GKY Sunter

(Ringkasan Kotbah PD Rabu) Komunitas yang Mendamaikan

a��by. Pdt. Irwan Hidayat

Efesus 4:31-32 (TB) A�Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Ada perbedaan antara kerumunan orang banyak, misal: kerumunan orang nonton konser musik. Mereka tidak saling kenal. Mereka berkumpul hanya karena memiliki interest yg sama. Mereka akan bubar setelah konser selesai

Komunitas berbeda dengan kerumunan. Komunitas memiliki kekerikatan dan tidak terbatas pada sebuah event layaknya sebuah kerumunan. Misalnya kerumunan nonton Konser, yang akan membubarkan diri seusai konser. Mereka tidak memiliki ikatan apapun. Berbeda dengan gereja yang sekalipun telah usai ibadah, tetapi tetapi mereka tetap memiliki ikatan antara satu dengan yang lain. A�Karena gereja adalah komunitas yang memiliki ikatan, maka masalah yang muncul akan konflik jauh lebih kompleks daripada kerumunan.

Itu sebabnya Tuhan Yesus berdoa agar gereja menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Pada Mazmur 131 adalah janji berkat Tuhan pada komunitas yang hidup dengan rukun.

Surat Efesus ditulis bukan karena ada masalah yang pelik di kota Efesus. Bisa dikatakan Kitab Efesus adalah nasehat yang diberikan pada gereja pada umumnya.

Paulus menasehatkan agar semua hal yang negatif ini (kegeraman, pertikaian, dll) dibuang dari gereja. Tetapi marilah kita ramah kepada satu dengan yang lain.

1. Komunitas yang ramah.

Ramah bukan sekedar berbicara lembut, atau saling bertegur sapa, atau ringan tangan senang membantu. Ramah sesungguhnya berarti (Krestoi) kebaikan yang merupakan lawan dari kegeraman, pertikaian,dsb. Krestoi itu adalah sikap Kristus yang tidak terburu-buru menghajar atau menghukum manusia, tetapi Kristus berbelas kasihan dan memberikan kesempatan pada manusia untuk bertobat.

Dengan demikian ramah diartikan agar gereja bersikap baik terhadap orang-orang yang juga menyakiti dan bersalah pada kita juga pada mereka yang jatuh dalam dosa. Ironisnya, yang paling sering kali gereja lakukan pada orang yang jatuh dalam dosa adalah menggosipkan bahkan menyerang dan menelanjanginya. Sepertinya ada kepuasan jika kita dapat menelanjangi dosa orang lain. Ada pula yang berdiri di atas kesalahan orang lain untuk menjadi dasar bagi kita berbangga pada diri sendiri bahwa kita lebih baik daripada orang tersebut itu.

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, apakah yang pertama kali kita lakukan ketika melihat saudara kita jatuh ke dalam dosa? Adakah kita memiliki hati Kristus yang berbelas kasihan dan memberi kesempatan kepadanya untuk bertobat.

2. Komunitas yang penuh kasih mesra.

Kasih mesra yg dimaksudkan oleh Paulus adalah

Matius 9:36 (TB) A�Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Kata tergerak diatas berasal dari spagna. Seperti ada organ tubuh yang ingin keluar dari dalam dirinya.

Kata yang sama dipakai Paulus dalam mengartikan kasih mesra. Dengan demikian maksud Paulus hendaklah kita merasa prihatin dan menangis ketika melihat saudara kita jatuh ke dalam dosa. Kita rindu melihat saudara kita itu untuk lepas dati dosa dan kerinduan untuk menolongnya lepas dari dosa dan masalah itu.

3. Komunitas yang mengampuni. Kualitas pengampunan yang diminta adalah sebagaimana seperti Kristus sudah mengampuni kita. Allah mengampuni kita freely, secara cuma-cuma, tanpa syarat. Generously( murah hati), whole heartedly (penuh hati), spontaniously ( tidak menunggu), eagerly(begitu merindukan untuk mengampuni)

Semua hal ini adalah PR kita sebagai gereja yang telah berusia 30 tahun. Marilah kita mengintrospeksi diri, sudahkan kita melakukan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki bagi gereja-Nya?