contoh, saya tahu Tuhan ingin saya menulis renungan ini dalam liburan saya, maka saya bersegera untuk mengatur waktu menulis renungan ini. Sesudah itu saya baru melakukan hal-hal yang lain, yang ingin saya lakukan dalam liburan, misalnya menonton film atau main games ☺. Aturlah prioritas dan waktu juga dengan memperhatikan keseimbangan antara berbagai aspek dalam hidup kita misalnya antara waktu pribadi dengan Tuhan dan waktu dengan keluarga dan teman, antara bekerja dan beristirahat, antara aspek fisik dan rohani, dsb.
  4. Mengevaluasi dengan bertanya lagi kepada Tuhan apakah yang kita lakukan sudah selaras dengan kehendak-Nya. Apakah ada yang kurang? Adakah yang perlu diperbaiki? Atau adakah hal lain yang Dia ingin kita lakukan selanjutnya? Atau saat ini Dia hanya ingin kita berdiam dan beristirahat di dalam Dia? Kita kembali dapat meminta pimpinan Tuhan dalam hal ini dengan bertanya kepada Tuhan dalam doa, dalam saat teduh kita setiap hari dengan Tuhan. Demikian seterusnya.

Biarlah kita mulai saat ini bertekad dalam kasih karunia Tuhan dan dengan pertolongan Roh Kudus untuk mau mempergunakan waktu dan kesempatan yang masih Dia berikan, untuk mempertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya setiap tugas, talenta, karunia yang Dia percayakan kepada kita untuk kita lakukan. Biarlah ini bisa menjadi resolusi kita di tahun baru ini bagi Tuhan. Amin